BADUNG, Bali, WartaGlobal. Id
Lagi-lagi Lapas Kelas IIA Kerobokan jadi sorotan. Setelah inspeksi mendadak dini hari Rabu 20/5, kabar mengejutkan berembus: Kalapas Hudi Ismono diduga dicopot dari jabatannya.
Sidak besar-besaran yang digelar tim Direktorat Pemasyarakatan, Pengamanan dan Intelijen Ditjenpas Kementerian Imipas sekitar pukul 02.00 Wita menyisir seluruh blok hunian. Hasilnya? Narkotika, HP ilegal, hingga minuman keras ditemukan di dalam lapas.
Yang lebih bikin panas, petugas juga menemukan indikasi penyimpanan barang terlarang lewat ponsel. Semua masih didalami.
Bukan Cuma Kalapas, Pejabat KPLP Ikut Ditarik
Imbas temuan ini, bukan hanya kursi Kalapas yang goyang. Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan bersama dua stafnya juga ditarik ke Kanwil Ditjen Pemasyarakatan Bali untuk diperiksa.
Saat dikonfirmasi, Hudi Ismono hanya menjawab singkat lewat WhatsApp: “Silakan konfirmasi ke kanwil nggih.”
Kepala Kanwil Ditjen Pemasyarakatan Bali Decky Nurmansyah pun enggan bicara banyak. “Saat ini sedang ada pendalaman-pendalaman,” ujarnya, Minggu 24/5.
@Sorotan Lama: “Titipan” WNA dan Pengacara Tender
Penggerebekan ini sebenarnya bukan hal baru di Kerobokan. Yang bikin publik geram, isu lama kembali menguat soal dugaan “titipan” tahanan WNA kasus narkotika yang mendapat perlakuan khusus.
Kabar yang beredar, oknum pengacara tender Polda Bali dan BNN disebut-sebut berada di balik fasilitas VIP dan perlindungan hukum bagi WNA tertentu,dengan nominal fantastis.
Hal tersebut diutarakan sumber dari masyarakat saat WartaGlobal mencari informasi.
Keluhan juga datang dari pengacara lain. Mereka mengaku sering dihalangi saat mengurus klien, bahkan dipaksa memakai jasa pengacara tender.
Sidak gabungan Ditjenpas, BNN RI, dan Polda Bali sebelumnya memang sudah mengungkap dugaan peredaran narkotika dan barang terlarang di dalam lapas. Tapi sampai hari ini, pertanyaan besarnya tetap sama: siapa yang melindungi jaringan ini dari dalam?
Kasus Kerobokan kali ini kembali membuka borok lama. Publik kini menunggu, apakah pencopotan Kalapas hanya jadi tumbal, atau benar-benar jadi pintu masuk membongkar jaringan “titipan” yang sudah bertahun-tahun diduga beroperasi di balik jeruji.