
Denpasar–WartaGlobal.Id | Karya Jurnalis
Agama dan iman sering diletakkan dalam satu kalimat. Namun dalam kehidupan sosial, keduanya tidak selalu berjalan beriringan.
Agama dapat terlihat melalui identitas, simbol, rumah ibadah, ritual, pakaian, ucapan, bahkan dokumen administratif. Sementara iman berada pada wilayah yang jauh lebih dalam: keyakinan, kesadaran batin, akhlak, serta bagaimana seseorang memperlakukan manusia dan kehidupan.
Di titik inilah muncul sebuah paradoks kebudayaan.
Mengapa seseorang dapat begitu keras berbicara tentang agama, tetapi begitu lunak ketika berhadapan dengan ketidakadilan?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menghakimi agama maupun pemeluknya. Justru sebaliknya, pertanyaan itu penting untuk menguji apakah keberagamaan telah menjadi kekuatan moral atau hanya berhenti sebagai identitas sosial.
AGAMA SEBAGAI KULTUR, IMAN SEBAGAI KESADARAN
Dalam perspektif antropologi, agama bukan sekadar persoalan hubungan manusia dengan Tuhan. Agama juga membentuk kebudayaan: nilai, norma, tradisi, solidaritas, cara masyarakat memandang kehidupan, kematian, keluarga, kekuasaan, dan hubungan antarmanusia.
Clifford Geertz, dalam kajiannya mengenai agama dan kebudayaan, melihat agama sebagai sistem simbol yang membentuk konsepsi mengenai tatanan kehidupan.
Artinya, agama mempunyai konsekuensi sosial.
Jika nilai agama benar-benar hidup dalam kebudayaan, ia seharusnya melahirkan kejujuran, tanggung jawab, solidaritas, penghormatan terhadap martabat manusia dan kemampuan menahan diri dari tindakan yang merugikan orang lain.
Karena itu, ukuran keberagamaan tidak cukup hanya dilihat dari seberapa sering seseorang berbicara tentang Tuhan, tetapi juga dari seberapa jauh nilai ketuhanan memengaruhi perilakunya terhadap sesama.
IMAN TIDAK MEMERLUKAN PANGGUNG
Iman mempunyai karakter yang berbeda.
Ia tidak selalu membutuhkan kamera.
Ia tidak selalu membutuhkan tepuk tangan.
Ia bahkan tidak membutuhkan pengakuan publik.
Orang yang memiliki iman dapat bekerja dalam kesunyian, menolong tanpa mengumumkan, jujur ketika tidak ada yang mengawasi, dan tetap memegang prinsip ketika tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh.
Di sinilah iman menjadi persoalan etika.
Kejujuran ketika tidak ada yang melihat adalah ujian.
Keadilan ketika kita mempunyai kekuasaan adalah ujian.
Memaafkan ketika kita mampu membalas adalah ujian.
Menolak korupsi ketika kesempatan terbuka adalah ujian.
Maka, iman bukan sekadar apa yang diucapkan manusia ketika berada di rumah ibadah.
Iman diuji ketika manusia berada di ruang kekuasaan, ruang bisnis, ruang politik, ruang hukum, ruang keluarga, bahkan ketika tidak seorang pun mengetahui apa yang dilakukannya.
PARADOKS ZAMAN MODERN
Perkembangan teknologi membuat ekspresi agama semakin mudah terlihat.
Nasihat agama dapat disebarkan dalam hitungan detik. Ceramah dapat ditonton jutaan orang. Simbol keagamaan dapat hadir di ruang digital setiap hari.
Namun teknologi juga melahirkan persoalan baru:
Apakah meningkatnya ekspresi keberagamaan otomatis berarti meningkatnya kualitas iman?
Belum tentu.
