Abdul Ghopur: Pancasila Bukan “Jalan Tengah Asal-Asalan”, Tapi Hasil Perjalanan Batin Bangsa yang Majemuk - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

Top Ads

Dirgahayu RI
Memuat berita...

More News

logoblog

Abdul Ghopur: Pancasila Bukan “Jalan Tengah Asal-Asalan”, Tapi Hasil Perjalanan Batin Bangsa yang Majemuk

Sunday, May 31, 2026


Jakarta Indonesia, WartaGlobal. Id
Di tengah gaduhnya tarik-ulur ideologi, pengamat Abdul Ghopur melempar peringatan tegas: Pancasila tidak lahir dari meja rapat semalam. Ia lahir dari pengembaraan batin dan pikiran paling murni para pendiri bangsa yang sadar Indonesia bukan negara tunggal, tapi mozaik etnis, suku, agama, bahasa, dan budaya.

Lewat tulisannya “Tantangan Merumuskan Jalan Tengah Berbangsa”di LKSB Online, Ghopur menegaskan: 

@Pancasila bukan kompromi hambar. 
Ia adalah jalan tengah yang berakar, berdarah, dan berakar sejarah.

Pancasila sama dengan Kompas, Bukan Plang Hiasan
“Pancasila lahir sungguh-sungguh mendasari kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita yang sangat majemuk,” tulis Ghopur. 
Kalimat itu jadi tamparan bagi kelompok yang masih mau “menawar” dasar negara. 

Ghopur mengingatkan: para founding fathers,sejak awal paham betul kondisi sosiologis dan antropologis bangsa ini. Mereka tidak merumuskan ideologi dari angan. Mereka merumuskan dari luka, dari perbedaan, dari ancaman pecah. 

Hasilnya? Prinsip kepentingan bersama dikedepankan. Bukan kepentingan golongan, bukan kepentingan mayoritas yang menindas, bukan kepentingan minoritas yang dipinggirkan. Dari situ lahir Pancasila: satu-satunya falsafah yang mampu memayungi 270 juta kepala dengan latar berbeda.

Tantangan Hari Ini: Lupa “Jalan Tengah” Berarti Buka Pintu Perpecahan
Pesan Ghopur tegas.
 @Tantangan terbesar bangsa sekarang bukan mencari ideologi baru. Tapi konsisten jalan di “tengah” yang sudah dirumuskan pendiri bangsa. 

“Jalan tengah” di sini bukan sikap plin-plan. 
Ia berarti: tegas menjaga persatuan tanpa menghapus perbedaan. Tegas membela Bhineka tanpa membakar rumah tetangga beda keyakinan. Tegas menolak ekstrem kanan-kiri yang sama-sama ingin memonopoli kebenaran.

Kalau “jalan tengah” ini gagal dirumuskan ulang oleh generasi hari ini, maka Pancasila hanya akan jadi hafalan upacara. Plang bagus di gerbang, tapi isinya kosong.

Garis Keras untuk Pembelok Sejarah
Ghopur secara implisit menampar dua kubu: 
1. Kubus yang mau mengganti Pancasila dengan ideologi impor. Itu sama saja menolak sejarah panjang perjuangan bangsa. 
2. Kubu yang mendiamkan intoleransi sambil bungkus jargon toleransi. Itu sama saja membiarkan Pancasila digerogoti dari dalam.

Dua-duanya pengkhianat “jalan tengah”. Satu mau ganti kompas, satu mau biarkan kompas berkarat.

Pancasila tidak butuh pembelaan normatif. Ia butuh pengamalan brutal di lapangan: di sekolah, di pasar, di media sosial, di kebijakan negara. 

Karena kalau bangsa sebesar Indonesia kehilangan “jalan tengah”, maka yang tersisa cuma dua pilihan: perang saudara atau tunduk pada tirani mayoritas/minoritas. Dan dua-duanya bukan Indonesia.

Pertanyaannya sekarang ke kita: masih mau merumuskan ulang “jalan tengah”, atau mau jadi penonton saat Pancasila hanya jadi pajangan di museum?

Sumber :
 Abdul Ghopur