Di Bawah Ancaman Roket Hezbollah, Warga Perbatasan Utara Israel Bertahan Tanpa Perlindungan Maksimal, Kritik Menguat terhadap Kebijakan Netanyahu yang Dinilai Abaikan Keselamatan Sipil. - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

Top Ads

Dirgahayu RI
🎉Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah banjir dan longsor di Sumatra. Semoga keluarga korban diberi ketabahan dan kekuatan. 🎉

More News

logoblog

Di Bawah Ancaman Roket Hezbollah, Warga Perbatasan Utara Israel Bertahan Tanpa Perlindungan Maksimal, Kritik Menguat terhadap Kebijakan Netanyahu yang Dinilai Abaikan Keselamatan Sipil.

Tuesday, April 7, 2026
Baterai anti-rudal menembakkan rudal pencegat ke arah rudal balistik yang diluncurkan dari Lebanon, seperti yang terlihat di Israel utara, selama perang dengan Iran dan Hizbullah dan serangan rudal yang terus berlanjut ke arah Israel,

Perbatasan Utara Israel, WartaGlobal.id - Ketegangan bersenjata antara Israel dan kelompok Hezbollah kembali menempatkan warga sipil di garis depan risiko. Di Kibbutz Manara dan wilayah sekitar, masyarakat memilih bertahan di tengah hujan roket yang terus berulang, meski kondisi keamanan belum sepenuhnya pulih.

Orna Weinberg, 59 tahun, menjadi potret keteguhan warga. Setelah sempat mengungsi akibat eskalasi konflik pasca serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, ia kembali ke rumahnya yang rusak. Namun, proses perbaikan terhenti karena ancaman serangan yang masih tinggi. Ia menegaskan tidak akan lagi meninggalkan tempat tinggalnya, meskipun risiko terus mengintai.

Kibbutz Manara yang berada di dekat perbatasan Lebanon menjadi salah satu wilayah paling rentan. Warga hanya memiliki hitungan detik untuk berlindung saat sirene berbunyi, bahkan dalam beberapa kasus, roket telah menghantam sebelum peringatan terdengar.

Situasi serupa terjadi di Kibbutz Hagoshrim. Seorang warga dilaporkan tewas akibat serangan roket pada 2024, dan dua korban jiwa kembali terjadi sejak awal Maret tahun ini. Meski demikian, sebagian warga tetap bertahan. Dror Gavish, 42 tahun, memilih tinggal bersama keluarganya dan menolak mengungsi, meski ancaman terus membayangi.

Pemerintah di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengambil sikap tidak lagi menyediakan fasilitas pengungsian massal seperti sebelumnya. Sebagai gantinya, pemerintah mendorong pendekatan militer dengan rencana memperluas zona penyangga di wilayah perbatasan.

Kebijakan tersebut memicu kritik. Warga menilai pemerintah belum memberikan perlindungan maksimal serta tidak transparan dalam menanggapi kegagalan keamanan yang menyebabkan jatuhnya korban besar pada 2023. Tuntutan terhadap investigasi independen pun terus menguat.

Di sisi lain, ancaman dari Iran yang disebut mendukung Hezbollah semakin memperumit situasi. Namun, sebagian warga justru berharap solusi diplomatik dapat menjadi jalan keluar.

Konflik yang berkepanjangan ini tidak hanya menguji ketahanan fisik, tetapi juga kepercayaan publik terhadap negara. Warga bertahan bukan karena aman, melainkan karena tidak lagi memiliki pilihan lain di tengah ketidakpastian.

Seorang warga setempat menyatakan, kondisi ini mencerminkan dilema antara bertahan di tanah sendiri atau mencari keselamatan tanpa jaminan masa depan yang jelas. Redaksi