
Ketika Keyakinan Mengalahkan Pengetahuan, Suara Keras Mengalahkan Fakta
Karya Jurnalis | WartaGlobal
Ada paradoks besar dalam komunikasi modern: semakin mudah manusia mengakses informasi, semakin mudah pula manusia merasa dirinya memahami segala sesuatu.
Internet telah membuka pintu pengetahuan hampir tanpa batas. Namun akses terhadap informasi tidak otomatis menghasilkan pengetahuan. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa pencarian informasi di internet dapat membuat seseorang memiliki persepsi pengetahuan yang lebih tinggi, termasuk ketika informasi yang dicari tidak berhasil ditemukan.
Di sinilah persoalan menjadi lebih serius.
Seseorang dapat memiliki akses terhadap ribuan informasi, tetapi tidak memiliki kemampuan memeriksa validitasnya.
Ia dapat mengutip banyak istilah, tetapi tidak memahami konteks.
Ia dapat berbicara sangat yakin, tetapi tidak mampu menjelaskan dari mana keyakinannya berasal.
Inilah paradoks zaman informasi: manusia tidak kekurangan informasi, tetapi dapat kekurangan kemampuan untuk menilai informasi.
DUNNING-KRUGER: BUKAN SEKADAR "ORANG BODOH"
Pada 1999, Justin Kruger dan David Dunning menerbitkan penelitian yang kemudian dikenal luas melalui istilah Dunning–Kruger effect.
Dalam empat studi, mereka menemukan bahwa peserta dengan performa rendah pada tugas tertentu cenderung melebihkan kemampuan mereka sendiri. Salah satu mekanismenya adalah keterbatasan metakognitif: kemampuan yang diperlukan untuk menghasilkan penilaian yang benar juga membantu seseorang mengenali apakah dirinya benar atau keliru.
Namun temuan tersebut sering mengalami penyederhanaan di ruang publik.
Dunning–Kruger bukan berarti:
"Orang bodoh selalu lebih percaya diri daripada orang pintar."
Bukan pula alat untuk memberi cap psikologis kepada orang yang berbeda pendapat dengan kita.
Fenomena tersebut lebih tepat dipahami sebagai masalah kalibrasi antara kemampuan aktual dan penilaian seseorang terhadap kemampuannya sendiri pada bidang tertentu.
Artinya, seseorang dapat sangat kompeten dalam satu bidang tetapi keliru menilai kapasitasnya dalam bidang lain.
Kecerdasan tidak bersifat universal dalam setiap persoalan.
Seorang ahli hukum tidak otomatis menjadi ahli epidemiologi. Seorang akademisi tidak otomatis memahami seluruh persoalan ekonomi. Seorang jurnalis pun tetap harus melakukan verifikasi ketika memasuki bidang yang bukan keahliannya.
Di sinilah kerendahan hati intelektual menjadi penting.
KETIKA OPINI BERUBAH MENJADI "FAKTA"
Masalah komunikasi modern bukan hanya orang yang salah.
Masalah yang lebih besar adalah ketika seseorang tidak memiliki mekanisme untuk menyadari bahwa dirinya mungkin salah.
Kalimat:
"Menurut saya..."
perlahan berubah menjadi:
"Ini faktanya."
Kemudian berkembang menjadi:
"Semua orang tahu itu."
Padahal, tiga kalimat tersebut memiliki status epistemik yang sangat berbeda.
Pendapat adalah pendapat.
Dugaan adalah dugaan.
Fakta membutuhkan pembuktian.
Namun media sosial sering menghapus batas tersebut.
Satu unggahan dapat membuat opini pribadi tampak seperti laporan faktual. Ribuan komentar kemudian menciptakan kesan adanya konsensus.
Yang viral belum tentu benar. Yang banyak disukai belum tentu valid. Yang sering diulang belum tentu menjadi fakta.
PARADOKS REPETISI: KEBENARAN PALSU BISA TERASA AKRAB
Psikologi kognitif mengenal illusory truth effect, yaitu kecenderungan orang menilai informasi lebih benar setelah informasi tersebut berulang kali ditemui.
Penelitian bahkan menunjukkan bahwa pengulangan dapat meningkatkan persepsi kebenaran, termasuk terhadap klaim yang sebenarnya salah.
Artinya, seseorang tidak selalu percaya karena telah memverifikasi.
Kadang seseorang percaya karena sudah terlalu sering mendengar hal yang sama.
Inilah yang membuat ruang digital sangat rentan.
Sebuah klaim muncul.
Diunggah ulang.
Dikomentari.
Diperdebatkan.
Dipotong menjadi video pendek.
Kemudian muncul kembali di platform lain.
Pada akhirnya, otak mengenali informasi tersebut sebagai sesuatu yang familiar.
Dan familiaritas dapat keliru dianggap sebagai kebenaran.
APA juga memperingatkan bahwa pengulangan informasi palsu dapat memperkuat kepercayaan terhadap klaim tersebut; karena itu, koreksi harus disampaikan dengan jelas ketika sebuah informasi keliru dibahas.
