Don Dasco  Kuasai Senayan!  DPR Jadi Mesin Legislasi, Pengawasan Luntur? WartaGlobal Soroti - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

Top Ads

Dirgahayu RI
🎉Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah banjir dan longsor di Sumatra. Semoga keluarga korban diberi ketabahan dan kekuatan. 🎉

More News

logoblog

Don Dasco  Kuasai Senayan!  DPR Jadi Mesin Legislasi, Pengawasan Luntur? WartaGlobal Soroti

Sunday, January 4, 2026

Jakarta 4/1/2026, WartaGlobal. Id

 Dominasi Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dinilai mengubah wajah parlemen Indonesia menjadi "pabrik undang-undang" yang efisien, tapi berisiko meredupkan fungsi checks and balances.

 Memasuki 15 bulan era Prabowo Subianto, Senayan tampak tenang luar biasa: minim interupsi, perdebatan sengit, atau drama pemutus mikrofon yang dulu jadi ciri khas.Pengamat politik menyoroti peran sentral Dasco, yang tak hanya menjabat Wakil Ketua DPR, tapi juga Ketua Harian DPP Gerindra—partai inti pendukung presiden.

 Julukan "Don Dasco" melekat padanya karena kemampuannya mengorkestrasi suara fraksi seperti sutradara ulung. Hasilnya? RUU strategis melaju kencang, hampir tanpa hambatan.Jaringan Rahasia: Kabinda dan Adidas 

@WartaGlobal mengungkap jaringan politik solid di balik layar: Kabinda (Kader Binaan Dasco), mayoritas kader Gerindra yang menduduki posisi kunci di Alat Kelengkapan Dewan (AKD) seperti komisi dan badan penting. Lalu ada Adidas (Anak Didik Dasco), jejaring lintas partai yang setia mendukung agenda Dasco—dari panitia kerja hingga Badan Legislasi (Baleg).

Tahun 2025 jadi bukti nyata. Baleg beroperasi bak pabrik: produktivitas legislasi melonjak, pembahasan RUU cepat dan terukur. Nasib sebuah RUU kini bergantung pada "restu" Dasco—laju mulus, tertahan, atau mati di tempat.

Fenomena ini makin kentara pasca Fadli Zon, sang vokalis parlemen dulu, pindah jadi Menteri Kebudayaan. Kini, dinamika politik dikelola tertutup, publik hanya lihat hasil akhir.

Stabilitas vs. Demokrasi?
Pro: stabilitas politik dan legislasi kilat. Kontra: DPR dikhawatirkan jadi "stempel" eksekutif. "Tanpa perdebatan terbuka, pengawasan melemah," tegas pengamat politik Ray Rangkuti. 
Sejumlah kalangan desak mekanisme pengawasan lebih kuat agar parlemen tak sekadar "mesin produksi UU".

Walaupun Begitu Dasco mampu berjalan tanpa beban serta ahli strategis Politik yang baik, dimana
Bisa masuk ke berbagai kalangan lebih profesional. 

@Apakah "Don Dasco" jadi pahlawan efisiensi atau ancaman demokrasi? Senayan menanti jawaban.