Aceh Timur, 26/12/2025, WartaGlobal. Id
Ambia (20), putra sulung Ishak Daud—panglima tertinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Peureulak, Aceh Timur—merasa perjuangan ayahnya kini terlupakan. Keluarga mantan pejuang ini hidup tanpa apresiasi pasca-konflik.Aceh Timur, Indojaya News – Ambia, anak pertama dari Panglima GAM wilayah Peureulak Ishak Daud dan Cut Rostina, mengaku kecewa dengan nasib keluarganya. Ayahnya, yang dikenal tangguh memimpin pasukan bersenjata lengkap selama konflik GAM, tewas disergap TNI pada 8 September 2004 di Tualang Pateng, Peureulak, di usia 44 tahun.
Ishak Daud, lahir 12 Januari 1960, tenggelam tanpa bekas, meninggalkan Ambia dan adik perempuannya, Anisa."Perjuangan ayah saya belum berakhir untuk Aceh," ujar Ambia kepada Indojayanews.com pada Sabtu, 29 Februari 2020. Namun, ia merasa upaya berdarah-darah itu sia-sia. "Saya merasa perjuangan ayah saya sia-sia. Orang-orang sudah lupa bagaimana ayah saya berjuang untuk Aceh di masa konflik dulu," tambahnya.Ambia menyoroti minimnya dukungan pasca-konflik.
Untungnya, teman seperjuangan ayahnya, Ridwan Abubakar alias Nektu, membiayai sekolah Ambia dan Anisa. Nama besar Ishak Daud, yang pernah menggegerkan dengan cita-cita negara baru di Aceh, kini meredup seiring waktu. Cerita ketangguhannya tinggal kenangan pahit bagi keluarga.
Nasib mantan keluarga GAM ini mencerminkan tantangan reintegrasi pasca-damai Helsinki 2005. Hingga kini, banyak cerita serupa belum menemukan akhir bahagia.