NGANJUK Warta Global.id
Kebijakan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menggelontorkan anggaran sebesar sekitar Rp100 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pengadaan 1.098 ekor sapi kurban dalam perayaan Idul Adha 1447 Hijriah menjadi sorotan publik, termasuk dari kalangan budayawan. Ki RM.Sutomo Sastro Kusumo, atau yang akrab disapa Ki Tomo, budayawan dan pengamat sosial asal Nganjuk, memberikan pandangan mendalam menilik kebijakan ini dari dua sisi, nilai positifnya sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa,namun di balik itu ada pertanyaan mendasar terkait hakikat APBN sebagai uang seluruh rakyat Indonesia yang majemuk.
Seperti diketahui, pemerintah pusat menyiapkan anggaran besar tersebut yang bersumber dari dana Bantuan Presiden (Banpres). Sebanyak 1.098 ekor sapi tersebut kemudian disalurkan secara merata ke berbagai wilayah, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga lembaga pendidikan, pondok pesantren, dan tokoh masyarakat di seluruh penjuru Nusantara. Program ini menjadi bagian dari tradisi kenegaraan yang rutin digelar, namun pada pelaksanaan kali ini nilai anggaran dan jumlah hewan yang disalurkan cukup menyita perhatian publik.
Menanggapi hal tersebut, Ki Tomo memandang kebijakan ini bukan sekadar urusan ibadah agama, melainkan juga fenomena sosial budaya yang memiliki makna luas bagi bangsa Indonesia. Ia melihat ada sisi sangat positif dari langkah yang diambil Presiden Prabowo Subianto ini.
"Secara positif, langkah Bapak Presiden ini sangat besar maknanya. Sebagai pemimpin tertinggi negara, beliau memberikan contoh nyata dan menumbuhkan kembali budaya gotong royong, budaya berbagi, dan kepedulian sosial yang memang sudah menjadi karakter asli bangsa kita sejak zaman dahulu. Ini menjadi pengingat bahwa negara hadir di tengah masyarakat dalam momen sakral, dan nilai kebersamaan ini sangat kuat," ungkap Ki Tomo saat diwawancarai.
Namun, di balik nilai luhur tersebut, budayawan yang dikenal kritis terhadap nilai-nilai kearifan lokal ini juga mengangkat sisi lain yang perlu menjadi bahan renungan bersama, menyangkut sumber dana yang digunakan, yaitu APBN. Baginya, APBN adalah kumpulan uang rakyat, yang artinya berasal dari sumbangan, pajak, dan kontribusi seluruh warga negara tanpa memandang suku, ras, maupun agama.
"Inilah yang perlu kita pahami bersama, anggaran yang digunakan adalah uang rakyat, uang APBN. Artinya, uang itu adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Nah, pertanyaan mendasar saya adalah, apakah seluruh rakyat Indonesia ini beragama Islam?... Tentu kita tahu jawabannya "tidak". Negara kita majemuk, beragam agamanya. Karena diambil dari APBN, maka secara filosofis dan kenyataan, berarti seluruh rakyat Indonesia yang Muslim maupun yang non Muslim ikut 'berkurban', ikut menyisihkan sebagian haknya untuk kegiatan ini," urai Ki Tomo.
Menurut pandangan beliau, fenomena ini memiliki makna tersendiri. Bukan berarti menolak kebijakan tersebut, melainkan menegaskan bahwa perayaan kurban yang digelar negara ini sejatinya menjadi milik bersama. Jika dana yang digunakan adalah uang semua rakyat, maka makna Idul Adha kali ini bergeser menjadi simbol pengorbanan dan kebersamaan seluruh elemen bangsa, bukan hanya satu golongan saja.
"Hari ini, seluruh rakyat Indonesia sebenarnya ikut merayakan kurban ini. Kenapa? Karena uang yang digelontorkan Rp100 miliar itu adalah uang kita semua. Maka, daging yang dibagikan, keberkahannya, semestinya juga dipahami sebagai berkat dari persatuan kita. Di satu sisi, pemimpin mengajarkan berbagi, tapi di sisi lain, ini menjadi bukti nyata bahwa kita semua menyatu dalam satu negara, di mana momen agama pun bisa menjadi sarana mempererat persaudaraan bangsa," jelasnya lagi.
Ki Tomo menambahkan, dalam sudut pandang budaya, hal ini justru memperkaya makna toleransi. Ketika negara menggunakan anggaran umum untuk kegiatan yang identik dengan satu agama, hal itu menjadi bukti pengakuan negara terhadap hari besar keagamaan, sekaligus menunjukkan bahwa warga negara lain turut mendukung dan merasakan kebahagiaan sesama warganya.
"Positifnya sangat besar,menebar kebahagiaan, membantu warga kurang mampu mendapatkan daging, menjaga tradisi. Namun latar belakang sumber dananya itu yang unik. Ini pelajaran sejarah sosial ke depannya. Bahwa 1.098 ekor sapi yang disalurkan ke 552 daerah itu, sesungguhnya adalah wujud kepedulian seluruh rakyat Indonesia, yang dipersembahkan melalui tangan pemimpinnya, Presiden Prabowo Subianto," pungkas Ki Tomo.
Sebagai informasi, penyaluran bantuan kurban nasional ini dikoordinasikan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dengan tujuan agar daging kurban dapat didistribusikan secara merata hingga ke tingkat desa dan kelurahan. Kebijakan ini kembali menegaskan bahwa di Indonesia, nilai agama dan nilai kebangsaan senantiasa berjalan beriringan, meski selalu terbuka untuk ditafsirkan maknanya dari berbagai sudut pandang demi kebaikan bersama.(Red)
