WARTAGLOBAL TAJAM MARZILIS GUGAT DISTORSI TEOLOGI: MENGENAL TUHAN SEBELUM BERIBADAH, MELAWAN DOKTRIN KETAKUTAN DAN FORMALITAS KEAGAMAAN - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

IKLAN GAMBAR

ADS

Memuat berita...

More News

logoblog

WARTAGLOBAL TAJAM MARZILIS GUGAT DISTORSI TEOLOGI: MENGENAL TUHAN SEBELUM BERIBADAH, MELAWAN DOKTRIN KETAKUTAN DAN FORMALITAS KEAGAMAAN

Saturday, October 3, 2026


Poto Istimewa 

Makrifatullah Bukan Ilmu Eksklusif: Mengembalikan Tauhid pada Esensi Pengenalan, Cinta, Kesadaran, dan Kebebasan Spiritual Manusia

DELI SERDANG, WARTAGLOBAL.ID, 3 OKTOBER 2026 — Apakah manusia telah benar-benar mengenal Tuhannya, atau sekadar menjalankan serangkaian ritual keagamaan tanpa memahami esensi ketuhanan? Pertanyaan mendasar inilah yang diangkat Marzilis melalui buku terbarunya, Mengenal Tuhan Sebelum Beribadah, sebuah karya pemikiran teologis yang menggugat cara pandang keberagamaan, khususnya terkait makrifatullah, pendidikan tauhid, serta penggunaan narasi ketakutan terhadap neraka dalam dakwah.

Buku ini hadir membawa kritik terhadap fenomena keberagamaan yang, menurut Marzilis, terlalu menitikberatkan aspek formalitas ritual, tetapi belum sepenuhnya memberikan ruang yang memadai bagi umat untuk memahami sifat-sifat Allah, mengenali kebesaran-Nya, dan membangun hubungan spiritual yang dilandasi kesadaran.

Gagasan tersebut menyentuh persoalan fundamental dalam kehidupan beragama: apakah ibadah hanya sebatas kewajiban yang harus ditunaikan, atau merupakan manifestasi dari pengenalan dan kesadaran seorang hamba terhadap Tuhannya?

MAKRIFATULLAH DAN HAKIKAT PENDIDIKAN TAUHID

Dalam perspektif Marzilis, mengenal Allah atau makrifatullah seharusnya menjadi fondasi utama dalam membangun kesadaran beragama. Ia mengkritik pandangan yang menempatkan pengenalan mendalam terhadap Allah sebagai pengetahuan eksklusif yang hanya dapat dijangkau oleh kalangan tertentu.

Menurutnya, setiap manusia memiliki kesempatan untuk mempelajari, memahami, dan mendalami ketauhidan melalui petunjuk Al-Qur'an, refleksi intelektual, serta proses pembelajaran yang bertanggung jawab.

Marzilis menilai pembatasan akses terhadap pengetahuan ketuhanan berpotensi menciptakan kesenjangan pemahaman spiritual. Ketika umat hanya diarahkan untuk memahami agama melalui instruksi ritual tanpa memperoleh penjelasan yang memadai mengenai landasan teologisnya, keberagamaan berisiko kehilangan kedalaman reflektif.

Namun, persoalan ini juga memerlukan kajian yang proporsional. Tradisi keilmuan Islam memiliki beragam tingkatan pembelajaran akidah, tasawuf, fikih, dan ilmu kalam. Perbedaan kedalaman pembahasan tidak dengan sendirinya berarti pembatasan hak umat untuk mengenal Allah.

Tantangan pendidikan Islam justru terletak pada bagaimana pengetahuan teologis yang mendalam dapat disampaikan secara terbuka, sistematis, dan mudah dipahami tanpa mengabaikan ketelitian ilmiah maupun otoritas keilmuan.

KRITIK TERHADAP DAKWAH BERBASIS KETAKUTAN

Salah satu pokok kritik yang diangkat dalam buku ini adalah penggunaan ancaman neraka sebagai instrumen dominan dalam penyampaian dakwah.

