JAKARTA, 5/4/2026,WartaGlobal.Id
Dulu, sekolah adalah benteng ilmu dan mimpi anak bangsa. Kini? Banyak yang bergumam: apakah gedung-gedung itu sudah berubah jadi warung distribusi proyek politik? Program Makan Bergizi Gratis (MBG) era Prabowo Subianto, yang dijanjikan sebagai senjata ampuh lawan stunting, malah terperangkap dalam badai tuduhan: lebih banyak untungkan elit daripada perut lapar anak sekolah.
Laporan bom waktu dari Policy Research Center (Porec), "Siapa yang Diuntungkan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG)", dirilis Maret 2026, membongkar anomali memilukan. Survei terhadap 1.168 responden—80,4% di antaranya keluarga penerima manfaat—mengungkap distribusi anggaran yang timpang habis:
44,5% mengalir ke elit politik, pejabat, dan lingkaran kekuasaan.
44% jatuh ke pengelola dapur dan mitra SPPG (pemilik operator kontrak).
Hanya 6,5% yang benar-benar dirasakan anak-anak sebagai gizi bergizi.
"Ironi menyakitkan," tulis laporan itu. Anak datang haus ilmu, pulang dengan perut setengah kenyang—sementara kontraktor tersenyum lebar.
Bau Korupsi Menguar, Kualitas Terjun Bebas
Masyarakat tak lagi percaya buta. Data Porec menampar keras:
87% responden yakin MBG sarang korupsi, rawan penyalahgunaan anggaran.
79% curiga pengelola potong kualitas makanan untuk kantongi margin keuntungan.
76% nilai makanan tak layak Rp8.000–Rp10.000 per porsi yang dianggarkan.
Program yang digulir 14 bulan lalu ini kini dianggap beban negara, bukan berkah. Sebanyak 80% warga tolak lanjutan MBG kecuali ada reformasi radikal: transparansi total dan pilah kepentingan politik dari dapur sekolah.
Apakah MBG lahir untuk kesejahteraan rakyat, atau sekadar pesta bagi-bagi proyek? Pemerintah punya jawaban? Saat anak-anak kita layak dapat yang terbaik, bukan sisa-sisa meja elit.
WartaGlobal, April 2026. Berdasarkan laporan Porec Maret 2026.