Rupiah Suram:  Bukan Salah BI, Tapi Politik yang Assalamualaikum di Mikrofon - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

Top Ads

Dirgahayu RI
Memuat berita...

More News

logoblog

Rupiah Suram:  Bukan Salah BI, Tapi Politik yang Assalamualaikum di Mikrofon

Friday, May 29, 2026


Jakarta Indonesia, WartaGlobal. Id
Rupiah udah hancur lebur. Nilai tukarnya tembus terendah sepanjang sejarah, dan upaya Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin cuma jadi "pemanis" sesaat. BI Rate yang kini 5,25%  seharusnya bikin pasar yakin, tapi nyatanya rupiah cuma "senyum" satu hari, lalu kembali lari tunggang langgang.

Kenapa? Karena pasar nggak bodoh. Mereka tahu: masalahnya bukan cuma suku bunga. Masalahnya ada di panggung politik yang penuh drama, kunjungan luar negeri yang bikin spekulasi, dan mikrofon yang nggak pernah sepi dari omongan kosong.

Presiden Prabowo: Sering Keluar Negeri, Mikrofon Nggak Pernah Dingin
Presiden Prabowo Subianto, yang bisa dibilang "ikon pertahanan" Indonesia, makin sering terlihat di luar negeri. Satu minggu ke luar, dua minggu ke luar lagi. 

Sementara di dalam negeri, panggung mikrofon nggak pernah dingin: pidato, konferensi pers, pernyataan publik yang kadang kontradiktif.
Pasar nggak butuh pidato. Pasar butuh kepastian. Dan ketika kepala negara sibuk "berpameran" di luar negeri sambil terus bicara di mikrofon, investor asing langsung panik. Dana portofolio mereka cabut. Rupiah ambruk.

Kebijakan Moneter Jadi Korbannya
BI coba menyelamatkan rupiah dengan menaikkan suku bunga. 


Seorang ekonom independen bilang: "Kebijakan moneter itu pedang tajam. Tapi kalau kepala yang memegangnya sibuk gelisah dan ngomong nggak jelas, pedang jadi goyah."
Risiko Nyata: Inflasi, Kredit Macet, Pertumbuhan Ekonomi Tergeliat

Jika nggak ada perubahan cepat, risiko nyata menanti:
Kapital asing terus keluar, kurs makin ambrol
Inflasi impor melonjak, harga barang di pasar tradisional naik

BI terpaksa naikkan suku bunga lagi, kredit macet, pertumbuhan ekonomi tergigit
Kesimpulan:
 Politik yang Berisik, Rupiah yang Bayar Tagihan
Rupiah nggak hanya dipengaruhi oleh angka suku bunga.

 Ia mencerminkan ketenangan dan kepercayaan publik terhadap pengelolaan negara. Ketika panggung politik penuh dengan langkah yang mengundang tanda tanya—kunjungan luar negeri yang provokatif, mikrofon yang nggak pernah diam, pesan yang tumpang tindih—rupiahlah yang membayar tagihannya.

Presiden Prabowo, turun tangan. Berhenti berpidato berlebihan. Berhenti sering keluar negeri tanpa agenda jelas. Fokus jaga ekonomi. Karena kalau nggak, rupiah bisa hancur lebih dalam lagi.

Dari beberapa Survei, terindikasi seringnya Prabowo ke Luar Negeri serta Ngecap di Publik. 
Merupakan leansia berpengaruh terhadap perjalanan ekonomi Indonesia.