
Denpasar–WartaGlobal.Id
Karya Jurnalis
Ada paradoks yang sering terjadi dalam kehidupan: orang meminta kepercayaan, tetapi justru merasa terganggu ketika kebenarannya diperiksa.
Di titik itulah tabayun menjadi penting.
Tabayun bukan mencari siapa yang salah. Bukan pula upaya mempermalukan seseorang. Tabayun adalah keberanian untuk berhenti sejenak, mendengar dari berbagai sisi, memeriksa fakta, lalu mengambil sikap berdasarkan informasi yang lebih utuh.
Namun ironinya, ketika seseorang memilih tabayun, ia terkadang dianggap tidak percaya.
Inilah paradoksnya: yang bertanya dianggap mencurigakan, sementara yang langsung percaya dianggap bijaksana.
Padahal, percaya dan memverifikasi bukan dua hal yang selalu bertentangan.
TABAYUN ADALAH PERINTAH UNTUK TIDAK TERGESA-GESA
Prinsip tabayun memiliki dasar kuat dalam QS. Al-Hujurat ayat 6, yang mengingatkan agar sebuah berita diperiksa terlebih dahulu sehingga seseorang tidak merugikan pihak lain karena informasi yang belum jelas dan kemudian menyesalinya.
Maknanya sangat relevan dengan kehidupan modern.
Satu informasi tidak otomatis menjadi kebenaran hanya karena disampaikan dengan yakin.
Satu cerita tidak otomatis menjadi fakta hanya karena banyak orang mengulanginya.
Dan sebuah tuduhan tidak otomatis menjadi kesalahan hanya karena terdengar meyakinkan.
Tabayun menempatkan verifikasi sebelum kesimpulan.
PARADOKS DI ERA DIGITAL
Kita hidup dalam zaman ketika informasi dapat beredar dalam hitungan detik.
Tetapi kecepatan informasi tidak selalu identik dengan ketepatan informasi.
Sebuah potongan video dapat kehilangan konteks.
Sebuah percakapan dapat dipotong.
Sebuah pernyataan dapat ditafsirkan berbeda.
Sebuah unggahan dapat menjadi opini publik sebelum pihak yang disebut mendapatkan kesempatan menjelaskan.
Karena itu, semakin cepat informasi bergerak, semakin penting pula disiplin untuk melakukan verifikasi.
Dewan Pers menekankan bahwa pers harus menjalankan prinsip jurnalistik, termasuk uji informasi atau verifikasi, independensi, kepentingan publik, dan penghormatan terhadap kebhinekaan. Dewan Pers juga mengingatkan agar informasi dari media sosial tidak digunakan begitu saja tanpa verifikasi.
TABAYUN BUKAN KETIDAKPERCAYAAN
Ada orang yang bertanya karena ingin menyerang.
Tetapi ada pula orang yang bertanya karena ingin memahami.
Keduanya tidak boleh disamakan.
Dalam konteks jurnalistik, pertanyaan justru merupakan instrumen untuk memperoleh informasi yang lebih akurat.
Bertanya bukan menuduh.
Mengonfirmasi bukan menghakimi.
Meminta bukti bukan berarti tidak percaya.
Justru dengan melakukan konfirmasi, seseorang memberikan kesempatan kepada fakta untuk berbicara.
HUKUM PERS MENGENAL PRINSIP KESEIMBANGAN
Dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Pasal 5 menegaskan kewajiban pers dalam memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma agama, kesusilaan masyarakat, serta asas praduga tak bersalah. Pers juga wajib melayani Hak Jawab dan Hak Koreksi.
Sementara Pasal 6 menempatkan pers sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial dan menegaskan pentingnya informasi yang tepat, akurat, dan benar, sekaligus memperjuangkan keadilan dan kebenaran.
Dengan demikian, tabayun memiliki relevansi yang kuat dengan kerja jurnalistik:
dengar — periksa — konfirmasi — verifikasi — baru simpulkan.
SAAT AKU MEMILIH TABAYUN
Saat aku memilih tabayun, aku tidak sedang menunjukkan kelemahan.
Aku sedang menjaga agar pikiranku tidak dikendalikan oleh cerita sepihak.
Aku tidak sedang mencari pembenaran.
Aku sedang mencari kebenaran.
Jika informasi awal ternyata benar, proses tabayun membuat kebenaran itu memiliki dasar yang lebih kuat.
Jika informasi awal ternyata keliru, tabayun mencegah seseorang melakukan penilaian yang tidak adil.
Di situlah paradoksnya.
Orang yang terburu-buru sering merasa paling yakin.
Orang yang melakukan tabayun justru bersedia mengakui bahwa ia belum mengetahui seluruh fakta.
CATATAN JURNALIS
Kebenaran tidak membutuhkan kemarahan untuk menjadi benar.
Kebenaran membutuhkan bukti.
Kebenaran membutuhkan konteks.
Kebenaran membutuhkan keberanian untuk mendengar pihak yang berbeda.
Dan kebenaran membutuhkan ruang untuk dikoreksi ketika fakta baru muncul.
Maka ketika aku berkata:
“Aku memilih tabayun.”
Itu bukan berarti aku tidak percaya.
Itu berarti aku tidak ingin mempercayai sesuatu secara buta.
Sebab dalam dunia yang dipenuhi suara, opini, potongan informasi, dan narasi yang saling bertabrakan—
tabayun adalah keberanian untuk tidak terburu-buru menjadi hakim.
WartaGlobal.Id — Tajam pada fakta, berimbang dalam suara.
.jpg)