Riset sosial mengenai religiositas selama puluhan tahun menunjukkan bahwa hubungan antara keyakinan agama dan perilaku sosial tidak selalu sederhana. Religiusitas dapat menjadi sumber solidaritas, moralitas dan kepedulian sosial, tetapi dampaknya sangat bergantung pada bagaimana nilai tersebut diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan kata lain:
agama dapat diwariskan, tetapi iman harus dihayati.
agama dapat diajarkan, tetapi akhlak harus dipraktikkan.
agama dapat menjadi identitas, tetapi iman harus menjadi karakter.
KULTUR YANG SEHAT TIDAK MEMPERTENTANGKAN AGAMA DAN KEMANUSIAAN
Indonesia memiliki realitas sosial yang sangat beragam. Konstitusi menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan, sementara masyarakat hidup dalam berbagai tradisi dan kebudayaan.
Dalam masyarakat plural, kedewasaan beragama bukan ditunjukkan dengan merendahkan keyakinan orang lain.
Justru kedewasaan itu terlihat ketika seseorang mampu memegang keyakinannya dengan teguh sekaligus menghormati martabat manusia yang berbeda.
Di sinilah agama dapat menjadi kekuatan kebudayaan.
Bukan sebagai alat untuk menciptakan permusuhan.
Bukan sebagai instrumen untuk membangun superioritas kelompok.
Bukan pula sebagai legitimasi untuk menghakimi kehidupan pribadi orang lain.
Tetapi sebagai sumber nilai yang mendorong manusia menjadi lebih jujur, adil, beradab dan bertanggung jawab.
AGAMA DI MULUT, IMAN DI PERBUATAN
Ada manusia yang sangat pandai menjelaskan dosa orang lain, tetapi lupa menghitung kesalahannya sendiri.
Ada yang rajin berbicara tentang surga, tetapi perilakunya membuat kehidupan orang lain menjadi neraka.
Ada yang keras mengutip ayat tentang moralitas, tetapi lunak terhadap ketidakjujuran ketika kepentingannya sendiri terganggu.
Inilah paradoks yang harus dibaca secara jernih.
Agama seharusnya membentuk manusia. Bukan sekadar membentuk citra manusia.
Sebab manusia tidak akan dinilai hanya berdasarkan apa yang ia klaim sebagai keyakinannya, tetapi juga berdasarkan jejak moral yang ia tinggalkan dalam kehidupan.
CATATAN JURNALISTIK
Membicarakan agama membutuhkan kehati-hatian. Jurnalisme tidak berada pada posisi untuk menentukan siapa yang paling beriman.
Tetapi jurnalisme mempunyai kewajiban menguji fakta ketika agama bersinggungan dengan kehidupan publik: kekuasaan, korupsi, diskriminasi, kekerasan, intoleransi, konflik sosial, eksploitasi simbol agama maupun penyalahgunaan otoritas.
Agama adalah wilayah keyakinan.
Perilaku manusia adalah wilayah yang dapat diamati.
Karena itu, kritik terhadap perilaku tidak boleh otomatis dianggap sebagai serangan terhadap agama.
Justru kritik yang berbasis fakta dapat menjadi bagian dari mekanisme sosial untuk menjaga agar nilai agama tidak disalahgunakan oleh manusia.
KESIMPULAN
Pada akhirnya, agama memberi manusia jalan untuk mengenal nilai-nilai ketuhanan.
Iman membuat nilai itu hidup dalam dirinya.
Maka pertanyaan paling penting bukan:
“Apa agama saya?”
Pertanyaan yang lebih berat adalah:
“Apa yang agama saya telah lakukan terhadap karakter saya?”
Apakah membuat saya lebih jujur?
Lebih adil?
Lebih rendah hati?
Lebih mampu menghormati manusia?
Lebih berani menolak kezaliman?
Atau justru hanya membuat saya merasa lebih suci daripada orang lain?
Di situlah agama dan iman bertemu.
Agama adalah identitas yang dapat dilihat.
Iman adalah karakter yang dirasakan.
Dan akhlak adalah bukti yang dapat disaksikan.
Jurnalis Indonesia — membaca agama bukan untuk menghakimi iman, tetapi untuk melihat bagaimana nilai kemanusiaan tumbuh dalam kehidupan.
.jpg)