”
JAKARTA WartaGlobal.Id
Dalam 30 Buku sebagai sumber pustaka Netti mengenal siapa itu Xi JiImping.
Nama Xi Jinping/习近平 hari ini identik dengan kepemimpinan kuat Partai Komunis Tiongkok, PKT. Namun narasi “Dimata Netti” yang beredar menyorot jalan berliku masa mudanya: dari anak pejabat tinggi, dipersekusi saat Revolusi Kebudayaan, hingga akhirnya menempati posisi puncak dan meluncurkan kampanye anti-korupsi besar-besaran.
Artikel ini merangkum perspektif “Netti” tersebut, sekaligus menempatkannya sebagai satu sudut pandang di tengah beragam catatan sejarah dan analisis publik tentang Xi Jinping.
1. Latar Masa Muda:
Revolusi Kebudayaan
Netti menyimpulkan saat Revolusi Kebudayaan 1966-1976 ayah Xi, Xi Zhongxun, dituduh pengkhianat dan diadili di depan publik. Xi Jinping remaja disebut ikut terdampak: dikirim ke desa Liangjiahe, Shaanxi, sebagai bagian program “turun ke bawah”. Periode ini secara luas dicatat sejarawan sebagai fase sulit bagi banyak keluarga pejabat PKT, termasuk keluarga Xi.
Catatan resmi biografi Xi Jinping yang dirilis pemerintah Tiongkok menyebut masa di Liangjiahe membentuk pandangannya tentang kemiskinan dan ketahanan rakyat. Sumber independen menyebut pengalaman itu memengaruhi gaya kepemimpinannya kelak.
Catatan redaksi: Detail tentang anggota keluarga, termasuk klaim bunuh diri saudara tiri, belum dikonfirmasi secara terbuka oleh sumber resmi pemerintah Tiongkok. Privasi keluarga pejabat negara Tiongkok dibatasi akses publiknya.
2. Kenaikan:
“Pangeran Merah” yang Dinilai “Aman”
Netti menyebut era 2000-an Xi bersaing dengan tokoh lain sesama “Pangeran Merah”, sebutan untuk anak pejabat pendiri PKT. Disebutkan Bo Xilai sebagai figur karismatik yang menonjol lewat kampanye “menyerang kejahatan” di Chongqing dan promosi budaya merah.
Pada Kongres PKT ke-18 tahun 2012, Xi Jinping terpilih menjadi Sekretaris Jenderal PKT dan Presiden Tiongkok. Sejumlah analis politik menyebut para senior partai saat itu memilih Xi karena rekam jejak administratifnya yang stabil dan tidak konfrontatif. Sebutan “dianggap aman/patuh” muncul di literatur Barat, namun PKT sendiri menegaskan pemilihan dilakukan lewat mekanisme kolektif partai.
3. Konsolidasi:
Kampanye Anti-Korupsi
Langkah awal Xi setelah menjabat adalah kampanye anti-korupsi skala besar. Data Komisi Pusat Pemeriksaan Disiplin, CCDI, mencatat jutaan pejabat diperiksa sejak 2012. Pemerintah Tiongkok menyebut kampanye ini untuk “membersihkan partai” dan memperkuat tata kelola. Kritikus menyebut kampanye itu juga berfungsi menyingkirkan rival politik.
Hingga kini, PKT menyatakan kampanye anti-korupsi sebagai kebijakan resmi untuk menjaga kredibilitas partai dan kepercayaan publik.
Beragam Penilaian Publik
1. Pendukung:
Melihat Xi sebagai pemimpin yang mengembalikan disiplin partai, mengurangi korupsi birokrasi, dan memperkuat posisi Tiongkok global lewat inisiatif seperti Belt and Road.
2. Pengamat kritis:
Menilai konsolidasi kekuasaan Xi mengurangi ruang debat internal partai dan memperketat kontrol media serta ruang sipil.
3. Sejarawan:
Menempatkan pengalaman Revolusi Kebudayaan sebagai konteks umum, bukan hanya kisah personal Xi, karena jutaan warga Tiongkok mengalami hal serupa.
Berita ini berbasis narasi “Dimata Netti” dan data publik yang tersedia. PKT, Kedubes Tiongkok di Jakarta, dan pihak terkait diberi ruang hak jawab seluas-luasnya. Isu keluarga dan dinamika internal partai Tiongkok memiliki keterbatasan verifikasi independen karena kontrol informasi negara.
