
JAKARTA — WartaGlobal.Id
Orang tua perlu meningkatkan pengawasan terhadap pola hidup anak yang mulai tidak teratur—siang lebih banyak tidur, sementara malam hari keluyuran tanpa tujuan dan tanpa pengawasan yang jelas.
Kebiasaan tersebut tidak boleh dianggap sekadar persoalan “anak muda memang suka begadang”. Jika berlangsung terus-menerus, perubahan pola tidur dan aktivitas malam dapat berdampak pada disiplin, pendidikan, produktivitas, hubungan keluarga, serta lingkungan pergaulan anak.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika orang tua tidak mengetahui anak pergi ke mana, bersama siapa, dan melakukan aktivitas apa hingga larut malam.
BUKAN SOAL MELARANG, TAPI SOAL TANGGUNG JAWAB
Orang tua memang tidak mungkin mengawasi anak selama 24 jam. Namun, membiarkan anak bebas keluar rumah setiap malam tanpa batasan juga bukan bentuk kebebasan yang sehat.
Anak membutuhkan kepercayaan, tetapi kepercayaan harus berjalan bersama tanggung jawab dan pengawasan.
Orang tua perlu mengetahui batas waktu pulang, aktivitas anak, teman sepergaulan, serta memastikan tidak ada persoalan serius yang menyebabkan anak sengaja menghindari rumah pada malam hari.
JANGAN TUNGGU SAMPAI TERJADI MASALAH
Lingkungan malam memiliki berbagai risiko. Mulai dari kecelakaan lalu lintas, konflik antarremaja, penyalahgunaan zat, kekerasan, hingga menjadi korban tindak kejahatan.
Karena itu, ketika anak mulai terbiasa tidur pada siang hari dan berkeliaran pada malam hari, orang tua sebaiknya tidak hanya memarahi, tetapi mencari tahu penyebabnya.
Apakah karena lingkungan pertemanan? Penggunaan gawai? Masalah sekolah? Konflik keluarga? Atau sekadar pola hidup yang dibiarkan terlalu lama?
ORANG TUA JANGAN HANYA MENJADI PENONTON
Pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah.
Rumah adalah tempat pertama seorang anak belajar mengenai disiplin, batasan, tanggung jawab dan konsekuensi.
Jika anak terus-menerus pulang larut malam tanpa alasan yang jelas, orang tua perlu mengambil sikap. Buat aturan yang jelas, komunikasikan konsekuensinya, dan konsisten menerapkannya.
Tegas bukan berarti kasar.
Mengawasi bukan berarti mengekang.
Memberikan kebebasan bukan berarti membiarkan anak tanpa arah.
Pesannya sederhana: jangan sampai orang tua baru bertindak setelah anak terjerumus ke persoalan yang jauh lebih besar.
Anak memang harus tumbuh mandiri. Tetapi kemandirian tanpa pengawasan dan tanggung jawab dapat berubah menjadi kebebasan yang berisiko.
Orang tua perlu hadir. Bukan hanya ketika anak bermasalah, tetapi sejak tanda-tanda perubahan perilaku mulai terlihat.

.jpg)