Singapura, WartaGlobal. Id
Sang "singa Asia" yang suka pamer efisiensi, kini jadi sasaran penyelidikan perdagangan ganas dari Amerika Serikat (AS). Negeri Paman Sam meluncurkan operasi ini ke tetangga dekat RI, menyoroti dugaan kelebihan kapasitas struktural di sektor manufaktur serta kegagalan Singapura cegah banjir impor barang haram hasil kerja paksa. Penyelidikan dipimpin Kantor Perwakilan Perdagangan AS (USTR), yang tak main-main gali bukti.
Singapura buru-buru angkat tangan: "Kami tolak kerja paksa di rantai pasok, punya kerangka komprehensif untuk gebuk praktik ilegal!" begitu klaim mereka ke AS, seperti dikutip laman setempat.
Tapi omong kosong ini cuma respons ala kadarnya terhadap dua penyelidikan AS yang sama-sama mencurigakan. Di mana bukti nyata? Di mana pengawasan ketat yang bikin investor global percaya, bukan cuma janji manis? Saat WNI di Kamboja meringkuk dalam jerat serupa, Singapura malah sibuk poles citra—penyelidikan AS ini alarm keras: sudah waktunya buka buku hitam rantai pasok tetangga kita.Netti/*