Marzilis mempersoalkan pendekatan keagamaan yang terlalu mengandalkan rasa takut, terutama apabila narasi tersebut digunakan untuk membangun ketergantungan psikologis, menekan daya kritis, atau menghalangi umat mengajukan pertanyaan teologis.

Dalam pandangannya, agama tidak semestinya hanya dipahami melalui ancaman hukuman, tetapi juga melalui cinta kepada Allah (mahabbah), harapan terhadap rahmat-Nya, kesadaran moral, dan tanggung jawab manusia atas setiap perbuatannya.

Kritik tersebut membuka ruang diskusi mengenai batas antara pendidikan spiritual, penyampaian peringatan keagamaan, dan praktik manipulasi psikologis.

Meski demikian, ketakutan terhadap konsekuensi moral dan eskatologis juga memiliki tempat dalam tradisi Islam. Al-Qur'an memuat ajaran tentang peringatan, ancaman, ampunan, serta rahmat Allah. Karena itu, persoalan utamanya bukan semata-mata keberadaan narasi neraka dalam dakwah, melainkan bagaimana pesan tersebut disampaikan, ditafsirkan, dan diterapkan dalam kehidupan umat.

Keseimbangan antara khauf (rasa takut kepada Allah), raja' (harapan terhadap rahmat Allah), dan mahabbah (cinta kepada Allah) menjadi bagian penting dari diskursus teologi dan tasawuf Islam.

RITUALITAS TANPA PEMAHAMAN: PARADOKS KEBERAGAMAAN

Buku Mengenal Tuhan Sebelum Beribadah juga mengangkat paradoks antara ketaatan ritual dan kedalaman kesadaran spiritual.

Secara konseptual, ibadah dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan kewajiban, tetapi juga mencakup niat, keikhlasan, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Salat, misalnya, bukan sekadar gerakan fisik dan bacaan, melainkan ibadah yang diharapkan membentuk kesadaran moral serta mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Al-Qur'an dalam Surah Al-Ankabut ayat 45 menjelaskan keterkaitan salat dengan pencegahan perbuatan keji dan mungkar. Sementara itu, Surah Taha ayat 14 memuat perintah untuk mendirikan salat sebagai bentuk mengingat Allah.

Dua landasan tersebut memperlihatkan dimensi ibadah yang mencakup hubungan spiritual sekaligus implikasi moral.

Akan tetapi, menilai ibadah seseorang hanya dari keterbatasan pengetahuan teologisnya juga bukan pendekatan yang tepat. Kedalaman pemahaman dan kualitas pengamalan merupakan dua aspek yang saling berkaitan, tetapi tidak selalu dapat diukur hanya melalui penilaian eksternal.

Dengan demikian, kritik terhadap ritualitas seharusnya menjadi dorongan untuk memperkaya pendidikan keagamaan, bukan menjadi dasar untuk merendahkan praktik ibadah ataupun menghakimi kualitas iman seseorang.

TAUHID, KEMERDEKAAN BERPIKIR, DAN TANGGUNG JAWAB INTELEKTUAL

Gagasan utama Marzilis juga bersinggungan dengan persoalan kemerdekaan berpikir dalam kehidupan beragama. Pengenalan terhadap Allah tidak seharusnya mematikan nalar, melainkan mendorong manusia untuk melakukan refleksi, memperdalam pengetahuan, serta memahami tanggung jawabnya sebagai makhluk ciptaan.

Dalam tradisi intelektual Islam, hubungan antara wahyu dan akal telah menjadi bahan diskusi panjang para ulama dan pemikir. Beragam pendekatan berkembang dalam ilmu kalam, filsafat Islam, dan tasawuf, dengan perbedaan metodologi dalam menjelaskan hubungan manusia dengan Allah.

Oleh sebab itu, upaya memperluas pemahaman tauhid perlu disertai keterbukaan terhadap dialog ilmiah, ketepatan dalam menggunakan dalil, serta penghormatan terhadap keragaman tradisi keilmuan Islam.

