Jakarta, WartaGlobal.Id – Gejolak geopolitik kembali mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak mentah melonjak tajam hingga menembus level USD110 per barel, dipicu kombinasi krisis penutupan Selat Hormuz dan gangguan serius pada fasilitas ekspor energi Rusia akibat serangan drone.
Data pasar menunjukkan minyak mentah Brent sempat menyentuh USD111 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melampaui USD114 pada perdagangan awal pekan. Lonjakan ini terjadi di tengah berlanjutnya penutupan Selat Hormuz yang telah memasuki pekan kelima, menghambat sekitar 20 persen distribusi minyak global—angka yang selama ini menjadi tulang punggung stabilitas energi dunia.
Situasi semakin kompleks setelah serangan drone Ukraina dilaporkan melumpuhkan terminal ekspor utama Rusia di kawasan Baltik, yakni Primorsk dan Ust-Luga. Fasilitas kilang milik Lukoil juga mengalami kerusakan signifikan, mempersempit kapasitas produksi dan distribusi energi dari salah satu eksportir utama dunia tersebut.
Di sisi lain, langkah OPEC+ untuk menaikkan kuota produksi sebesar 206.000 barel per hari pada Mei dinilai belum mampu meredam tekanan pasar. Sejumlah laporan menyebutkan peningkatan tersebut lebih bersifat administratif, mengingat jalur pelayaran di kawasan Teluk masih belum sepenuhnya pulih akibat ketegangan yang berlangsung.
Kondisi ini menciptakan efek domino terhadap ekonomi global. Negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia, berpotensi menghadapi tekanan pada harga energi domestik, inflasi, hingga beban subsidi yang meningkat. Pengamat energi menilai, jika krisis ini berlarut, dampaknya bisa meluas ke sektor transportasi, industri, hingga daya beli masyarakat.
Di tengah ketidakpastian ini, transparansi data dan akurasi informasi menjadi krusial. Sesuai kode etik jurnalistik, setiap perkembangan harus disampaikan secara berimbang dan berbasis fakta, mengingat isu energi sangat sensitif dan berdampak luas terhadap kepentingan publik.
Seorang analis energi global menyebutkan bahwa pasar saat ini berada dalam kondisi “rapuh”, di mana gangguan kecil sekalipun dapat memicu lonjakan harga yang signifikan dan berkelanjutan. Isbat/Redaksi