SEMARANG – Aroma busuk kemunafikan hukum kembali tercium menyengat dari ruang sidang Pengadilan Tipikor Semarang. Sebuah skandal memuakkan berbalut kemewahan dari aliran dana haram Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) kini dibongkar habis-habisan.
Namun, ada pemandangan kontras yang bikin publik mengurut dada: seorang mantan prajurit wanita berpangkat rendah dikuliti tanpa ampun, sementara sang jenderal bintang tiga penikmat fasilitas mewah masih bisa tersenyum lebar menghirup udara bebas.
Kode Lendir "LC Pak Widi" di Balik Toyota AlphardSidang akhir Juni 2026 ini sukses mengocok perut sekaligus memicu amarah publik saat jaksa membongkar aliran dana megakorupsi lahan BUMD Cilacap senilai Rp237 miliar.
Saksi dari dealer Nasmoco, Angga Armada Yoga, tanpa ragu menelanjangi bukti transfer pembelian mobil mewah Toyota Alphard hitam milik mantan Kowad, Dian Putri Permatasari.
Bukan sekadar nominalnya yang fantastis, tapi catatan berita transfer bank dari Arief Kusmawanto—adik ipar Letnan Jenderal TNI Widi Prasetijono—secara vulgar dan eksplisit tertulis: “LC Pak Widi”.Sebuah kode yang langsung memicu spekulasi liar di masyarakat.
Apakah uang rakyat senilai ratusan miliar tersebut sengaja dirampok hanya untuk membiayai gaya hidup mewah dan memanjakan sang mantan Kowad di bawah bayang-bayang sang jenderal?
Nasib Kontras: Prajurit Hancur, Jenderal Makmur Hukum di negeri ini tampaknya punya hobi lama: tajam memotong ke bawah, tumpul dan gemetar saat mendongak ke atas.
Nasib Dian Putri kini berada di titik nadir. Sejak keluar dari militer pada 2023, ia harus menanggung malu, kariernya tamat, dan aset mewahnya disita negara.
Bandingkan dengan sang bos besar, Letjen TNI Widi Prasetijono. Meski namanya tercetak jelas di lembar bukti transfer korupsi dan sempat diperiksa Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah, mantan ajudan Presiden ke-7 RI Joko Widodo ini seperti punya ilmu kebal hukum.Walau sempat digeser menjadi Staf Khusus KSAD pasca-mutasi Desember 2025, sang jenderal bintang tiga justru mendapat tempat "pendaratan" yang sangat empuk dan terhormat.
Hari ini, di saat mantan bawahannya berkeringat dingin di depan jaksa, Letjen Widi justru duduk nyaman sebagai Dosen Tetap di Universitas Pertahanan (Unhan) RI, digaji oleh negara untuk mengajarkan "tata negara" kepada generasi muda.Sandiwara "Tumbal" PeliharaanPublik kini tidak bodoh lagi. Skandal ini menjadi bukti telanjang betapa elite lingkaran istana begitu sulit disentuh oleh jerat hukum.
Pengadilan Tipikor Semarang kini sedang diuji kewarasannya:Apakah institusi hukum kita punya keberanian untuk menyeret sang jenderal yang mengendalikan aliran dana tersebut? Atau, sidang ini hanyalah panggung sandiwara murahan untuk menumbalkan prajurit bawahan demi menyelamatkan kepala sang penguasa bintang tiga?Kita tunggu sampai kapan tameng kekuasaan ini mampu menahan desakan keadilan rakyat.
