Oleh Khudori
Pondokgede, WartaGlobal. Id
Keputusan pemerintah menaikkan harga acuan pembelian sapi hidup di tingkat produsen menjadi Rp59.000/kg bobot hidup, seperti diumumkan Menko Pangan Zulkifli Hasan pada 22 April 2026, justru memukul pelaku usaha penggemukan sapi (feedlot) dan seluruh rantai pasok daging sapi segar.
Harga ini masih di bawah harga pokok penjualan (HPP) yang mencapai Rp64.000-Rp70.000/kg setelah memelihara sapi impor dari Australia selama 100 hari, akibat harga bakalan US$4,32/kg dan pelemahan rupiah.
Para feedloter yang mengimpor sapi bakalan dari Australia tiga bulan lalu dengan harga US$3,8/kg kini rugi berbulan-bulan, karena HPP mencapai Rp65.000/kg sementara harga acuan penjualan daging segar di konsumen tetap Rp130.000-Rp140.000/kg sesuai Peraturan Bapanas No. 12/2024.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan Makmun pada Rakor Inflasi 20 April 2026 menyebut harga bakalan jantan Australia kini US$4,32/kg, plus asuransi dan karantina jadi Rp77.177/kg di Indonesia.
Usulan feedloter Rp65.000/kg dan Bapanas Rp62.612/kg ditolak, memaksa mereka tekan biaya pakan hingga karkas turun ke 50% dan daging hanya 65-70% dari karkas.
Bandar di RPH, pemotong, dan pedagang daging sapi ikut merugi karena selisih harga tipis tidak tutup biaya angkut dan stres sapi yang turunkan bobot. Harga daging segar di pasar 23 April 2026 Rp138.961/kg, patuh acuan, tapi risiko rendah yield daging bikin operasional berdarah-darah.
Impor swasta baru 71.335 ekor per 17 April dari kuota 600 ribu ekor, pasokan daging segar potensial turun dan harga naik jika tak ditutup sapi lokal (65,4% kebutuhan 2025) atau daging beku.
Siapa yang Untung? Importir BUMN Daging Beku. Importir daging sapi beku dan kerbau beku seperti PT Berdikari (kerbau India) dan PT PPI tak hadapi risiko pemeliharaan. Kuota impor 2026 total 297.000 ton didominasi BUMN (270.000 ton atau 61,7%), swasta hanya 30.000 ton.
HAP daging kerbau beku naik dari Rp80.000 jadi Rp90.000/kg, tapi PT Berdikari usul Rp107.500/kg karena HPP Rp94.455/kg.
Di lapangan, harga kerbau rata-rata Rp111.713/kg (Jan-Feb 2026), distributor PT Suri Nusantara Jaya jual hingga Rp157.900/kg tanpa sanksi, beda dengan daging segar swasta yang dipaksa patuh.
Kritik muncul: diskriminasi BUMN vs swasta langgar Perbapanas No. 12/2024 tanpa pengecualian, buruk buat investor dan percepat potong paksa sapi lokal, rusak keberlanjutan industri.
Harga sapi Australia berpotensi naik lagi, ancam feedloter bangkrut dan gagal bayar kredit.
Pemerintah didesak rapat stakeholder segera untuk kebijakan terukur, agar ekosistem daging sapi tak runtuh.