Boyong Hambangun Projo 2026,Merajut Sejarah 146 Tahun dalam Harmoni Gotong Royong dan Semangat Jas Merah - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

Top Ads

Dirgahayu RI
Memuat berita...

More News

logoblog

Boyong Hambangun Projo 2026,Merajut Sejarah 146 Tahun dalam Harmoni Gotong Royong dan Semangat Jas Merah

Saturday, June 6, 2026

 
Wakil Bupati Nganjuk 
NGANJUK Warta Global.id
Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu yang tersimpan rapi di lemari waktu, melainkan napas yang terus berhembus, memberi nyawa pada perjalanan sebuah daerah, dan menjadi kompas arah bagi langkah anak cucunya. Di bawah langit Nganjuk yang cerah, Sabtu (6/6/2026), napas sejarah itu kembali terasa hidup, berdenyut kencang dalam iring-iringan megah Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun Projo 2026. Sebuah peristiwa agung yang menandai 146 tahun perjalanan panjang Nganjuk, merajut kembali benang-benang masa lalu dengan jalinan kebersamaan, dijiwai semangat gotong royong, dan berpijak teguh pada pesan luhur Jas Merah,Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.

Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial rutin, melainkan puncak dari sebuah perjalanan panjang kesadaran kolektif, yang mempertemukan unsur Forkopimda, jajaran pejabat daerah, camat, kepala desa, pendidik, tokoh masyarakat, hingga para pelaku usaha. Semuanya bersatu dalam satu ruang dan waktu, menyadari bahwa identitas Nganjuk yang kokoh hari ini lahir dari persemaian peradaban masa silam.

Dari Alun-Alun Brebek menuju ke Pendopo K.R.T Sosro Kusumo  Kabupaten, arak-arakan bergerak perlahan namun penuh makna. Langkah kaki yang teratur itu adalah replika perjalanan besar yang dilakukan para leluhur pada tahun 1880 silam, saat pusat pemerintahan dipindahkan dari Berbek ke lokasi sekarang. Secara filosofis, gerakan ini mengandung makna mendalam,bergerak bukan berarti memutus akar, melainkan memperluas tajuk. Seperti pohon besar yang memindahkan tunasnya ke tanah yang lebih subur demi tumbuh lebih rimbun, para pendahulu memindahkan pusat pemerintahan demi menjamin kesejahteraan, pelayanan, dan kemajuan yang lebih luas bagi rakyatnya.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk, Gunawan Widagdo, menegaskan bahwa keberhasilan gelaran ini adalah bukti nyata kekuatan kolektif masyarakat. Di matanya, tradisi ini berdiri tegak bukan karena kekuatan satu pihak saja, melainkan karena ada semangat bebantuan atau gotong royong yang menjadi tulang punggung budaya Jawa, khususnya di tanah Nganjuk.

“Kegiatan ini terlaksana karena kebersamaan luar biasa dari pemerintah, desa, dunia usaha, komunitas budaya, dan seluruh elemen masyarakat. Tradisi ini adalah milik bersama, warisan tak berbentuk yang harus dijaga lestari. Melalui momen ini pula, kita membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal dari mana mereka berasal, agar tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri,” ungkap Gunawan, menggambarkan pentingnya menjaga benang merah sejarah antargenerasi.

Dalam pandangan Bupati Nganjuk, Dr. Drs. Marhaen Djumadi, S.E., S.H., M.M., M.B.A., peringatan ke-146 ini adalah momen refleksi yang mendalam. Baginya, Nganjuk hari ini bukanlah entitas yang muncul tiba-tiba, melainkan buah dari penyatuan dan perkembangan empat kekuatan sejarah besar: Kadipaten Berbek, Pace, Godean, dan Kertosono. Keempat akar sejarah inilah yang bersatu, tumbuh, dan membentuk watak serta karakter masyarakat Nganjuk yang kita kenal sekarang.

“Perjalanan panjang Kabupaten Nganjuk tidak lepas dari sejarah empat kadipaten yang pernah berdiri kokoh di wilayah ini. Sejarah itulah yang menjadi fondasi, dasar pijakan kita berdiri, berkembang, dan melangkah hingga masa kini. Tanpa memahami empat pilar sejarah itu, kita hanya membangun di atas tanah yang rapuh,” tutur Kang Marhaen dengan nada penuh penghormatan.

Rangkaian peringatan ini sendiri telah dibuka sejak Jumat (5/6/2026) malam melalui prosesi Bedol Pusaka dan Jamasan. Dua benda keramat menjadi pusat perhatian Tombak Kiai Jurang Penatas dan Songsong Kiai Tunggul Wulung. Bagi masyarakat Nganjuk, ini bukan sekadar benda mati yang terbuat dari logam atau kain. Di dalamnya tersimpan nilai simbolis yang abadi: tombak melambangkan ketegasan, kebijaksanaan, dan penentu arah kebenaran pemerintahan, sedangkan payung kebesaran adalah lambang perlindungan, pengayoman, dan kewibawaan pemimpin yang menaungi seluruh rakyatnya.

“Jamasan dan Bedol Pusaka adalah bentuk penghormatan tulus kita kepada leluhur. Kita tidak hanya membersihkan debu yang menempel pada benda tersebut, tetapi juga 'membersihkan' kembali ingatan kita terhadap nilai-nilai perjuangan, kebijaksanaan, dan semangat membangun yang telah mereka wariskan. Ini adalah cara kita berdialog dengan sejarah,” jelas Kang Marhaen.

Puncak makna filosofis terangkum dalam kegiatan Sedekah Bumi Hambangun Projo. Dalam kearifan lokal masyarakat Nganjuk, Sedekah Bumi bukan sekadar pesta rakyat atau makan bersama, melainkan ekspresi rasa syukur tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesuburan tanah, keamanan wilayah, dan rezeki yang melimpah. Di sana pula tersimpan nilai persaudaraan yang kental.

“Sedekah Bumi mengajarkan kita dua hal besar, bersyukur atas apa yang telah diberikan, dan menguatkan tali persaudaraan lewat gotong royong. Namun ada satu pesan utama yang tak boleh kita lupakan, yaitu semangat Jas Merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” tegas Bupati Nganjuk.

Menurutnya, sejarah adalah guru kehidupan. Dengan memahami jejak langkah para pendahulu, mengetahui liku-liku perjuangan mereka, serta memahami alasan di balik setiap keputusan besar masa lalu, maka masyarakat Nganjuk akan tumbuh menjadi pribadi yang bijak. Kebijaksanaan itulah yang akan menjadi kompas saat melangkah menuju masa depan, menembus tantangan zaman yang terus berubah.

Prosesi Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun Projo 2026 menjadi bukti otentik bahwa kemajuan zaman dan pembangunan fisik tidak harus berjalan berlawanan arah dengan pelestarian budaya. Di tengah derasnya arus modernisasi yang kadang menggusur nilai tradisi, Nganjuk tampil berbeda. Daerah ini membuktikan bahwa sebuah wilayah bisa maju secara ekonomi dan infrastruktur, namun tetap berdiri tegak dan bangga dengan jati diri budayanya.

Nganjuk merajut kembali sejarah 146 tahun bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan kembali. Melalui semangat gotong royong yang tak pernah pudar dan kesetiaan pada sejarah, Nganjuk melangkah maju: membangun masa depan yang gemilang di atas pondasi warisan leluhur yang kokoh, menjadi daerah yang maju, berbudaya, dan penuh martabat.

Sejarah Dijaga, Rakyat Berbahagia, Nganjuk Melesat! (Tomo)