Eklusif Sorotan
Denpasar Bali Indonesia,WartaGobal.Id
Di tengah Rupiah yang terkapar di 17.000/USD, satu “ekonomi” di Bali justru tumbuh subur: tajen judi. Ritual Tabuh Rah yang dulu suci kini menjelma arena sabung ayam terorganisir. Omzet harian tembus miliaran. Negara tidak dapat pajak sepeser pun.
Pagi belum sepenuhnya naik, Jalan Mertajaya Denpasar sudah riuh. Bukan suara pasar, tapi sorak ribuan orang di arena tajen. Pukul 09.00 arena buka, larut malam baru tutup. Begitu seterusnya, tiap hari.
Ini bukan Tabuh Rah seperti diajarkan lontar. Ini judi.
“Setiap acara perputaran uangnya ratusan juta sampai miliaran rupiah. Kapasitas ribuan orang,” kata sumber WartaGlobal yang meminta identitasnya dirahasiakan. Suaranya pelan, tapi datanya telanjang.
PETA HITAM:
8 KABUPATEN, 30+ TITIK
WartaGlobal menghimpun lokasi arena yang diduga kuat disertai unsur perjudian, 13 Juni 2026:
Denpasar: Mertajaya, Subak Dalem Gatot Subroto, Subali Padang Sambian, Kesiman, Banjar Teges, Gunung Tangkuban Perahu
*Badung*: Canggu, Mengwi, Abiansemal, Buduk
Gianyar: Mas Ubud, Beng, Lodtunduh, Pejeng Tatiapi
Bangli: Pengotan, Bangli Kota, Tembuku, Susut, Sekaan
Klungkung: Pakse Bali, Dawan, Banjarangkan
Karangasem: Susuan, Karang Sokong, Pid-pid, Sidemen
Tabanan: Abian Tuwung Kediri, Gubuk, Tabanan Kota
Buleleng: Padang Keling, Jalan Pulau Komodo Banyuning, Runuk, Penglatan, Bengkala
Mertajaya disebut “kantor pusat”. Dari sana, sistemnya menyebar seperti waralaba.
MESIN TERORGANISIR, DENGAN “JAMINAN”
Yang membuat tajen hari ini beda dari judi kampung adalah struktur. Sumber menyebut ada divisi administrasi, divisi jadwal, divisi logistik. Semua berjalan seperti perusahaan.
“Semua berjalan dengan terencana meskipun waktu yang tersedia terbatas,” ujarnya.
Kalimat paling menusuk keluar setelah itu: “Ada dugaan pihak pengelola memberikan bentuk dukungan tertentu kepada aparat penegak hukum agar acara berjalan tanpa hambatan.”
Jika benar, ini bukan lagi kriminal jalanan. Ini white collar crime.
DARAH RITUAL VS DARAH MANUSIA
I Made Somya, tokoh masyarakat Bangli, menarik garis tegas. Tabuh Rah asli meneteskan darah ayam ke tanah untuk menetralisir energi negatif. Bukan menaruh uang taruhan di atas meja.
“Tradisi tajen dalam Tabuh Rah bertujuan mencapai keseimbangan alam, manusia dan dunia ghaib. Bukan untuk keuntungan,” katanya.
Tapi ketika spiritual dicabut, kekerasan masuk. Pembunuhan viral Kintamani Bangli. Penusukan di Mertajaya baru-baru ini. Ritual untuk Ida Sang Hyang Widhi berubah jadi berita kriminal.
“Tajen di luar atraksi budaya adalah perilaku menyimpang masif. Pelanggaran hukum terang benderang,” tegas Somya. “Ini bukan organize crime. Ini white collar crime. Pelakunya berjejaring seperti mafia, manfaatkan ruang gelap hukum.”
NEGARA RUGI DUA KALI
Saat Dolar 17.000, UMKM Bali bayar mesin impor lebih mahal, bayar iklan Meta/Google lebih mahal, bayar listrik lebih mahal. Mereka setor PPN, PPh.
Sementara di Mertajaya, omzet miliaran mengalir tanpa NPWP, tanpa SPT, tanpa pajak. Negara kehilangan potensi penerimaan pajak ratusan miliar per tahun dari satu “industri” ini saja.
Ironis. Negara getol kejar pajak UMKM, tapi bisu terhadap mesin uang bawah tanah yang mainnya terang-terangan.
DIAMNYA APARAT, LUKANYA BUDAYA
Hingga berita ini ditulis, Polda Bali dan jajaran belum memberikan keterangan resmi terkait titik lokasi dan langkah penegakan hukum.
Somya punya usulan radikal: legalkan atraksi budaya yang sah, awasi ketat, jadikan sumber PAD. “Untuk menghilangkan produk mafia seperti ini. Sehingga atraksi budaya bisa jadi jalan pendapatan daerah serta menutup ruang kejahatan yang selama ini ditutupi seolah-olah normal-normal saja tanpa korban jiwa.”
Tanpa legalitas jelas dan penegakan, Tabuh Rah akan terus jadi tameng. Yang suci dikotori. Yang kotor dilindungi.
@Rupiah bisa naik turun. Tapi wibawa hukum tidak boleh. Ketika ritual agama dipakai sebagai kedok judi miliaran, yang dirusak bukan hanya kas negara. Yang dirusak adalah fondasi budaya Bali itu sendiri.
Pertanyaannya bukan lagi “apa itu tajen”. Pertanyaannya: beranikah negara memotong kepala mafia yang bersembunyi di balik upacara? serta Pajak .
WartaGlobal akan terus menelusuri aliran dana dan jejaring ,dugaan adanya TPPU.
Sumber :
Pustaka,Publik
