Arab Saudi Larang Impor Unggas RI, Menteri Amran: Justru Peluang Hilirisasi Bernilai Tinggi - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

Top Ads

Dirgahayu RI
šŸŽ‰Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah banjir dan longsor di Sumatra. Semoga keluarga korban diberi ketabahan dan kekuatan. šŸŽ‰

More News

logoblog

Arab Saudi Larang Impor Unggas RI, Menteri Amran: Justru Peluang Hilirisasi Bernilai Tinggi

Wednesday, March 4, 2026


Denpasar Bali 4 Maret 2026 , WartaGlobal. Id
 Otoritas Makanan dan Obat-obatan Arab Saudi (SFDA) memberlakukan larangan impor unggas dan telur dari 40 negara, termasuk Indonesia. Langkah ini untuk lindungi kesehatan publik dan tingkatkan standar keamanan pangan domestik.

 Tapi, Menteri Pertanian Amran Sulaiman justru sambut kebijakan itu sebagai "momentum bisnis" untuk dorong ekspor produk olahan bernilai tambah.Amran ungkapkan sikap optimisnya usai lepas ekspor produk unggas senilai Rp18,2 miliar ke tiga negara di Kementan, Jakarta, Selasa (3/3). "Larangan itu untuk unggas hidup, tapi olahan boleh. Nilainya dua kali lipat! Ayam hidup Rp30.000/kg, olahan Rp60.000 per kemasan. 

Pilih mana? Kita syukuri," tegasnya.Pendekatan ini selaras arahan Presiden Prabowo Subianto soal hilirisasi komoditas. "Kita ubah bahan baku jadi barang jadi. Nilainya naik 100%. Itulah tujuannya," tambah Amran. Ia soroti, produk ready-to-eat atau ready-to-serve seperti daging ayam olahan via heat treatment kini dapat akses pasar Saudi lewat kerjasama G2G yang digarap tiga tahun terakhir.

Direktur Charoen Pokphand Jaya Farm, Jusi Jusran, konfirmasi Saudi memang tutup pintu impor unggas hidup sejak lama. "Bukan akhir dunia. Produk olahan nilai lebih tinggi," katanya. Namun, tantangan nyata: persaingan ketat dari Brasil, AS, dan Thailand yang harga murah dan sudah dominasi pasar Saudi, termasuk hotel, restoran, dan katering.Perusahaan Jusi belum ekspor ke Saudi karena prioritas UAE dan Teluk lain, tapi optimis. "Kita sudah koordinasi BPOM dua bulan lalu. 

InsyaAllah akhir 2026 ada kabar baik," ujarnya. Upaya ini tak hanya untuk haji, tapi pasar komersial—potensi besar tingkatkan citra produk pangan RI setara kompetitor global.Data IHSG kemarin merosot 0,96% ke 7.939,767 poin, tapi sektor pangan olahan berpotensi jadi penopang di tengah gejolak ekspor mentah.