Kebebasan bertanya bukan berarti kebebasan menafsirkan tanpa metodologi. Sebaliknya, kematangan intelektual justru menuntut kemampuan membedakan keyakinan, penafsiran, argumentasi, dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

MEMBACA ULANG MANHAJ AN-NUBUWWAH

Marzilis mengaitkan pemikirannya dengan Manhaj An-Nubuwwah, yakni metode kenabian dalam menyampaikan ajaran, membangun keimanan, dan membentuk akhlak manusia.

Dalam Al-Qur'an, Surah An-Nahl ayat 125 memuat prinsip menyeru manusia dengan hikmah, pengajaran yang baik, serta dialog melalui cara yang terbaik. Prinsip ini memberikan landasan penting bagi pendekatan dakwah yang mengedepankan kebijaksanaan, komunikasi yang santun, dan argumentasi yang dapat dipahami.

Dakwah tidak hanya menyampaikan perintah dan larangan, tetapi juga mendidik manusia agar memahami makna di balik ajaran agama serta mampu menerapkannya secara bertanggung jawab.

Dalam konteks tersebut, pemikiran Marzilis dapat menjadi pintu masuk bagi diskusi mengenai bagaimana pendidikan tauhid dikembangkan agar tidak berhenti pada hafalan konseptual, tetapi juga melahirkan pemahaman, kesadaran moral, dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai keislaman.

BUKU SEBAGAI PEMANTIK DIALOG AKADEMIS

Kehadiran buku Mengenal Tuhan Sebelum Beribadah diharapkan dapat membuka ruang diskusi di kalangan akademisi, ulama, pendidik, pemikir Islam, dan masyarakat luas mengenai hubungan antara makrifatullah, pelaksanaan syariat, serta pembentukan karakter spiritual.

Gagasan bahwa pengenalan kepada Allah perlu menjadi fondasi kesadaran beragama merupakan tema yang memiliki relevansi dalam pendidikan Islam. Namun, pernyataan bahwa mengenal Allah harus ditempatkan sebelum seluruh kewajiban syariat, termasuk salat, juga membutuhkan penjelasan teologis yang lebih mendalam agar tidak disalahartikan sebagai penundaan kewajiban ibadah.

Dalam ajaran Islam, kewajiban mengenal Allah, keimanan, dan pelaksanaan ibadah memiliki keterkaitan yang erat. Pengenalan terhadap Allah dapat terus berkembang seiring dengan proses beribadah, belajar, dan menjalani kehidupan.

Karena itu, dialog yang dibangun dari buku ini perlu memberikan ruang bagi pengujian argumentasi, penelaahan dalil, serta perbandingan pandangan dari berbagai mazhab dan tradisi keilmuan Islam.

ANTARA MENGENAL TUHAN DAN MEMAHAMI AGAMA

Pada akhirnya, substansi yang diangkat Marzilis membawa pembaca pada refleksi yang lebih luas: keberagamaan tidak cukup hanya diukur melalui simbol, identitas, atau rutinitas ritual, tetapi juga perlu dilihat dari pemahaman, keikhlasan, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

Namun, kedalaman spiritual juga tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk menilai keimanan seseorang. Ibadah yang dijalankan dengan kesungguhan tetap memiliki kedudukan penting, sementara pencarian ilmu dan pengenalan terhadap Allah merupakan proses yang berlangsung sepanjang kehidupan.

Buku ini menawarkan sebuah perspektif kritis yang layak dibaca dan didiskusikan secara terbuka, tanpa menutup ruang terhadap pandangan teologis lain yang memiliki landasan keilmuan.

Mengenal Tuhan bukan sekadar persoalan pengetahuan, melainkan perjalanan memahami makna keimanan dan menerjemahkannya ke dalam perilaku. Sementara itu, beribadah bukan sekadar memenuhi kewajiban, melainkan bentuk penghambaan yang idealnya tumbuh bersama kesadaran, keikhlasan, dan tanggung jawab.

Buku Mengenal Tuhan Sebelum Beribadah karya Marzilis diluncurkan pada 2 Oktober 2026 di Deli Serdang dan, berdasarkan keterangan tim publikasi, telah tersedia melalui jaringan toko buku serta platform digital.


Memuat konten...