Prabowo Belum Pernah "Makan Tinta" Jurnalis: Kritik Tak Boleh Dianggap Musuh - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

Top Ads

Dirgahayu RI
Memuat berita...

More News

logoblog

Prabowo Belum Pernah "Makan Tinta" Jurnalis: Kritik Tak Boleh Dianggap Musuh

Saturday, July 25, 2026

              Poto ; karikatur Prabowo,netti

Jakarta – WartaGlobal.Id
Di dunia jurnalistik, ada satu ungkapan lama yang masih relevan: "belum makan tinta jurnalis." Kalimat ini bukan berarti harfiah, melainkan sindiran bahwa seorang pemimpin belum sepenuhnya merasakan kerasnya kehidupan pers—mulai dari mengejar fakta di lapangan, menghadapi tekanan, hingga mempertanggungjawabkan setiap kata yang ditulis.

Presiden Prabowo Subianto kini memimpin Indonesia di tengah sorotan publik yang semakin tajam. Setiap kebijakan, pidato, hingga keputusan politik menjadi konsumsi masyarakat dan media. 

Dalam sistem demokrasi, kritik dari pers bukanlah ancaman, melainkan bagian dari mekanisme kontrol terhadap kekuasaan.
Beberapa pernyataan Presiden mengenai wartawan dan media sempat memicu perdebatan publik. 

Di sisi lain, Prabowo juga pernah menyoroti kesejahteraan jurnalis dan pentingnya peran pers dalam kehidupan berbangsa. Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan pemerintah dengan media terus menjadi perhatian publik.

Namun, sejarah membuktikan bahwa pemimpin yang kuat bukanlah mereka yang hanya ingin mendengar pujian. Pemimpin yang kuat adalah mereka yang siap menerima kritik, bahkan ketika kritik itu terasa pahit.

Jurnalis tidak bekerja untuk menyenangkan penguasa. Tugasnya adalah mencari fakta, menguji informasi, dan menyampaikan kepada publik. Tinta wartawan memang tidak melukai tubuh, tetapi bisa mengguncang kekuasaan ketika digunakan untuk mengungkap kebenaran.

Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang anti-kritik. Rakyat membutuhkan pemimpin yang percaya bahwa kebebasan pers adalah salah satu fondasi demokrasi. Sebab ketika kritik dibungkam, yang pertama kali hilang bukan sekadar suara media, melainkan hak masyarakat untuk mengetahui kebenaran.*Netti

Opini Redaksi WartaGlobal
Memuat konten...