
Jakarta–WartaGlobal.Id
Ada pejabat yang membuat wartawan harus mengejar jawaban. Ada pula pejabat yang justru membuat ruang konferensi pers terasa seperti ruang dialog.
Purbaya Yudhi Sadewa berada pada kategori kedua.
Bukan karena seluruh kebijakannya harus dianggap benar, bukan pula karena semua pernyataannya otomatis menjadi pembenaran atas kinerja pemerintah. Tetapi dari perspektif komunikasi publik, Purbaya memiliki satu modal yang sulit diukur dengan angka: akses komunikasi yang relatif cair dengan awak media.
Ia berbicara dengan bahasa yang mudah dicerna, tidak selalu terjebak pada kalimat birokratis, dan kerap menjawab pertanyaan ekonomi dengan gaya yang lebih langsung.
Bagi wartawan, ini penting.
Sebab dalam kerja jurnalistik, informasi bukan hanya soal apa yang dikatakan pejabat, tetapi juga seberapa mudah publik mendapatkan penjelasan atas kebijakan negara.
Bukan Sekadar “Ramah Media”
Fenomena Purbaya bahkan telah menjadi objek kajian akademik.
Sebuah penelitian yang terbit dalam Komunikatif: Jurnal Ilmiah Komunikasi pada Juli 2026 menganalisis bagaimana media daring membingkai gaya komunikasi Purbaya dan konstruksi citranya di ruang publik. Penelitian tersebut menggunakan pemberitaan Detik.com dan Liputan6.com pada September–November 2025 sebagai bahan analisis.
Penelitian lain mengenai personal branding Purbaya di TikTok juga menempatkan komunikasi digital sebagai bagian dari pembentukan citra tokoh ekonomi di mata audiens.
Artinya, gaya komunikasi Purbaya bukan semata kesan subjektif wartawan.
Ia telah menjadi fenomena komunikasi politik-ekonomi yang menarik untuk diteliti.
“Renyah” Karena Tidak Terlalu Berjarak
Dalam praktik jurnalistik, pejabat yang komunikatif memberikan keuntungan penting: ruang klarifikasi menjadi lebih terbuka.
Ekonomi memiliki bahasa yang sering kali berat: defisit, likuiditas, fiskal, penerimaan negara, belanja negara, rasio utang, pertumbuhan kredit, hingga stabilitas nilai tukar.
Ketika pejabat mampu menerjemahkan istilah tersebut ke bahasa publik, jarak antara kebijakan negara dan masyarakat menjadi lebih pendek.
Purbaya beberapa kali menggunakan gaya bahasa yang lebih informal ketika berhadapan dengan media.
Bahkan pada taklimat media 8 September 2026, tepat setahun setelah menjabat Menkeu, ia masih menjawab pertanyaan wartawan mengenai prospek pertumbuhan ekonomi dan menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan kuartal tersebut dapat mendekati 6 persen.
Di sinilah letak “renyah”-nya komunikasi publik.
Bukan berarti wartawan harus menyukai pejabatnya.
Justru sebaliknya.
Pejabat yang mudah ditemui dan mudah ditanya akan lebih mudah pula diuji oleh pertanyaan jurnalistik.
Tetapi Media Tidak Boleh Terlena
Di sinilah garis merahnya.
Komunikasi yang menyenangkan bukan ukuran tunggal keberhasilan seorang pejabat.
Ramah kepada wartawan bukan berarti kebijakan otomatis benar.
Terbuka kepada media bukan berarti angka ekonomi tidak perlu diverifikasi.
Dan kemampuan berbicara secara sederhana tidak boleh menggantikan kebutuhan terhadap data.
Selama setahun menjadi Menteri Keuangan, Purbaya menjalankan sejumlah kebijakan penting, termasuk penempatan dana pemerintah Rp200 triliun pada bank-bank Himbara untuk mendorong pertumbuhan kredit. Kebijakan tersebut dikaitkan dengan kondisi pertumbuhan kredit perbankan yang saat itu masih berada di kisaran 7 persen.
Kebijakan seperti itu harus diuji melalui indikator.
Berapa tambahan kredit?
Berapa dampaknya terhadap investasi?
Bagaimana kualitas kredit?
Bagaimana pengaruhnya terhadap konsumsi?
Bagaimana konsekuensinya terhadap APBN dan stabilitas moneter?
Itulah tugas media.
Bukan menjadi penggemar pejabat.
Setahun Kemudian, Kursi Itu Berpindah
Pada 14 September 2026, Presiden Prabowo Subianto mengganti Purbaya dengan Suahasil Nazara.
Sehari kemudian, 15 September, dilakukan serah terima jabatan di Kementerian Keuangan. Purbaya menyerahkan laporan kinerja masa jabatannya kepada Suahasil.
Menariknya, dalam momentum tersebut Purbaya justru memilih berbicara singkat.
“Terima kasih semua atas kerja sama selama satu tahun terakhir,” demikian inti sambutannya sebagaimana diberitakan ANTARA.
Tidak ada panggung panjang.
Tidak ada perang narasi.
Tidak ada upaya mempertahankan kursi yang sudah berpindah tangan.
Setelah tidak lagi menjadi Menkeu, Purbaya juga menjawab wartawan dengan gaya santai ketika ditanya mengenai aktivitas berikutnya. Ia mengatakan ingin memancing di kolam belakang rumahnya.
Sederhana.
Dan justru kesederhanaan itulah yang membuat komunikasi publik seorang pejabat terasa manusiawi.
Paradoks Purbaya
Di satu sisi, gaya komunikasi Purbaya relatif cair dan mudah dikonsumsi media.
Di sisi lain, jabatan Menteri Keuangan menuntut sesuatu yang jauh lebih keras daripada sekadar kemampuan berkomunikasi: angka yang dapat dipertanggungjawabkan, kebijakan yang konsisten, kredibilitas fiskal dan transparansi.
Reuters melaporkan bahwa selama masa jabatan Purbaya, ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan yang kuat, tetapi periode tersebut juga dibayangi pelebaran defisit anggaran serta kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan fiskal. Purbaya sendiri mengatakan kepada Reuters setelah pergantian bahwa ia kecewa, tetapi sebagian sudah memperkirakan kemungkinan dirinya diganti karena adanya perbedaan dengan sejumlah pejabat.
Di sinilah media harus berdiri.
Bukan di belakang Purbaya. Bukan pula di depan Purbaya.
Melainkan di samping publik.
Catatan Jurnalis
Purbaya boleh dikenang sebagai pejabat yang komunikasinya “renyah”.
Tetapi sejarah kebijakan ekonomi tidak ditulis oleh gaya bicara.
Ia ditulis oleh data, keputusan, dampak dan pertanggungjawaban.
Bagi awak media, pejabat yang tidak membangun tembok komunikasi adalah keuntungan.
Sebab wartawan membutuhkan akses.
Publik membutuhkan penjelasan.
Negara membutuhkan transparansi.
Namun setelah mikrofon dimatikan, pekerjaan jurnalistik belum selesai.
Justru dimulai.
Pertanyaan berikutnya selalu sama:
Apa datanya?
Apa dampaknya?
Siapa yang diuntungkan?
Siapa yang menanggung risikonya?
Dan yang paling penting:
Apakah komunikasi publik yang renyah benar-benar berjalan seiring dengan kebijakan publik yang dapat dipertanggungjawabkan?.*Netti
Itulah pekerjaan media.
Bukan sekadar mendengar pejabat berbicara.
Tetapi menguji setiap kata dengan fakta.
.jpg)