Denpasar, 20/3/2026 ,WartaGlobal . Id
Ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) yang baru pulang dari Kamboja akhir-akhir ini bukan hanya membawa trauma fisik, tapi juga "algoritma pikir" yang terpapar racun egoisme dan keras kepala.
Mereka terjebak dalam jerat judi online (judol) dan penipuan skema algoritma, yang kini menjadi sorotan Kementerian Luar Negeri RI.Bayangkan: seorang pemuda asal Jawa Timur, yang kami namai Andi (bukan nama sebenarnya), tergiur janji cuan instan dari platform judol berbasis algoritma canggih. "Awalnya pikir gampang, algoritma itu kayak otak pintar yang bantu menang terus," cerita Andi saat ditemui di Bali, tempat ia kini menjalani rehabilitasi.
Tapi, kenyataannya? Ia terperangkap di kasino bawah tanah Kamboja selama enam bulan, dipaksa bekerja sebagai scammer menelepon korban di Indonesia.
Fenomena ini bukan kebetulan. Data sementara dari KBRI Phnom Penh mencatat 1.200 WNI dievakuasi sejak awal 2026, mayoritas korban judol dan scam kripto. Psikolog forensik Dr. Rina Susanti, pakar perilaku adiktif dari Universitas Indonesia, mengungkap akar masalahnya:
"Pikiran egois dan keras kepala—sikap mementingkan diri sendiri, minim empati, dan enggan dengar nasihat—adalah 'virus mental' yang membuat mereka terpapar. Ini berasal dari rasa takut gagal, harga diri membumbung, atau pola asuh permisif, yang merusak hubungan interpersonal dan membuka pintu jebakan digital."Dr. Rina menjelaskan, algoritma judol dirancang manipulatif:
ia "membaca" pola pikir korban yang egois, lalu menyajikan kemenangan kecil untuk memicu dopamin.
"Enggan terima pendapat orang tua atau teman yang bilang 'jangan main judi' justru memperkuat siklus. Hasilnya? Hutang miliaran, depresi, bahkan bunuh diri di lokasi," tambahnya.Kementerian Luar Negeri RI melalui Dirjen Perlindungan WNI, Iman Pambudi, menegaskan upaya repatriasi terus digencarkan. "Kami koordinasi dengan Kamboja untuk razia sindikat.
Tapi, pencegahan dimulai dari edukasi mental: ajari anak muda kenali egoisme sebelum terlanjur," ujarnya.Korban seperti Andi kini berbagi kisah untuk cegah yang lain.
"Saya keras kepala dulu, tapi pulang ke Indonesia buka mata. Jangan biarkan algoritma kuasai pikiranmu," pesannya. Pakar sarankan: terapkan "detoks digital" dan konseling empati untuk pulihkan korban.Kasus ini jadi pelajaran nasional: di balik kilau cuan judol, ada algoritma pikir yang terpapar—dan egoisme yang menghancurkan.
(Laporan investigatif WartaGlobal, data diverifikasi dari sumber resmi per 20 Maret 2026)