Scam Kamboja: TikTok Jadi Jurang Harapan WNI Terjebak Penipuan Daring Warga Negara Indonesia (WNI) Yang Terperangkap Dalam Sindikat Scam di Kamboja - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

Top Ads

Dirgahayu RI
🎉Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah banjir dan longsor di Sumatra. Semoga keluarga korban diberi ketabahan dan kekuatan. 🎉

More News

logoblog

Scam Kamboja: TikTok Jadi Jurang Harapan WNI Terjebak Penipuan Daring Warga Negara Indonesia (WNI) Yang Terperangkap Dalam Sindikat Scam di Kamboja

Sunday, February 8, 2026


Jakarta 8/2/2026, WartaGlobal. Id
Kini memanfaatkan TikTok sebagai kanal darurat untuk meminta tolong, di tengah maraknya iklan lowongan kerja palsu., hal tersebut diutarakan dari para korban yang minta tolong, bahkan ada yang dm  jurnalis Indonesia guna minta tolong. 
Kita tetap apresiasi selalu. 

 Kasus ini mencerminkan kegagalan pengawasan pemerintah terhadap perekrutan migran ilegal, dengan ribuan korban menghadapi eksploitasi brutal.

Lonjakan Kasus di Awal 2026Pada Januari 2026 saja, aktivis seperti Fadly Barberto kebanjiran pesan darurat via TikTok dari WNI yang disekap di gedung-gedung penipuan daring, terutama love scam dan judi online.

 KBRI Phnom Penh mencatat 3.160 permintaan bantuan dari 16 Januari hingga 3 Februari 2026, naik tajam dari tahun sebelumnya, dengan korban tersebar di wilayah seperti Chrey Thum dan Kampot.

 Korban seperti Kiki terpaksa bayar denda puluhan juta rupiah, menunggu deportasi hingga enam bulan, sambil bertahan tanpa paspor.

Modus Rekrutmen LicikIklan lowongan "gaji puluhan juta per bulan" di Telegram dan WhatsApp menjebak pemuda Indonesia yang kesulitan finansial, berjanji pekerjaan IT tapi memaksa jadi scammer.

 Sekali terjebak, korban hadapi penyiksaan fisik, listrik, dan "tukar kepala" untuk kabur—praktik yang menunjukkan sindikat terorganisir dengan restu lemah dari otoritas Kamboja.

 Migrant CARE menyoroti 1.500 dari 10.000 WNI sebagai korban TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang) sejak 2020.
Respons Pemerintah TerlambatDubes RI Santo Darmosumarto mengakui peningkatan kasus karena razia Kamboja yang sporadis, tapi fasilitasi KBRI terbatas pada asesmen dan deportasi—banyak korban "kambuhan" lolos via jalur VIP ilegal.

 Platform Anti Scam Centre baru diluncurkan, tapi Wahyu Susilo dari Migrant CARE menekankan akar masalah: upah rendah dan lapangan kerja buruk di Indonesia.

Pemerintah didorong blokir iklan scam secara proaktif dan kampanye masif, bukan sekadar reaktif.