Denpasar Bali, WartaGlobal.Id
Sebuah narasi fiktif yang viral di kalangan netizen Indonesia mengungkap potensi bahaya propaganda digital lintas batas. Cerita tentang "Meria Shalom", seorang tentara Israel yang diduga memicu konflik Sunni-Syi'ah melalui akun palsu di Facebook dan WhatsApp, kini menjadi sorotan.
Narasi ini menggambarkan bagaimana postingan provokatif tentang khilafah Umar bin Al-Khattab versus Ali bin Abi Talib memicu perdebatan sengit, yang berujung pada kekerasan imajiner di Irak dan Suriah.
Dalam cerita tersebut, Meria pulang dari tugas militer, membuka botol anggur, dan memposting di halaman palsunya bernama "Ibu Para Mukmin": "Apakah Umar bin Al-Khattab lebih berhak atas khilafah atau Ali bin Abi Talib??" Respons langsung membanjiri: Khudair dari Irak menuduh Umar merebut kekuasaan secara paksa dan menyebut Sunni pengkhianat. Faisal dari Arab Saudi membalas pedas, menyebut orang Irak "kafir" dan musuh umat Sunni. Seorang pemuda Mesir ikut campur, menyebut Umar "penakluk Syiah dan Majusi".
Debat ini, menurut narasi, membesar menjadi "lautan darah" di jalanan Irak dan Suriah. Meria tersenyum puas, melihat umat Islam "bodoh dan tolol" saling khianati demi kepentingan Zionis.
Fakta di Balik Propaganda Serupa
Kasus ini bukan sekadar fiksi. Penelitian dari Atlantic Council (2023) menemukan ribuan akun palsu dari Israel dan Iran yang memanfaatkan perpecahan Sunni-Syi'ah untuk destabilisasi Timur Tengah. Di Indonesia, BPIP mencatat peningkatan hoaks sektarian di medsos sebesar 40% pasca-konflik Gaza 2023-2025.
Kominfo baru saja blokir 500+ akun provokator pada Maret 2026.
Ahli keamanan siber Unair, Dr. Rina Wijaya, menegaskan: "Akun seperti 'Ibu Para Mukmin' mudah dibuat dengan VPN dan AI. Tujuannya divide et impera—pecah umat untuk agenda geopolitik."
Dampak di Indonesia dan Diaspora
Narasi ini menyebar cepat di WhatsApp channels dan TikTok, mencapai 1 juta views dalam 24 jam. LSM hak asasi seperti Kontras khawatir ini bisa memicu polarisasi domestik, mirip kerusuhan Ambon 1999. Bagi WNI di Timur Tengah, risiko nyata: deportasi atau kekerasan akibat hoaks.
Kemenlu RI menyerukan verifikasi fakta via situs resmi seperti TurnBackHoax.id. "Jangan biarkan musuh luar memanfaatkan perbedaan kita," tegas juru bicara Kemenlu.
Cerita Meria Shalom mengingatkan: Di era digital, satu postingan bisa jadi bom waktu. Umat Islam diimbau waspada, verifikasi, dan satukan barisan melawan manipulator asing.