ALGORITMA DAN EKONOMI KEBISINGAN
Persoalannya tidak berhenti pada psikologi manusia.
Ada ekosistem digital yang ikut memperkuatnya.
Konten yang provokatif, emosional, sensasional, atau kontroversial memiliki potensi menghasilkan interaksi tinggi. Penelitian dan kajian psikologi komunikasi menunjukkan bahwa emosi seperti ketakutan dan kemarahan dapat meningkatkan kerentanan terhadap informasi palsu, sementara pengulangan di media sosial dapat membuat informasi keliru semakin melekat dalam ingatan.
Dengan demikian, ruang digital menghadirkan paradoks baru:
orang yang paling hati-hati belum tentu paling terlihat, sementara orang yang paling provokatif belum tentu paling benar.
Yang tenang membutuhkan waktu untuk membaca.
Yang sensasional hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengunggah.
Yang akademis membutuhkan catatan kaki.
Yang viral cukup membutuhkan judul yang mengguncang.
Di sinilah masyarakat harus mulai memahami bahwa engagement bukan ukuran kebenaran.
KEBISINGAN DAPAT MENGALAHKAN KUALITAS
Dalam komunikasi publik, suara keras memiliki satu keunggulan: mudah dikenali.
Namun mudah dikenali tidak sama dengan layak dipercaya.
Seorang yang berbicara dengan penuh kepastian dapat tampak lebih berwibawa dibandingkan seseorang yang mengatakan:
"Saya belum memiliki cukup data untuk menyimpulkan."
Padahal kalimat kedua dapat menunjukkan kualitas berpikir yang lebih sehat.
Sebab orang yang memahami kompleksitas sebuah persoalan biasanya menyadari adanya variabel, keterbatasan data, kemungkinan kesalahan, dan konteks.
Sebaliknya, mereka yang melihat persoalan secara hitam-putih lebih mudah menghasilkan kesimpulan absolut.
Pengetahuan memperkenalkan kompleksitas.
Ketidaktahuan sering menyederhanakannya.
JURNALISME BERADA DI GARIS DEPAN
Di tengah kondisi tersebut, jurnalisme memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan apa yang sedang ramai.
Jurnalisme tidak boleh menjadi pengeras suara bagi informasi yang belum teruji.
Kerja jurnalistik membutuhkan verifikasi, konfirmasi, konteks, keberimbangan, dan pemisahan antara fakta dengan opini.
Karena itu, wartawan tidak seharusnya bertanya:
"Apakah informasi ini akan viral?"
Pertanyaan pertama justru harus:
"Apakah informasi ini dapat dipertanggungjawabkan?"
Perbedaan tersebut menentukan apakah media menjadi institusi pengetahuan atau sekadar mesin reproduksi kebisingan.
BAGAIMANA MEMPERTAHANKAN MARTABAT DI TENGAH DEBAT?
Ada enam disiplin sederhana.
Pertama, jangan menganggap kepercayaan diri sebagai bukti kebenaran.
Tanyakan dasar argumentasinya.
Kedua, jangan menjadikan setiap perbedaan pendapat sebagai pertarungan ego.
Tidak semua debat harus dimenangkan.
Ketiga, kembali kepada data.
Ketika opini bertabrakan, fakta menjadi titik temu.
Keempat, periksa sumber.
Siapa yang mengatakan? Dalam konteks apa? Apa bukti pendukungnya? Apakah ada sumber primer?
Kelima, kendalikan emosi.
Nada tinggi tidak menambah kekuatan sebuah argumentasi.
Keenam, tahu kapan harus berhenti.
Jika percakapan telah berubah menjadi penghinaan, manipulasi, atau pengulangan tanpa dasar, meninggalkan percakapan dapat menjadi bentuk kecerdasan.
PARADOKS TERAKHIR
Mungkin paradoks terbesar bukanlah bahwa orang yang kurang tahu bisa terlalu percaya diri.
Paradoks yang lebih dalam adalah:
orang yang merasa sudah mengetahui semuanya berhenti belajar.
Sementara orang yang menyadari keterbatasan pengetahuannya justru memiliki ruang untuk berkembang.
Kecerdasan bukan sekadar kemampuan menjawab.
Kecerdasan juga merupakan kemampuan mengatakan:
"Saya belum tahu."
Kemudian mencari tahu.
Mengoreksi diri.
Memeriksa ulang.
Mengubah pendapat ketika bukti berubah.
Dan berani mengatakan:
"Saya keliru."
Di era ketika semua orang dapat menjadi komentator, pembuat konten, analis, bahkan "pakar" dalam hitungan menit, kemampuan paling mahal bukan lagi sekadar berbicara.
Kemampuan paling mahal adalah membedakan antara apa yang kita ketahui, apa yang kita yakini, dan apa yang sebenarnya belum kita ketahui.
Sebab pada akhirnya, kebenaran tidak membutuhkan suara paling keras. Kebenaran membutuhkan bukti.
Dan dalam dunia yang semakin bising, kemampuan untuk tetap berpikir jernih mungkin merupakan bentuk perlawanan intelektual yang paling elegan.
.jpg)