65 Persen Hubungan Tidak Harmonis? Komunikasi Buruk dan Pikiran Tertutup Jadi Alarm - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

IKLAN GAMBAR

ADS

Memuat berita...

More News

logoblog

65 Persen Hubungan Tidak Harmonis? Komunikasi Buruk dan Pikiran Tertutup Jadi Alarm

Tuesday, September 15, 2026


Poto Istimewa 

Jakarta – WartaGlobal.Id

Hubungan yang awalnya dibangun dengan rasa percaya, perhatian dan komitmen dapat berubah menjadi ruang konflik ketika komunikasi mulai kehilangan kualitas.

Dalam berbagai pembahasan mengenai relasi pasangan, komunikasi yang buruk kerap ditempatkan sebagai salah satu faktor utama yang memicu ketidakharmonisan. Dalam pernyataan yang dikaitkan dengan dr. Boyke, persoalan komunikasi dan keterbukaan menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan ketika hubungan mulai mengalami keretakan.

Angka 65 persen yang kerap beredar dalam pembahasan publik mengenai hubungan tidak harmonis perlu dibaca secara hati-hati. Angka tersebut tidak dapat serta-merta disebut sebagai hasil tunggal dari satu riset ilmiah global. Namun, penelitian akademik mengenai pasangan memang menunjukkan adanya hubungan kuat antara pola komunikasi negatif, konflik dan kepuasan hubungan.

Bukan Sekadar Tidak Bisa Bicara

Komunikasi buruk bukan hanya persoalan pasangan yang jarang berbicara.

Masalah yang lebih serius justru muncul ketika komunikasi berubah menjadi saling menyalahkan, meremehkan, menghindar, memendam masalah, membaca pikiran pasangan secara sepihak, atau berbicara tanpa benar-benar mendengarkan.

Penelitian terhadap pasangan menunjukkan bahwa interaksi negatif berkaitan dengan kualitas hubungan yang lebih rendah dan meningkatnya potensi perceraian. Bahkan, penelitian tersebut menemukan bahwa cara pasangan bertengkar dapat lebih berkaitan dengan potensi perceraian dibandingkan topik pertengkarannya.

Artinya, persoalan bukan selalu tentang apa yang diperdebatkan, tetapi bagaimana pasangan menghadapi perbedaan tersebut.

Pikiran Tertutup Memperbesar Jarak

Faktor kedua yang tidak kalah penting adalah pola pikir yang tertutup.

Ketika seseorang merasa selalu paling benar, tidak bersedia mendengar perspektif pasangan, atau menganggap perbedaan pendapat sebagai bentuk serangan, komunikasi kehilangan fungsi dasarnya.

Hubungan kemudian berubah menjadi arena mempertahankan ego.

Dalam perspektif psikologi hubungan, kemampuan memahami sudut pandang pasangan menjadi salah satu elemen penting dalam menghadapi konflik. Riset terbaru mengenai perspective-taking dalam konflik pasangan juga menempatkan proses memahami perspektif pasangan sebagai bagian penting yang berkaitan dengan pengalaman positif dan kepuasan hubungan.

Data Ilmiah Memberi Catatan Penting

Riset longitudinal terhadap pasangan menunjukkan bahwa ketika komunikasi negatif meningkat, kepuasan hubungan juga cenderung berada pada tingkat yang lebih rendah. Namun penelitian tersebut juga memberikan catatan penting: hubungan antara komunikasi dan kepuasan tidak sesederhana hubungan sebab-akibat satu arah.

Dengan kata lain:

Komunikasi buruk dapat memperburuk hubungan, tetapi hubungan yang sudah bermasalah juga dapat menghasilkan komunikasi yang semakin buruk.

Inilah lingkaran yang sering tidak disadari pasangan.

Konflik muncul → komunikasi memburuk → kepercayaan menurun → pasangan semakin defensif → komunikasi semakin keras → konflik kembali terjadi.

Jika siklus ini dibiarkan, hubungan dapat memasuki fase kelelahan emosional.

Bukan Hanya Soal Cinta

Penelitian meta-analisis terhadap 64 studi dan 5.071 pasangan menemukan bahwa perilaku bermusuhan dalam konflik berkaitan secara kuat dengan rendahnya kepuasan hubungan. Sebaliknya, pemecahan masalah dan keintiman berkaitan dengan kepuasan hubungan yang lebih baik.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan sehat bukan berarti hubungan tanpa konflik.

Pasangan yang sehat tetap dapat berbeda pendapat. Yang membedakan adalah kemampuan mengelola konflik.

Ketika Diam Bukan Lagi Kedamaian

Diam dalam hubungan juga perlu dibedakan.

Ada diam untuk menenangkan diri.

Tetapi ada pula diam sebagai bentuk hukuman, menghindari masalah atau memutus komunikasi.

Penelitian mengenai komunikasi dan konflik menemukan bahwa withdrawal atau menarik diri dalam konflik berkaitan dengan lebih banyak interaksi negatif dan lebih sedikit koneksi positif dalam hubungan.

Karena itu, kalimat “saya diam supaya tidak bertengkar” belum tentu berarti hubungan sedang baik-baik saja.

Bisa jadi konflik hanya dipindahkan dari ruang percakapan ke ruang batin.

Catatan Jurnalis

Persoalan hubungan tidak boleh disederhanakan menjadi “kurang cinta”.

Ada persoalan komunikasi.

Ada persoalan ego.

Ada persoalan keterbukaan.

Ada persoalan kemampuan mendengar.

Dan ada persoalan bagaimana dua manusia menghadapi perbedaan tanpa menjadikan pasangan sebagai musuh.

Angka 65 persen boleh menjadi alarm dalam diskursus publik, tetapi jurnalisme dan sains tidak boleh memperlakukan angka tanpa metodologi sebagai fakta mutlak.

Yang jauh lebih kuat secara ilmiah adalah konsistensi temuan bahwa komunikasi negatif dan pola konflik destruktif berkaitan dengan rendahnya kualitas hubungan.

Maka pertanyaan pentingnya bukan lagi:

“Siapa yang paling benar?”

Tetapi:

“Apakah kedua pihak masih mampu mendengar, memahami dan menyelesaikan masalah tanpa saling menghancurkan?”

Sebab hubungan sering kali tidak runtuh karena satu pertengkaran besar.

Ia runtuh perlahan ketika dua orang berhenti berbicara dengan jujur, berhenti mendengar dengan terbuka, dan mulai mempertahankan ego masing-masing.

Karya Jurnalis | WartaGlobal.Id

Memuat konten...