Misteri Kematian dan Hilangnya Ilmuwan Top AS dan Iran: Apakah Ada Pola Tersembunyi? - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

Top Ads

Dirgahayu RI
Memuat berita...

More News

logoblog

Misteri Kematian dan Hilangnya Ilmuwan Top AS dan Iran: Apakah Ada Pola Tersembunyi?

Saturday, April 18, 2026


Jakarta, WartaGlobal. Id
 Serangkaian kematian dan hilangnya ilmuwan kelas dunia di Amerika Serikat (AS) sejak 2023 menimbulkan spekulasi tentang kemungkinan pola konspirasi, terutama karena banyak di antara mereka terlibat dalam proyek teknologi sensitif seperti nuklir, antariksa, dan fusi energi. Kasus serupa di Iran, yang lebih terbuka sebagai operasi targeted killing, memicu pertanyaan: apakah ada benang merah global di balik tragedi ini?

Di AS, setidaknya 10-11 ilmuwan top dilaporkan tewas atau hilang sejak 2023. William “Neil” McCasland, pensiunan Mayor Jenderal Angkatan Udara AS yang pernah memimpin proyek rahasia di Wright-Patterson Air Force Base, menghilang dari rumahnya di Albuquerque pada 27 Februari 2026. Ia meninggalkan ponsel, kacamata, dan perangkat wearable, tapi dompet serta pistolnya ikut lenyap—pola yang menyerupai "penghapusan" sistematis.

Kasus serupa menimpa Monica Reza dari NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL), hilang saat hiking di Angeles National Forest pada Juni 2025; Anthony Chavez dan Melissa Casias dari Los Alamos National Laboratory, lenyap Mei-Juni 2025; serta Steven Garcia, kontraktor nuklir di Kansas City National Security Campus, raib Agustus 2025 di Albuquerque.

 Kematian mencakup Carl Grillmair (astrofisikawan Caltech, ditembak Februari 2026), Nuno Loureiro (pakar fusi nuklir MIT, dibunuh Desember 2025 oleh mantan teman kuliah yang kemudian bunuh diri), Frank Maiwald dan Michael David Hicks (NASA JPL, tewas 2023-2024), Amy Eskridge (peneliti antigravitasi, 2022), serta Jason Thomas (Novartis, ditemukan di danau Maret 2026).
Benang merah potensial: akses ke teknologi sensitif, termasuk nuklir, antariksa, fusi, dan spekulasi UFO. Presiden Donald Trump menyebutnya “very serious stuff” dan berjanji jawaban dalam satu setengah minggu.

 Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, FBI, dan Kongres seperti Rep. Eric Burlison menyatakan akan investigasi mendalam. Pakar keamanan nasional, seperti yang dikutip Fox News, menyebut ini mungkin "cherry-picking statistik" dari komunitas ilmuwan besar, tapi pola timing-nya sulit diabaikan.

Sementara itu, Iran menyaksikan pola serupa tapi lebih eksplisit. Antara 2010-2020, lima-enam ilmuwan nuklir tewas akibat bom magnetik, tembakan, dan ledakan mobil, termasuk Mohsen Fakhrizadeh (2020, diduga Mossad). 

Klimaks terjadi Juni 2025 selama "Twelve-Day War" atau Operation Rising Lion melawan Israel, melalui "Operation Narnia" yang menewaskan 9-16 ilmuwan top seperti Fereydoon Abbasi, Mohammad Mehdi Tehranchi, Saeed Borji, Ahmadreza Zolfaghari Daryani, Abdolhamid Minouchehr, Akbar Motallebzadeh, Amir Hassan Fakhahi, Mansour Asgari, dan Ali Bakhouei Karimi—semuanya di rumah saat tidur. Fasilitas Natanz, Fordow, dan Isfahan juga hancur. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu klaim, “otak-otak program nuklir Iran sudah kami habisi.” Iran membalas dengan eksekusi dugaan mata-mata seperti Rouzbeh Vadi (Agustus 2025).

Apakah ada kaitan? Di Iran, ini strategi militer terbuka. Di AS, campuran antara kecelakaan, pembunuhan pribadi, dan hilang misterius memicu teori balasan Iran, campur tangan China/Rusia, atau proyek internal gelap. Seorang analis intelijen anonim di The Intercept memperingatkan: "Pengetahuan sensitif kini jadi target utama dalam perang bayangan."
Sampai kini, investigasi resmi AS masih berlangsung. Jika pola ini berlanjut, implikasinya bisa mengguncang stabilitas global teknologi dan keamanan.Netti/*

WartaGlobal akan memantau perkembangan. Sumber: Laporan resmi FBI, media AS-Iran, dan arsip intelijen terbuka.