Washington/Teheran, WartaGlobal.id - Pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas terhadap Iran, menyusul laporan pembantaian massal demonstran anti-rezim yang menewaskan ribuan warga sipil. Ancaman ini diarahkan langsung ke struktur inti kekuasaan Teheran, khususnya Garda Revolusi Iran (IRGC), yang dituding menjadi pelaku utama penindakan brutal atas perintah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Eskalasi kekerasan dilaporkan memuncak sejak gelombang unjuk rasa nasional meletus pada 8 Januari 2026. Milisi Garda Revolusi disebut menggunakan sniper dan pasukan bermotor untuk memburu demonstran di jalan-jalan kota, dengan tembakan diarahkan ke bagian vital tubuh seperti wajah dan dada. Laporan The Economist menggambarkan kondisi kamar mayat di sejumlah kota besar Iran telah penuh, sementara rumah sakit kewalahan menangani korban luka tembak.
Presiden Trump secara terbuka menyerukan agar rakyat Iran memperbesar tekanan jalanan terhadap rezim, sembari melontarkan ancaman “tindakan sangat kuat” jika pembantaian berlanjut. Opsi yang dipertimbangkan meliputi serangan udara presisi menggunakan bom dan rudal ke fasilitas strategis yang dikaitkan dengan komando IRGC. Gedung Putih menilai langkah ini sebagai sinyal keras tanpa harus terjebak dalam perang skala penuh.
Di balik layar, Washington juga disebut meningkatkan dukungan non-militer. Oposisi Iran di pengasingan yang dipimpin Reza Pahlavi dikabarkan mendapat dukungan politik diam-diam, sementara jaringan Starlink kembali diaktifkan untuk menembus blokade internet yang diberlakukan Teheran guna membungkam informasi. Namun analis memperingatkan, intervensi militer—sekecil apa pun—berpotensi memicu serangan balasan Iran ke pangkalan dan sekutu AS di Timur Tengah.
Risiko strategis lainnya adalah skenario runtuhnya rezim yang tidak terkelola. Sejumlah pengamat membandingkan potensi kekacauan Iran dengan perang saudara Suriah atau fragmentasi berdarah ala Yugoslavia, terlebih dengan keberadaan program nuklir Iran yang belum sepenuhnya terurai. Ketidakpastian ini membuat sebagian pejabat AS bersikap hati-hati, meski tekanan politik domestik terhadap Trump untuk “bertindak tegas” kian menguat.
Dalam pernyataan terkininya, Trump menegaskan target kebijakannya adalah “menang”, merujuk pada serangan AS Juni lalu yang diklaimnya telah melumpuhkan sebagian kemampuan strategis Iran. Ia juga mengancam respons keras jika rezim Teheran melanjutkan eksekusi demonstran melalui hukuman gantung.
“Kami melihat apa yang terjadi di Iran. Dunia tidak boleh diam ketika rakyat dibantai oleh rezimnya sendiri,” ujar seorang pejabat senior AS yang terlibat dalam diskusi kebijakan Iran. (Canga)