"WNI Muslim Terpaksa Makan Babi " Terjebak Scam Neraka Kamboja:   Netti Herawati WartaGlobal Bongkar Jebakan Perekrut - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

Top Ads

Dirgahayu RI
🎉Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah banjir dan longsor di Sumatra. Semoga keluarga korban diberi ketabahan dan kekuatan. 🎉

More News

logoblog

"WNI Muslim Terpaksa Makan Babi " Terjebak Scam Neraka Kamboja:   Netti Herawati WartaGlobal Bongkar Jebakan Perekrut

Wednesday, March 11, 2026


Tapsel, 11/3/2026, RedMol, id
Simak ceritanya, Bang. Seruput dulu kopinya pelan-pelan. Biar hati agak kuat mendengarnya.

Pagi itu sebenarnya biasa saja. Saya duduk santai di kursi, HP di tangan, kopi di gelas. Suasana tenang seperti pagi yang tidak punya rencana membuat kaget siapa pun. Lalu tiba-tiba masuk panggilan WhatsApp dari Ito Netti.
Kami orang Tapanuli memang begitu. Kalau sudah merasa dekat, panggilannya “Ito”. Dalam bahasa Batak, Ito itu saudara beda jenis kelamin. Jadi walaupun tidak lahir dari satu ibu, rasanya tetap seperti keluarga sendiri.

Awalnya saya kira Ito hanya ingin cerita kabar biasa dari luar negeri. Mungkin soal makanan yang aneh-aneh, cuaca yang dingin, atau foto jalan-jalan di tempat wisata. Biasanya kalau orang dari luar negeri mengirim cerita, isinya ringan. “Salam dari pantai, cuacanya cerah,” begitu kira-kira.

Tapi kali ini tidak.

Ito baru pulang dari Phnom Penh, Kamboja. Ia datang ke sana bukan untuk liburan atau berburu foto matahari terbenam. Ia datang untuk investigasi. Kebetulan Ito Netti, atau Netti Herawati, adalah jurnalis dari Warta Global. Dan cerita yang ia kirim membuat kopi di tangan saya tiba-tiba terasa jauh lebih pahit dari biasanya.

Di sana, katanya, ada ribuan Warga Negara Indonesia yang terjebak dalam jaringan penipuan daring—online scam.
Awalnya mereka direkrut dengan janji yang manis sekali. Kerja di perusahaan digital, kantor bagus, gaji besar, hidup mapan. Bagi banyak anak muda di kampung, janji seperti itu terdengar seperti tiket menuju hidup yang lebih baik. Seperti pintu yang terbuka lebar menuju masa depan.

Tapi ternyata yang menunggu di ujung perjalanan bukan kantor impian. Melainkan jebakan.

Banyak dari mereka dipaksa bekerja menipu orang lain lewat internet. Targetnya korban di berbagai negara. Kalau tidak mencapai target, ada yang mengaku mendapat tekanan, ancaman, bahkan kekerasan.

Yang paling membuat hati miris adalah kondisi hidup mereka.

Bayangkan berada di negeri asing tanpa keluarga, tanpa uang cukup, dan tanpa tempat yang benar-benar aman. Ada yang kekurangan makanan. Ada yang tidur di tempat umum. Ito bahkan bercerita tentang beberapa perempuan WNI yang sedang hamil tetapi hidup dalam keadaan sangat serba kekurangan.

Lebih ironis lagi bagi sebagian WNI yang beragama Islam. Karena kondisi ekonomi sangat sempit, mereka terpaksa makan apa yang paling murah di sana. Dan sering kali itu adalah daging babi. Bukan karena mereka ingin, tetapi karena tidak ada pilihan lain.

Saya mendengar cerita itu sambil diam cukup lama.

Angkanya juga bukan kecil. Sekitar 5.264 WNI sudah melapor ingin pulang ke Indonesia. Tetapi sampai awal Maret 2026, yang berhasil dipulangkan baru sekitar 1.252 orang.

Ibarat antre nasi Padang, yang makan baru satu meja. Ribuan lainnya masih berdiri sambil pegang piring.

Padahal pemerintah Kamboja sudah memberi keringanan denda bagi 2.884 WNI yang overstay. Tapi urusan pulang ternyata tidak sesederhana membeli tiket bus malam. Ada proses verifikasi panjang, termasuk penyelidikan dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Yang agak ironis, sekitar 3.595 orang bahkan sudah dinyatakan bukan korban TPPO. Tapi proses kepulangannya tetap berjalan lambat. Pelan sekali. Seperti kura-kura yang sedang berhenti sebentar untuk berpikir ke mana arah jalan.

Karena itulah Netti akhirnya menulis surat terbuka pada 7 Maret 2026 kepada DPR RI, khususnya Komisi III. Bukan untuk mengeluh, tetapi untuk mengetuk pintu negara.
Ia meminta DPR segera memanggil Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar RI di Phnom Penh. Tujuannya sederhana tapi penting: mempercepat penyelamatan dan pemulangan para WNI itu.

Netti Herawati juga mendorong pembentukan satuan tugas untuk menindak perekrut ilegal di Indonesia, sebelum lebih banyak orang tertipu janji pekerjaan palsu.
Sebagai jurnalis investigasi, Ito bahkan siap membuka bukti-bukti yang ia kumpulkan di lapangan jika DPR ingin mendengarnya.

Saya mendengar ceritanya sambil menatap sisa kopi di gelas.

Di kepala saya hanya ada satu bayangan: ribuan orang Indonesia di negeri asing, menunggu pulang.

Mungkin dulu mereka berangkat dengan mimpi sederhana. Ingin membantu orang tua, membangun rumah di kampung, atau sekadar mencari hidup yang sedikit lebih baik.

Sekarang mimpi itu mengecil menjadi satu harapan saja.
Pulang.

Dan seperti kata Netti, waktu terus berjalan. Alarm sudah dibunyikan keras-keras.

Tinggal kita lihat, apakah negara segera bangun… atau masih menekan tombol “tunda sebentar.”