“Anatomi Pengkhianatan:  Ketika Ego, Keintiman, dan Komitmen Berhadapan” Riset Membongkar: Perselingkuhan Lebih Rumit daripada Sekadar Soal Fisik WartaGlobal.Id | Karya Jurnalis - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

IKLAN GAMBAR

Dirgahayu RI

ADS

Memuat berita...

More News

logoblog

“Anatomi Pengkhianatan:  Ketika Ego, Keintiman, dan Komitmen Berhadapan” Riset Membongkar: Perselingkuhan Lebih Rumit daripada Sekadar Soal Fisik WartaGlobal.Id | Karya Jurnalis

Tuesday, September 1, 2026


Poto AI

DENPASAR — Mengapa seorang pria bisa berselingkuh meski memiliki istri yang cantik, menarik, sukses, bahkan telah membangun rumah tangga selama bertahun-tahun?

Pertanyaan ini kerap muncul ketika kasus perselingkuhan terbongkar. Namun penelitian psikologi hubungan menunjukkan bahwa perselingkuhan tidak dapat dijelaskan hanya dengan membandingkan kecantikan atau daya tarik fisik pasangan.

Sejumlah penelitian justru menemukan keterkaitan antara perselingkuhan dengan kepuasan hubungan, komitmen, karakter individual, pola keterikatan emosional, orientasi seksual, serta kualitas komunikasi.

Sebuah meta-analisis yang menggabungkan 17 penelitian dengan total 13.666 partisipan menemukan bahwa pola attachment yang tidak aman—khususnya kecemasan dan penghindaran dalam hubungan—berkaitan secara signifikan dengan perselingkuhan. Namun peneliti menegaskan bahwa hubungan tersebut bersifat korelasional, sehingga tidak dapat langsung disebut sebagai satu-satunya penyebab.

1. Bukan Karena Istrinya Tidak Cantik, tetapi Karena Kebutuhan Emosional

Daya tarik fisik dan kedekatan emosional adalah dua hal berbeda.

Seseorang dapat memiliki pasangan yang secara fisik sangat menarik, tetapi tetap merasa tidak didengar, tidak dihargai, atau tidak memperoleh kedekatan emosional yang diharapkannya.

Penelitian mengenai motivasi perselingkuhan menemukan berbagai motif, antara lain ketidakpuasan, pengabaian, kemarahan, hasrat seksual, kurangnya cinta, rendahnya komitmen, pencarian penghargaan diri, dan keinginan memperoleh variasi seksual.

Artinya, perempuan yang cantik tidak otomatis dapat memenuhi seluruh kebutuhan psikologis pasangannya—dan sebaliknya, pasangan juga tidak bertanggung jawab atas pilihan seseorang untuk berkhianat.

2. Ego, Validasi dan Pencarian Pengakuan

Perselingkuhan pada sebagian orang dapat berkaitan dengan kebutuhan untuk merasa diinginkan atau memperoleh validasi.

Penelitian tentang motivasi perselingkuhan bahkan mengidentifikasi motif esteem, yakni keinginan meningkatkan rasa berharga atau popularitas diri.

Dalam penelitian yang melibatkan individu yang sedang melakukan perselingkuhan, motif seksual juga berkaitan dengan beberapa karakteristik individual, termasuk orientasi sosioseksual yang lebih tidak terbatas dan rendahnya kepuasan terhadap pasangan utama.

Dengan demikian, persoalannya tidak selalu:

“Apakah perempuan lain lebih cantik?”

Pertanyaan yang lebih relevan justru:

“Apa yang sedang dicari oleh orang yang berselingkuh?”

3. Komunikasi Dua Arah yang Mati Perlahan

Rumah tangga bisa tinggal serumah tetapi kehilangan komunikasi.

Percakapan berubah menjadi urusan tagihan, anak, pekerjaan, jadwal, dan kebutuhan sehari-hari. Komunikasi emosional semakin sedikit.

Yang lebih berbahaya adalah ketika komunikasi tatap muka digantikan hampir seluruhnya oleh pesan digital.

Penelitian longitudinal terhadap pasangan yang kemudian mengalami perselingkuhan menemukan bahwa pasangan dengan pria yang kemudian berselingkuh memiliki, sebelum menikah, tingkat komunikasi positif pria yang lebih rendah dan kepuasan seksual pria yang lebih rendah, sementara pola invalidasi pasangan juga berperan.

Pesannya jelas:

Hubungan bukan hanya membutuhkan komunikasi, tetapi komunikasi yang membuat pasangan merasa didengar dan dihargai.

4. Kurangnya Keintiman Fisik

Keintiman tidak selalu berarti hubungan seksual.

Sentuhan sederhana—berpegangan tangan, pelukan, mencium pasangan, duduk berdekatan, atau sekadar menyentuh bahu—dapat menjadi bentuk komunikasi nonverbal mengenai kasih sayang dan kedekatan.

Namun ketika keintiman fisik dan seksual mengalami masalah dalam waktu panjang, hubungan dapat kehilangan salah satu bentuk koneksi penting.

