Denpasar, 23 Maret 2026 , WartaGlobal.Id
Sebuah pengakuan mencengangkan viral di media sosial: seorang pemuda Indonesia mengaku rela "menjual jiwa" sebagai pekerja paksa scammer di Kamboja, hanya demi impian membeli iPhone 17 terbaru.
"Aku rela jadi budak scammer Kamboja demi bisa beli iPhone 17," tulisnya dalam unggahan yang kini ditonton jutaan kali.Pengakuan itu berasal dari akun @ex_scammer_id, yang mengklaim dirinya adalah korban penipuan lintas negara. Menurut ceritanya, ia tergiur janji gaji tinggi dari sindikat scam di Kamboja yang merekrut via Telegram. "Mereka bilang kerja santai, duit banyak.
Tapi begitu sampe, HP disita, dipaksa telepon korban Indonesia 24 jam sehari," ungkapnya dalam video pendek yang penuh air mata.Fenomena ini bukan kasus tunggal.
Polri mencatat ribuan WNI terjebak sebagai "budak digital" di Kamboja dan Myanmar sejak 2024, dengan modus rekrutmen via lowongan kerja palsu. "Banyak pemuda miskin terpikat mimpi gadget mewah seperti iPhone 17 yang harganya Rp20 jutaan. Ironisnya, mereka malah jadi alat penipuan yang merugikan rakyat sendiri," kata Kombes Pol Gatot, juru bicara Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.
Dalam pengakuannya, pemuda itu mengaku memeras puluhan korban Indonesia dengan ancaman palsu, hasilnya dipotong 90% oleh bos sindikat.
"Aku dapat receh doang, sisanya buat mereka. Sekarang aku kabur, tapi trauma seumur hidup," tambahnya. Kasus serupa baru-baru ini menewaskan tiga WNI akibat penyiksaan.Pakar keamanan siber, Dr. Andi Susanto dari BINUS University, memperingatkan:
"Jangan tergiur lowongan online tanpa verifikasi. Scam center Kamboja ini industri gelap senilai miliaran dolar, targetnya anak muda haus barang branded."Kini, pengakuan ini memicu gerakan
#StopScamKamboja di TikTok, dengan tagar mencapai 5 juta views. Polri berjanji intensifkan operasi penyelamatan, sementara Kemlu RI mendesak Kamboja tindak tegas sindikat tersebut.
Apakah ini ujung gunung es dari mimpi buruk digital? Warga diimbau waspada.