
New Delhi, India — WartaGlobal.Id
Konstelasi ekonomi dan geopolitik dunia kembali menjadi sorotan dalam KTT BRICS ke-18 yang digelar di New Delhi, India, 12–13 September 2026. India menjadi Ketua BRICS 2026 sekaligus tuan rumah pertemuan tingkat tinggi negara-negara anggota.
Presiden Rusia Vladimir Putin dalam forum BRICS Business Forum melontarkan pernyataan keras mengenai pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Ia menilai negara-negara BRICS kini menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi global, sekaligus menyoroti kontribusi kelompok G7.
Putin menyatakan bahwa lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi global dalam lima tahun terakhir berasal dari negara-negara BRICS, sementara negara-negara G7 disebut hanya menyumbang sekitar 18 persen.
Pernyataan tersebut mendapat perhatian luas karena disampaikan di tengah meningkatnya persaingan antara negara-negara BRICS dan kelompok ekonomi Barat.
Namun, angka tersebut perlu ditempatkan secara tepat. Laporan media mengenai pidato Putin menyebut ia merujuk pada kontribusi BRICS terhadap pertumbuhan ekonomi global dalam periode lima tahun terakhir, bukan berarti BRICS secara keseluruhan memiliki lebih dari separuh total PDB dunia.
BRICS Makin Besar, Peta Ekonomi Dunia Bergeser
BRICS telah mengalami ekspansi besar dalam beberapa tahun terakhir. Selain Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan, kelompok ini kini mencakup sejumlah negara lain, termasuk Indonesia, Iran, Mesir, Ethiopia dan Uni Emirat Arab. Reuters mencatat BRICS saat ini mewakili lebih dari 40 persen populasi dunia dan hampir seperempat PDB global berdasarkan ukuran nominal.
Kehadiran Indonesia sebagai anggota juga memperkuat posisi Asia Tenggara dalam konfigurasi ekonomi negara-negara berkembang.
KTT di New Delhi memperlihatkan semakin kuatnya agenda BRICS untuk membangun kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi, teknologi dan sistem pembayaran yang tidak terlalu bergantung pada infrastruktur keuangan Barat.
Putin: Era Kepemimpinan Ekonomi Lama Mulai Bergeser
Dalam forum tersebut, Putin menggambarkan ekonomi dunia sedang mengalami perubahan struktural yang mendalam. Ia menilai pusat-pusat pertumbuhan baru semakin menentukan arah perekonomian global.
Pesan politiknya jelas: BRICS ingin tampil bukan sekadar sebagai forum negara berkembang, tetapi sebagai salah satu pusat kekuatan ekonomi dunia.
Di sisi lain, Perdana Menteri India Narendra Modi berusaha menempatkan BRICS sebagai platform kerja sama yang tidak secara otomatis diarahkan untuk menjadi blok anti-Barat. Sikap ini mencerminkan posisi strategis India yang tetap menjaga hubungan dengan Amerika Serikat sekaligus mempertahankan kemitraan penting dengan Rusia dan negara-negara BRICS lainnya.
Bukan Sekadar Pertarungan Angka
Pertarungan BRICS dan G7 sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang persentase pertumbuhan ekonomi.
Di balik angka tersebut terdapat perebutan pengaruh atas perdagangan global, energi, teknologi, investasi, sistem pembayaran, mata uang, rantai pasok dan tata kelola lembaga internasional.
BRICS juga semakin mendorong penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan serta pengembangan konektivitas sistem pembayaran lintas negara. Pada KTT New Delhi, isu penguatan sistem pembayaran alternatif dan pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS kembali menjadi salah satu agenda penting.
Catatan Jurnalis
Pernyataan Putin merupakan klaim politik-ekonomi yang harus dibaca dalam konteks forum BRICS, bukan sebagai bukti tunggal bahwa BRICS telah mengambil alih ekonomi dunia.
Tetapi satu fakta sulit diabaikan: pusat gravitasi ekonomi global memang semakin tersebar.
BRICS yang dahulu hanya dikenal sebagai forum Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan kini telah berkembang menjadi platform yang jauh lebih besar dengan kepentingan ekonomi dan geopolitik yang semakin luas.
KTT New Delhi 2026 karena itu bukan sekadar pertemuan tahunan.
Ini adalah panggung perebutan arah baru tatanan ekonomi dunia—antara dominasi lama, kekuatan baru, dan dunia multipolar yang sedang dibentuk.
WartaGlobal.Id — Tajam Membaca Perubahan Global.
.jpg)