KOMUNIKASI DUA ARAH DALAM HUBUNGAN: KETIKA CINTA TIDAK CUKUP TANPA KEMAMPUAN MENDENGARKAN Oleh : Siti Rahma - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

IKLAN GAMBAR

Dirgahayu RI

ADS

Memuat berita...

More News

logoblog

KOMUNIKASI DUA ARAH DALAM HUBUNGAN: KETIKA CINTA TIDAK CUKUP TANPA KEMAMPUAN MENDENGARKAN Oleh : Siti Rahma

Sunday, August 30, 2026


Poto Istimewa 

WartaGlobal.Id | Riset & Analisis

JAKARTA — Banyak hubungan tidak berakhir karena hilangnya rasa cinta. Sebagian justru melemah karena dua orang yang masih memiliki perasaan tidak lagi mampu berbicara dan mendengarkan dengan cara yang sehat.

Di sinilah komunikasi dua arah menjadi penting.

Komunikasi dalam hubungan bukan sekadar bertanya, menjawab, mengirim pesan atau berbicara setiap hari. Persoalan utamanya adalah apakah kedua pihak memiliki ruang yang cukup untuk menyampaikan pikiran, perasaan, kebutuhan dan keberatan—serta benar-benar mendengarkan respons pasangannya.

Riset ilmiah menunjukkan hubungan antara komunikasi dan kualitas hubungan memang nyata, tetapi tidak sesederhana rumus bahwa "komunikasi buruk pasti menyebabkan putus". Faktor lain juga berperan.

64 STUDI, 1.784 ESTIMASI: KOMUNIKASI POSITIF DAN NEGATIF BERKAITAN DENGAN KUALITAS HUBUNGAN

Salah satu penelitian penting dilakukan Jeremy B. Kanter, Justin A. Lavner, Daniel G. Lannin, Joseph Hilgard dan J. Kale Monk.

Meta-analisis tersebut menggabungkan 64 studi dyadik dengan 1.784 estimasi parameter untuk melihat apakah pola komunikasi pasangan berkaitan dengan kualitas hubungan dan kemungkinan berakhirnya hubungan.

Hasilnya menunjukkan perilaku komunikasi positif berkaitan secara signifikan dengan kualitas hubungan berikutnya. Sebaliknya, perilaku komunikasi negatif berkaitan dengan kualitas hubungan yang lebih rendah.

Peneliti juga menemukan komunikasi negatif mempunyai hubungan yang signifikan dengan kemungkinan terjadinya dissolution atau berakhirnya hubungan.

Namun ada catatan penting: ukuran efeknya relatif kecil. Artinya, komunikasi bukan satu-satunya faktor yang menentukan masa depan sebuah hubungan.

Temuan tersebut penting karena membantah dua pandangan ekstrem.

Pertama, anggapan bahwa komunikasi adalah satu-satunya penyebab hubungan gagal.

Kedua, anggapan bahwa komunikasi tidak penting selama masih ada cinta.

Keduanya terlalu sederhana.

RISET 2026: KOMUNIKASI POSITIF KONSISTEN BERKAITAN DENGAN KEPUASAN HUBUNGAN

Penelitian yang terbit pada 2026 melalui Couple and Family Psychology: Research and Practice melakukan systematic review terhadap penelitian mengenai komunikasi pasangan yang diamati secara langsung.

Review tersebut memasukkan 28 artikel, dengan penelitian longitudinal maupun cross-sectional dan berbagai bentuk interaksi pasangan.

Hasil review memberikan dukungan terhadap hubungan antara komunikasi positif dan kepuasan hubungan yang lebih tinggi.

Menariknya, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa konteks pembicaraan dan jenis persoalan yang dibahas dapat memengaruhi bagaimana komunikasi negatif berkaitan dengan kepuasan hubungan.

Dengan kata lain, tidak setiap perdebatan otomatis berarti hubungan sedang menuju kehancuran. Konteks, cara berkomunikasi dan bagaimana konflik dikelola tetap penting.

