JAKARTA , WartaGlobal. Id
Indomaret akhirnya angkat bicara. Tujuh gerai ritel raksasa itu resmi tutup di Kabupaten Lombok Tengah, NTB, sejak Sabtu pekan lalu. Alasannya? Peninjauan ulang tata ruang oleh pemerintah daerah.
Direktur Operasional PT Indomarco Prismatama, Andreas Djajaputra, mengonfirmasi penutupan itu saat ditemui di Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Selasa (26/5/2026).
“7 toko yang ditutup mulai Sabtu minggu lalu. Karena peninjauan ulang ya untuk tata ruangnya,” kata Andreas singkat.
Kedengarannya administratif, tapi dampaknya langsung terasa di lapangan. Tujuh toko berarti ratusan karyawan, rantai pasok lokal, dan kemudahan warga sekitar yang tiba-tiba hilang. Dan sampai sekarang, belum ada kepastian kapan atau apakah gerai-gerai itu bisa buka lagi.
“Belum tahu. Jadi menunggu nanti keputusan pemerintah kabupaten,” ujarnya.
Artinya, nasib karyawan dan operasional Indomaret kini digantung pada hasil “review” tata ruang yang belum jelas kapan selesai. Tidak ada kejelasan timeline, tidak ada kepastian aturan. Yang ada cuma keputusan tutup dulu, urus belakangan.
Kasus ini bukan yang pertama. Pola yang sama sering terulang: gerai modern masuk, warga terbantu, ekonomi bergerak, lalu tiba-tiba disetop dengan alasan tata ruang yang baru diungkit belakangan. Pertanyaannya sederhana: kenapa peninjauan ini baru muncul setelah toko sudah beroperasi?
Untuk saat ini, Indomaret hanya bisa menunggu. Sementara itu, masyarakat Lombok Tengah kehilangan akses belanja dekat rumah, dan karyawan terancam kehilangan pekerjaan.
Apakah ini murni penataan kota yang lebih baik, atau sinyal bahwa iklim usaha di daerah masih rawan diguncang kebijakan mendadak?
Menurut kamu, siapa yang paling rugi kalau situasi kayak gini terus terulang?
