Phnom Penh, Kamboja , WartaGlobal. Id
Sebuah gedung mencurigakan di kawasan Penompen, Kamboja, menjadi mimpi buruk bagi puluhan Warga Negara Indonesia (WNI).
Lebih dari 60 orang Bangladesh mendominasi bangunan itu, yang diduga sebagai pusat scam center dan jaringan human trafficking. Para korban WNI mengadu dramatis: disekap tanpa paspor, dipukul, ditampar, dan dipaksa bekerja selama lebih dari 20 hari dipaksa bayar denda.
Cerita mengerikan ini terungkap dari pengakuan korban langsung. "Kami di lantai 2, tapi kalau dihitung bangunannya lantai 3. Owner-nya wanita Kamboja, suaminya orang Bangladesh. Mereka sangat kejam," tulis salah satu WNI melalui pesan yang diterima tim investigasi. Gedung itu seperti agency human trafficking: korban datang tanpa paspor, dikurung, dan dieksploitasi.
Fakta Dramatis dari Lapangan
Jumlah Korban: Lebih dari 60 orang Bangladesh, termasuk belasan WNI yang terjebak.
Durasi Penyekapan: Minimal 20 hari; korban tak bisa keluar bebas.
Kekerasan Fisik: Dipukulin, ditampar secara rutin oleh preman Bangladesh.
Operasi Ilegal: Sarang scam menargetkan korban internasional, mirip kasus human trafficking skala besar.
Pemilik: Pasangan Kamboja-Bangladesh yang mengendalikan semuanya.
Beberapa WNI sudah mengadu ke pihak berwenang Indonesia, tapi situasi darurat: tanpa paspor, mereka tak bisa kabur. Ini mengingatkan kasus serupa di Myanmar dan Laos, di mana ribuan WNI jadi korban scam syndicate Asia Tenggara.
Apa yang Harus Dilakukan?
Kementerian Luar Negeri RI dan KBRI Phnom Penh diminta segera turun tangan: evakuasi korban, razia gedung, dan koordinasi dengan polisi Kamboja. Ini bukan sekadar pengaduan – ini jerat maut bagi ratusan pekerja migran kita.
TPF WG
(Sumber: Pengakuan korban langsung, 12 Mei 2026. Tim investigasi memverifikasi lokasi via data terbuka dan laporan serupa.)