AKU BANGGA INDONESIA? KETIKA SUARA RAKYAT CUMA JATUH DI SELEMBAR KERTAS PUTIH DAN JARI BERTINTA UNGU - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

Top Ads

Dirgahayu RI
Memuat berita...

More News

logoblog

AKU BANGGA INDONESIA? KETIKA SUARA RAKYAT CUMA JATUH DI SELEMBAR KERTAS PUTIH DAN JARI BERTINTA UNGU

Wednesday, May 6, 2026


JAKARTA, WartaGlobal. Id
“Aku bangga Indonesia.” Kalimat itu gagah di spanduk, lantang di upacara, ramai di media sosial. Tapi coba tanya rakyat di pinggir rel, di kampung nelayan, di ruang IGD yang penuh: bangga yang mana?

Demokrasi Lima Menit 
Setiap lima tahun kita pesta. TPS berdiri, kertas suara dicoblos, jari dicelup tinta ungu. Foto diunggah. Selesai. Itulah puncak partisipasi. Setelah itu, suara 270 juta rakyat resmi berakhir di kotak kardus. 

Nasibnya? Dihitung, diumumkan, lalu dilupakan. Rakyat kembali antre minyak goreng. Kembali cari sekolah negeri yang tidak minta sumbangan. Kembali urus BPJS yang rujukannya dipingpong. Kertas putih itu saksi bisu: suara sudah dipakai, harapan belum dibayar.

*Bangga Apanya?*  
Kita bangga negara demokrasi terbesar ketiga. Tapi apa gunanya besar kalau yang besar cuma jumlah pemilih, bukan jumlah yang sejahtera? 

Anak bangga bisa memilih presiden. Tapi anak yang sama putus sekolah karena ongkos seragam naik. Ibu bangga jarinya ungu. Tapi besoknya ia gadai cincin untuk biaya USG. Petani bangga ikut pemilu. Tapi gabahnya dihargai lebih murah dari biaya tanam.

Demokrasi kita hebat mendistribusikan tinta. Gagal mendistribusikan gizi. Hebat mendistribusikan kertas suara. Gagal mendistribusikan guru ke pelosok. Hebat mendistribusikan janji. Gagal mendistribusikan bukti.

Kertas Putih vs Perut Kosong  
Selembar kertas suara harganya Rp100. Tapi untuk mendapatkannya, rakyat bayar dengan lima tahun menunggu. Setelah dicoblos, kertas itu disimpan di gudang KPU. Sementara yang mencoblos pulang ke rumah dengan tagihan listrik naik, harga beras naik, dan pejabat yang mereka pilih naik mobil dinas baru.

Kita diajarkan bangga karena boleh memilih. Tidak pernah diajarkan menuntut karena sudah memilih. Hasilnya: demokrasi rasa arisan. Yang penting kumpul, foto, bubar. Yang dapat lotere pertama tepuk tangan paling keras.

Bangga Itu Harus Diisi
Aku bangga Indonesia? Bisa. Tapi isi dulu bangga itu. Isi dengan sekolah yang tidak bocor, puskesmas yang ada dokter, kerja yang gajinya cukup, hukum yang tidak tumpul ke atas. 

Selama suara rakyat hanya berhenti di jari ungu dan tidak sampai ke piring makan, maka “bangga” itu baru slogan. Slogan tidak mengenyangkan.

Jadi tanyakan lagi pada dirimu malam ini: 
@aku bangga Indonesia, atau aku bangga sudah mencoblos?
 Karena keduanya tidak sama.Netti/*
Sumber : pustaka

#Demokrasi #SuaraRakyat #KritikSosial #Indonesia #Politik #BanggaIndonesia