Ketegangan Timur Tengah Memuncak: Sengketa Lama Iran–Arab Saudi Kembali Mengarah ke Jantung Dua Kota Suci. - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

Top Ads

Dirgahayu RI
🎉Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah banjir dan longsor di Sumatra. Semoga keluarga korban diberi ketabahan dan kekuatan. 🎉

More News

logoblog

Ketegangan Timur Tengah Memuncak: Sengketa Lama Iran–Arab Saudi Kembali Mengarah ke Jantung Dua Kota Suci.

Monday, March 23, 2026
Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, penguasa Arab Saudi dan ayah dari Putra Mahkota Mohammed bin Salman, menyandang gelar Penjaga Dua Masjid Suci. (Gambar: Media Sosial)

Warta Global Indonesia

Timur Tengah kembali berada di ambang eskalasi besar. Arab Saudi secara terbuka memperingatkan Iran akan pembalasan militer setelah serangan rudal yang menargetkan Riyadh. Di balik ancaman terbuka ini, tersimpan konflik ideologis dan historis yang jauh lebih dalam—yakni perebutan legitimasi moral atas Mekah dan Madinah, dua situs paling suci dalam Islam.

Luka Lama yang Tak Pernah Sembuh

Ketegangan ini bukan sekadar konflik geopolitik modern. Ia berakar kuat dalam sejarah berdarah, salah satunya tragedi pada musim haji Juli 1987. Saat itu, pawai protes jamaah Iran di Mekah berujung bentrokan dengan aparat keamanan Saudi. Lebih dari 400 orang tewas, mayoritas warga Iran.

Bagi Teheran, tragedi tersebut menjadi simbol kegagalan Riyadh dalam menjalankan peran sebagai penjaga dua kota suci. Pemerintah Iran saat itu, di bawah pengaruh revolusi Islam, bahkan menyebut Dinasti Saud sebagai aktor politik yang memanfaatkan Mekah dan Madinah untuk kepentingan kekuasaan.

Rivalitas Sunni–Syiah: Api yang Terus Menyala

Konflik antara Iran dan Arab Saudi juga dipicu oleh perbedaan mazhab—Syiah dan Sunni—yang semakin tajam sejak Revolusi Iran 1979. Iran memposisikan diri sebagai pemimpin dunia Syiah, sementara Arab Saudi menjadi representasi kekuatan Sunni.

Ketegangan ini semakin nyata dalam konflik regional terbaru. Setelah serangan terhadap Iran oleh Israel dan Amerika Serikat, Teheran merespons dengan menargetkan negara-negara tetangga, termasuk Arab Saudi. Serangan rudal ke Riyadh menjadi titik balik baru yang berpotensi memicu perang terbuka.

Peta yang menunjukkan Mekah, Madinah, Jeddah, Hijaz, Riyadh dan Najd di Arab Saudi saat ini. (Gambar: Penulis)

Sengketa Lama: Siapa Berhak atas Mekah dan Madinah?

Di balik konflik militer, terdapat pertanyaan fundamental: bagaimana Arab Saudi, negara yang baru berdiri pada 1932, bisa menguasai kota-kota suci yang telah ada selama berabad-abad?

Sebelum dikuasai Saudi, wilayah Hijaz—yang mencakup Mekah dan Madinah—berada di bawah kendali Kekaisaran Ottoman. Secara lokal, wilayah ini diperintah oleh keluarga Hashemite, termasuk Syarif Hussein bin Ali yang sempat mendirikan Kerajaan Hijaz pasca Perang Dunia I.

Namun, peta kekuasaan berubah drastis ketika Abdulaziz Ibn Saud melancarkan ekspansi militer dari Najd. Dengan dukungan Inggris dan legitimasi ulama Wahhabi, ia berhasil merebut Mekah pada 1924 dan Madinah pada 1925.

Penaklukan ini mengakhiri kekuasaan Hashemite dan menempatkan kota-kota suci di bawah kontrol Dinasti Saud—sebuah posisi yang kemudian diperkuat saat berdirinya Kerajaan Arab Saudi pada 1932.

Legitimasi yang Terus Dipersoalkan

Sejak saat itu, Arab Saudi mengklaim kedaulatan penuh atas pengelolaan haji dan dua kota suci. Raja Saudi bahkan menyandang gelar “Penjaga Dua Masjid Suci”.

Namun, Iran tidak pernah sepenuhnya menerima legitimasi tersebut. Kritik terus muncul, terutama setelah tragedi besar seperti insiden Mina 2015 yang menewaskan lebih dari 2.000 jamaah haji. Teheran menuduh Riyadh gagal mengelola ibadah haji dan memonopoli situs suci Islam.

Perebutan Simbol dan Kekuasaan

Penguasaan Mekah dan Madinah bukan hanya soal wilayah, tetapi juga simbol dominasi spiritual di dunia Islam. Bagi Iran, ini adalah soal siapa yang memiliki otoritas moral tertinggi. Bagi Arab Saudi, ini adalah hak kedaulatan yang tidak bisa diganggu gugat.

Kini, ketika rudal kembali meluncur dan ancaman perang terbuka semakin nyata, konflik lama itu kembali ke permukaan—lebih tajam, lebih berbahaya, dan berpotensi mengguncang stabilitas kawasan.

Jika eskalasi terus berlanjut, dunia tidak hanya menyaksikan konflik militer, tetapi juga pertarungan ideologis atas pusat peradaban Islam itu sendiri. Red