KOMUNIKASI BUKAN HUBUNGAN SATU ARAH

Dalam hubungan yang sehat, komunikasi seharusnya tidak berbentuk:

Satu orang bicara — satu orang diam.

Bukan pula:

Satu orang menentukan — satu orang mengikuti.

Komunikasi dua arah menempatkan kedua pihak sebagai subjek yang mempunyai hak untuk didengar.

Karena itu, ada perbedaan besar antara:

"Menurut saya masalahnya seperti ini."

dengan:

"Menurut saya masalahnya seperti ini. Bagaimana menurut kamu?"

Kalimat kedua membuka ruang dialog.

Demikian pula:

"Kamu harus mengerti saya."

berbeda dengan:

"Saya ingin kamu memahami apa yang saya rasakan. Setelah itu saya juga ingin mendengar bagaimana kamu melihat persoalan ini."

Yang kedua menciptakan pertukaran.

BUKAN HANYA BERBICARA, TETAPI MAMPU MENDENGARKAN

Masalah komunikasi sering kali bukan karena seseorang tidak mampu berbicara.

Masalahnya justru karena keduanya ingin didengar, tetapi tidak ada yang benar-benar mau mendengarkan.

Dalam konflik, seseorang dapat sibuk menyiapkan jawaban sebelum pasangannya selesai berbicara.

Akibatnya, percakapan berubah menjadi kompetisi.

Siapa paling benar?

Siapa paling menderita?

Siapa paling banyak berkorban?

Siapa yang harus meminta maaf?

Pada titik tersebut, komunikasi tidak lagi digunakan untuk memahami persoalan, tetapi untuk memenangkan perdebatan.

"FOUR HORSEMEN": KRITIK, DEFENSIF, PENGHINAAN DAN MENARIK DIRI

Penelitian John Gottman dan koleganya selama puluhan tahun menjadi salah satu rujukan terkenal dalam kajian interaksi pasangan.

Gottman Institute merangkum empat pola komunikasi negatif yang dikenal sebagai Four Horsemen:

1. Criticism — menyerang karakter pasangan, bukan membahas perilaku tertentu.
2. Defensiveness — terus-menerus membela diri dan menolak tanggung jawab.
3. Contempt — penghinaan, ejekan atau merendahkan pasangan.
4. Stonewalling — menarik diri dan menutup komunikasi.

Penelitian Gottman juga melaporkan bahwa pola interaksi pasangan dapat menunjukkan stabilitas dalam jangka waktu tertentu dan bahwa sebagian besar masalah hubungan bersifat "perpetual problems", yakni persoalan yang tidak sepenuhnya terselesaikan karena perbedaan karakter atau kebutuhan pasangan.

Namun temuan tersebut harus dibaca hati-hati. Model Gottman adalah salah satu tradisi penelitian hubungan, bukan alat untuk mendiagnosis setiap pasangan secara individual.

DATA MENUNJUKKAN: KUALITAS KOMUNIKASI DAN KEPUASAN HUBUNGAN SALING BERKAITAN

Penelitian longitudinal terhadap pasangan juga menunjukkan hubungan antara komunikasi dan kepuasan hubungan tidak selalu berjalan satu arah.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology menelaah hubungan komunikasi dan kepuasan pasangan dari waktu ke waktu.

Temuannya menunjukkan adanya hubungan komunikasi terhadap kepuasan dan sebaliknya, tetapi kedua jalur tersebut tidak selalu kuat.

Pesannya jelas:

Hubungan yang bahagia dapat membuat komunikasi menjadi lebih positif, tetapi komunikasi juga dapat ikut membentuk kualitas hubungan.

Karena itu, hubungan asmara tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu variabel.

YANG BERBAHAYA BUKAN PERBEDAAN, MELAINKAN CARA MENGHADAPINYA

Pasangan berbeda pendapat adalah hal normal.

Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan berubah menjadi:

- penghinaan;
- ancaman;
- manipulasi;
- silent treatment berkepanjangan;
- kontrol berlebihan;
- pembungkaman;
- menyalahkan pasangan untuk semua persoalan;
- atau penolakan untuk berdialog.

Konflik masih dapat menjadi bagian dari hubungan sehat apabila kedua pihak tetap mempunyai ruang untuk berbicara dan memperbaiki interaksi.

Sebaliknya, hubungan dapat semakin rapuh ketika setiap konflik selalu berakhir dengan satu pihak merasa menang dan pihak lain merasa kalah.

KOMUNIKASI DUA ARAH BUKAN BERARTI HARUS SELALU SEPAKAT

Ini yang sering disalahartikan.

Komunikasi dua arah tidak mensyaratkan kesepakatan total.

Pasangan boleh berbeda pendapat.

Boleh kecewa.

Boleh marah.

Boleh membutuhkan waktu untuk berpikir.

Yang menjadi fondasi adalah adanya penghormatan terhadap hak masing-masing untuk menyampaikan pandangan.

Kalimat:

"Saya tidak setuju dengan pendapatmu."

masih merupakan komunikasi.

Tetapi:

"Pendapatmu bodoh dan tidak perlu didengar."

sudah mengubah perbedaan pendapat menjadi serangan personal.

DARI "SIAPA YANG SALAH?" MENJADI "APA YANG HARUS DIPERBAIKI?"

Hubungan yang matang tidak selalu mencari pihak yang harus disalahkan.

Pertanyaan yang lebih produktif adalah:

Apa yang sebenarnya terjadi?

Apa yang membuat masing-masing merasa terluka?

Apa kebutuhan yang belum tersampaikan?

Apa yang bisa diperbaiki bersama?

Cara berpikir tersebut mengubah komunikasi dari arena pertarungan menjadi ruang penyelesaian masalah.

KESIMPULAN JURNALISTIK

Riset tidak memberikan satu formula universal untuk mempertahankan hubungan. Namun berbagai penelitian menunjukkan pola komunikasi mempunyai hubungan dengan kualitas hubungan dan, dalam sejumlah penelitian, dengan keberlangsungan hubungan.

Karena itu, komunikasi dua arah bukan sekadar persoalan romantisme.

Ia merupakan mekanisme untuk membangun pemahaman, mengelola konflik dan menjaga keterhubungan emosional.

Cinta dapat menjadi alasan dua orang bertahan.

Tetapi tanpa komunikasi yang sehat, cinta dapat kehilangan jalan untuk menyampaikan apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Pada akhirnya, pertanyaan paling sederhana dalam sebuah hubungan bukan:

"Apakah kamu masih mencintaiku?"

Melainkan:

"Apakah kita masih mampu saling berbicara, saling mendengar dan saling memahami?"

Sebab hubungan yang hanya mempunyai satu suara mungkin masih terlihat berjalan.

Tetapi hubungan yang memiliki dua suara yang sama-sama didengar mempunyai peluang lebih besar untuk tumbuh secara sehat.

CATATAN METODOLOGIS

Tulisan ini menggunakan literatur ilmiah dan meta-analisis sebagai dasar, bukan survei baru terhadap masyarakat Indonesia. Karena itu, hasil penelitian internasional tidak boleh langsung digeneralisasi sebagai gambaran seluruh pasangan di Indonesia.

Untuk memperkuat publikasi sebagai laporan jurnalistik lapangan, diperlukan wawancara langsung dengan psikolog hubungan, akademisi komunikasi interpersonal, konselor keluarga/perkawinan dan, bila relevan, pasangan dengan pengalaman berbeda.

Sumber utama:
Kanter et al., Journal of Marriage and Family (2022); Johnson et al., Personality and Social Psychology Bulletin (2022); systematic review Couple and Family Psychology: Research and Practice (2026); serta literatur penelitian John Gottman dan kolega.
Memuat konten...