
GAZA — WartaGlobal.Id
Yang runtuh di Gaza bukan hanya beton dan bangunan. Di balik debu dan puing, ikut terkubur jejak sejarah, tradisi keagamaan, serta ruang sosial yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Palestina.
Masjid bersejarah Abu Salim di Deir Al-Balah, Gaza tengah, dilaporkan hancur setelah terkena serangan udara Israel. Masjid yang berdiri sejak 1951 itu disebut didirikan oleh Al-Haj Muhammad Abu Salim dan selama lebih dari tujuh dekade menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan masyarakat setempat.
Masjid tersebut bukan sekadar tempat salat. Di sana berlangsung kegiatan keagamaan, pembelajaran Alquran dan pertemuan masyarakat—menjadikannya bagian dari memori kolektif warga Deir Al-Balah.
Kini, yang tersisa adalah reruntuhan.
Satu bangunan bersejarah kembali hilang di tengah perang yang telah mengubah wajah Gaza.
Data terbaru yang disampaikan Government Media Office Gaza pada 25 Agustus 2026 menyebut 1.244 dari 1.275 masjid di Gaza telah menjadi sasaran serangan, dengan 1.077 masjid dilaporkan hancur total. Angka tersebut merupakan klaim otoritas Palestina di Gaza dan telah diberitakan oleh Anadolu.
Dengan angka itu, hampir seluruh jaringan rumah ibadah di Gaza disebut terdampak perang.
Sebelumnya, Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina juga mencatat skala kehancuran yang sangat besar. Pada akhir 2025, kementerian tersebut menyebut 909 masjid hancur total dan 251 lainnya rusak sebagian dari 1.244 masjid yang tercatat saat itu.
Laporan lain pada Februari 2026 menggambarkan situasi serupa: sekitar sembilan dari setiap sepuluh masjid di Gaza disebut telah hancur atau mengalami kerusakan berat, memaksa warga menjalankan ibadah di ruang-ruang darurat yang dibangun dari kayu, besi, plastik, maupun tenda.
Ketika Azan Berubah Menjadi Suara dari Puing
Kehancuran masjid memiliki dimensi yang jauh lebih besar daripada kerusakan sebuah bangunan.
Masjid di Gaza selama puluhan tahun bukan hanya tempat ibadah. Ia menjadi tempat pendidikan agama, pusat interaksi sosial, ruang berkumpul keluarga dan masyarakat, sekaligus penanda sejarah sebuah kawasan.
Karena itu, ketika sebuah masjid runtuh, yang hilang bukan hanya kubah dan menara.
Yang ikut hilang adalah sebagian dari ingatan sebuah komunitas.
Masjid Abu Salim menjadi simbol terbaru dari persoalan tersebut.
Di tengah reruntuhan Gaza, masyarakat tetap berusaha mempertahankan aktivitas keagamaan. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa warga Gaza bahkan membangun kembali ruang-ruang salat sederhana dari bahan seadanya setelah banyak masjid hancur atau rusak.
Masjid dan Hukum Perang
Hancurnya tempat ibadah juga membawa pertanyaan serius mengenai perlindungan objek keagamaan dalam hukum humaniter internasional.
Tempat ibadah pada prinsipnya memperoleh perlindungan dalam hukum humaniter internasional. Namun, perlindungan tersebut tidak bersifat mutlak apabila suatu objek digunakan untuk tujuan militer, sehingga penilaian terhadap setiap serangan harus melihat konteks, sasaran, proporsionalitas dan bukti yang tersedia.
Israel selama perang berulang kali menyatakan bahwa operasi militernya diarahkan terhadap Hamas dan bahwa kelompok tersebut menggunakan berbagai fasilitas sipil untuk kepentingan militer. Di sisi lain, otoritas Palestina dan sejumlah lembaga hak asasi menuduh serangan Israel telah menghancurkan secara sistematis infrastruktur sipil dan tempat ibadah.
Karena itu, angka kehancuran masjid bukan semata persoalan statistik.
Ia menjadi bagian dari pertanyaan yang jauh lebih besar:
Apakah tempat-tempat yang menjadi pusat kehidupan sipil masih mendapatkan perlindungan yang semestinya di tengah perang?
Dari Masjid Abu Salim ke Masa Depan Gaza
Perang suatu hari akan berhenti. Pesawat tempur akan meninggalkan langit. Senjata mungkin akan dibungkam.
Tetapi membangun kembali Gaza tidak cukup hanya dengan mendirikan rumah dan jalan.
Masjid, sekolah, rumah sakit, pasar, tempat bersejarah dan ruang sosial juga harus dikembalikan kepada masyarakat.
Sebab bagi warga Gaza, membangun kembali sebuah masjid berarti lebih dari sekadar membangun dinding.
Itu berarti menghidupkan kembali sebuah komunitas.
Dan ketika Masjid Abu Salim runtuh, dunia kembali dihadapkan pada satu kenyataan pahit: perang tidak hanya menghancurkan apa yang ada di hadapan mata, tetapi juga dapat menghapus jejak sejarah yang membutuhkan puluhan tahun untuk dibangun.
Di Gaza, puing-puing masjid hari ini bisa menjadi arsip sejarah bagi generasi yang belum lahir—tentang bagaimana sebuah masyarakat kehilangan tempat ibadah, tetapi berusaha mempertahankan keyakinan dan identitasnya di tengah kehancuran.

.jpg)