Jakarta Sociocorner , 12/4/2026, WartaGlobal. Id
Penyiraman air keras terhadap Andrie bukan sekadar serangan brutal terhadap satu individu, melainkan pukulan telak bagi nyawa demokrasi itu sendiri. Aksi kekerasan ini jelas merupakan teror negara yang sistematis untuk membungkam suara kritis, menginjak-injak kebebasan berpendapat yang seharusnya jadi pondasi republik.
Pelaku diduga dari kalangan militer masih bebas berkeliaran, diadili lewat pengadilan militer yang notabene "rumah sendiri"—proses gelap yang ironisnya justru melindungi algojo ketimbang korban. Hingga kini, identitas dalang di balik kekejaman ini tetap diselimuti kabut, sementara publik dibiarkan haus keadilan.
Lebih parah lagi, Komnas HAM—yang seharusnya jadi benteng HAM—hanya jadi penonton bisu. Tak ada langkah tegas, tak ada sorotan investigasi, tak ada tuntutan pidana sipil yang mendesak.
Apakah ini kelalaian, atau konspirasi diam-diam dengan kekuatan represif? Sikap inkonsisten ini semakin menguak wajah lembaga yang gagal lindungi rakyat.
Dari sinilah lahir inisiatif "Tenda untuk Andrie, Tandu untuk Demokrasi"—simbol nyata keprihatinan rakyat yang muak dengan tekanan otoriter.
Tenda solidaritas ini bukan sekadar tenda, tapi tandu bagi demokrasi yang sekarat, ditandu oleh massa yang tak lagi mau dijadikan boneka rezim.
Kapan pemerintah berani ungkap pelaku sungguhan? Atau demokrasi kita memang ditakdirkan jadi mayat hidup?