WartaGlobal Menyoroti : Proyek Garam Rp Triliunan di Rote Ndao: Janji Swasembada atau Lagi-lagi PSN “Gaharu di Atas Kertas”? - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

Top Ads

Dirgahayu RI
Memuat berita...

More News

logoblog

WartaGlobal Menyoroti : Proyek Garam Rp Triliunan di Rote Ndao: Janji Swasembada atau Lagi-lagi PSN “Gaharu di Atas Kertas”?

Thursday, May 28, 2026


ROTE NDAO,NTT, WartaGlobal. Ia
 Pemerintah lagi-lagi main sulap proyek: Kawasan Sentra Industri Garam Nasional alias K-SIGN di Rote Ndao digeber habis-habisan. Alasannya mulia: biar Indonesia stop jadi budak impor garam dari China, India, Australia. Targetnya? Swasembada tahun depan.

Keren di atas kertas. Tapi kenyataannya?

PT Garam bilang tahun ini mulai produksi, kapasitas 50-100 ribu ton. Dua tahun lagi katanya bisa tembus 350.000 ton dari lahan 13.000 hektare. KKP bahkan klaim progresnya sudah 95 persen. Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, langsung pasang narasi manis: 26.000 lapangan kerja terbuka, NTT jadi raja garam nasional, ekonomi lokal meledak.

Masalahnya, ini bukan proyek pertama yang jualan mimpi “swasembada”.

Selama ini kebutuhan garam industri kita 2,8 juta ton per tahun. Sebagian besar impor. Alasannya klasik: garam lokal nggak lolos standar industri, kualitasnya ampas, kuantitasnya nggak cukup. Nah, lewat K-SIGN pemerintah mau “paksa” modernisasi: teknologi pengolahan, manajemen tambak, semua di-upgrade.

Pertanyaannya: kenapa baru sekarang? NTT punya sinar matahari 8-9 bulan setahun dan laut luas sejak dulu. Kalau memang ideal, kenapa 20 tahun terakhir kita tetap impor?

Yang bikin skeptis: pola PSN yang sudah-sudah. Gembar-gembor target, potong pita, foto bersama, lalu molor atau mangkrak. Sekarang progres 95 persen disebut-sebut, tapi produksi konkret belum ada. PT Garam sendiri baru bicara kapasitas 50-100 ribu ton tahun ini. Itu bahkan belum 4 persen dari kebutuhan impor nasional.

Belum lagi soal lahan. Ekspansi ke 13.000 hektare itu rawan konflik agraria. Kalau masyarakat lokal nggak diajak ngomong dari awal, jangan kaget kalau proyek ini ujungnya macet karena sengketa tanah.

Janji 26.000 lapangan kerja juga perlu diuji. Berapa yang benar-benar terserap warga Rote Ndao? Jangan-jangan yang masuk lagi-lagi tenaga kerja impor dan kontraktor dari luar.


Pemerintah optimistis K-SIGN rampung pertengahan 2026. Tapi publik sudah kenyang dengan optimisme PSN yang berakhir di spanduk. 

Kalau kali ini gagal lagi, jangan salahkan masyarakat kalau mereka bilang: “Cukup garamnya yang asin, jangan janji-janjinya.”

Jadi, ini langkah serius menuju swasembada, atau sekadar proyek gaharu di atas kertas biar ada bahan pidato tahun depan?. Netti/*

#Indonesia2045 #TGF #Hilirisasi #Industrialisasi