Sebuah penelitian terhadap individu menikah di Malaysia yang diterbitkan pada 2025 secara khusus meneliti hubungan antara ketidakpuasan kehidupan seksual, kepuasan hubungan, dan niat melakukan perselingkuhan.

Tetapi sekali lagi, ketidakpuasan bukan pembenaran untuk berkhianat.

Masalah dalam keintiman seharusnya menjadi alasan untuk berbicara, mencari solusi, atau meminta bantuan profesional—bukan alasan otomatis untuk mencari orang ketiga.

5. Sensasi Baru dan Godaan

Hubungan jangka panjang membutuhkan perawatan.

Rutinitas dapat membuat sebagian orang mencari pengalaman baru. Dalam penelitian mengenai motivasi perselingkuhan, keinginan mendapatkan variasi seksual ditemukan sebagai salah satu motif yang berbeda dari sekadar ketidakpuasan hubungan.

Ini menjelaskan mengapa seseorang bisa berselingkuh bahkan ketika tidak selalu menganggap pasangannya buruk.

Ada orang yang mengejar novelty, sensasi, perhatian baru, atau pengalaman yang dianggap berbeda.

6. Karakter dan Batas Komitmen

Pada akhirnya, kesempatan tidak sama dengan keputusan.

Seseorang dapat menghadapi godaan tetapi memilih menolak. Sebaliknya, orang lain dapat membangun pembenaran sedikit demi sedikit sampai akhirnya melewati batas.

Sebuah penelitian kualitatif terhadap 13 pria yang pernah berselingkuh menemukan bahwa proses menuju perselingkuhan dapat melibatkan proses pengambilan keputusan dan pembenaran secara bertahap.

Karena itu, menyederhanakan perselingkuhan sebagai “istri kurang cantik” adalah kesimpulan yang terlalu dangkal.

7. Pola Keterikatan yang Tidak Aman

Riset terbaru memberikan perhatian serius pada attachment style.

Meta-analisis terhadap 17 penelitian menemukan bahwa kecemasan dan penghindaran dalam keterikatan memiliki hubungan dengan meningkatnya kemungkinan perselingkuhan. Efeknya memang tidak berarti bahwa setiap orang dengan pola tersebut pasti berselingkuh.

Ini penting karena faktor psikologis bukan takdir.

Seseorang tetap mempunyai kemampuan untuk membangun batas, berkomunikasi, mencari konseling dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.


DATA YANG MEMBANTAH MITOS “PRIA SELINGKUH KARENA ISTERINYA KURANG MENARIK”

Salah satu penelitian terhadap 506 pria dan 412 perempuan dalam hubungan monogamis menemukan bahwa 23,2 persen pria dan 19,2 persen perempuan dalam sampel tersebut melaporkan pernah melakukan perilaku seksual yang dapat membahayakan hubungan mereka.

Pada pria, sejumlah karakteristik seksual dan respons terhadap kondisi emosional menjadi prediktor yang lebih relevan dibanding sejumlah variabel demografis.

Sementara itu, penelitian lain menunjukkan bahwa kepuasan hubungan dan komitmen berkaitan dengan keterlibatan dalam perilaku di luar hubungan, baik secara langsung maupun daring.

Data tersebut memperlihatkan satu hal:

Perselingkuhan adalah fenomena multifaktor.

Tidak cukup menjelaskannya dengan:

cantik atau tidak cantik.


KESIMPULAN: YANG BERSELINGKUH HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS PILIHANNYA

Istri cantik bukan jaminan suami setia.

Istri sederhana juga bukan penyebab suami berselingkuh.

Demikian pula suami kaya, sukses, tampan, atau memiliki status sosial tinggi tidak otomatis terbebas dari persoalan perselingkuhan.

Perselingkuhan dapat muncul dari kombinasi kepuasan hubungan, komunikasi, kebutuhan emosional, keintiman, komitmen, karakter individual, pola keterikatan, kesempatan, dan pencarian sensasi baru.

Karena itu, menyalahkan perempuan yang dikhianati dengan kalimat “mungkin dia kurang cantik, kurang melayani, atau kurang perhatian” merupakan cara berpikir yang tidak adil dan tidak didukung oleh kompleksitas penelitian.

Namun demikian, menyatakan bahwa seluruh perselingkuhan semata-mata disebabkan “kekurangan pasangan” juga keliru.

Orang ketiga mungkin menjadi bagian dari sebuah masalah, tetapi keputusan untuk membuka pintu perselingkuhan tetap merupakan pilihan orang yang melanggar komitmen.

Dan di sinilah kualitas karakter diuji:

Ketika kesempatan datang, apakah seseorang memilih kesetiaan atau memilih pembenaran?

Catatan Redaksi

Artikel ini menggunakan hasil penelitian akademik sebagai bahan analisis. Hasil penelitian tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis individu tertentu dan tidak membuktikan bahwa satu faktor tertentu pasti menyebabkan seseorang berselingkuh.

Memuat konten...