Denpasar, Bali, WartaGlobal. Id
Masyarakat Bali semakin gelisah menghadapi lonjakan kejahatan siber seperti penipuan daring (scam) dan judi online (judol) yang kian pesat. Kasus-kasus global ini tak hanya merugikan warga lokal, tapi juga berpotensi merusak citra pariwisata Bali yang bergantung pada kepercayaan wisatawan mancanegara.
Data dari Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri mencatat, sepanjang 2025-2026, Bali menempati urutan ketiga nasional dengan 1.248 laporan scam dan judol, naik 45% dari tahun sebelumnya. Korban mayoritas wisatawan asing dan pekerja sektor pariwisata, dengan kerugian mencapai Rp 150 miliar. "Wisatawan Eropa dan Australia sering jadi sasaran judol via aplikasi palsu, lalu mereka blacklist Bali di media sosial," Ujar sumber Aktivis
Kejahatan ini berkembang pesat karena Bali jadi pusat transaksi digital wisatawan. Pelaku sering beroperasi dari luar negeri, seperti Filipina dan Kamboja, memanfaatkan jaringan VPN dan rekening bank digital. "Ini bukan sekadar kejahatan lokal, tapi sindikat global yang menargetkan Bali karena lalu lintas turis tinggi," kata Dr. Ni Made Rai, pakar kejahatan siber dari Universitas Udayana. Ia menambahkan, 70% kasus judol melibatkan server luar negeri, sulit dilacak tanpa koordinasi internasional.
Pemerintah Bali dinilai kurang cerdas menyikapi ancaman ini. "Pemerintah sibuk promosi 'Bali bersih', tapi cuek soal scam yang bikin wisatawan trauma. Ini bisa turunkan okupansi hotel hingga 20% musim panas ini."
Dampaknya sudah terasa: survei TripAdvisor Mei 2026 menunjukkan penurunan rating Bali akibat ulasan negatif soal penipuan daring. Pakar Rai mendesak pembentukan pusat pelaporan siber terintegrasi di bandara Ngurah Rai dan kampanye edukasi multibahasa.
Harusnya dibuat kesatuan siaga, polisi dan Imigrasi
Serius dalam pengawasan Orang Asing, Kepala Daerah memperketat penyewaan villa, penginapan, bangunan agar memperkecil lingkup kejahatan.
Kasus 26 scam ditangkap di bali perkembangan selanjutnya tidak jelas
"Tanpa aksi cepat, pariwisata Bali bisa ambruk seperti Thailand pasca-skandal judol 2024," tegasnya.
@Masyarakat mendukung langkah proaktif, tapi menuntut akuntabilitas pemerintah agar Bali tetap aman dan menarik.
Sumber : Pustaka Masyarakat