BULE RAJA SEHARI ATAU RAJA KECIL? Fenomena “Kiper”, Transaksi Seksual dan Sisi Gelap Pariwisata Bali - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

IKLAN GAMBAR

Dirgahayu RI

ADS

Memuat berita...

More News

logoblog

BULE RAJA SEHARI ATAU RAJA KECIL? Fenomena “Kiper”, Transaksi Seksual dan Sisi Gelap Pariwisata Bali

Friday, August 21, 2026


Poto AI

BALI — WARTAGLOBAL.ID

Bali dikenal sebagai pulau budaya, spiritualitas, seni, dan destinasi wisata dunia. Namun di balik angka jutaan wisatawan asing yang datang setiap tahun, terdapat fenomena sosial yang jarang dibicarakan secara terbuka: relasi antara wisatawan perempuan asing dengan laki-laki lokal yang dalam sejumlah kajian disebut “kiper”.

Ini bukan cerita tentang pemandu wisata. Bukan pula profesi hotel atau pekerjaan resmi di industri pariwisata.

Dalam kajian akademik, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan laki-laki yang menawarkan layanan seksual kepada wisatawan perempuan dengan imbalan tertentu.

Dan fenomena itu bukan sekadar cerita jalanan.

Penelitian Made Kurnia Widiastuti Giri dari Universitas Pendidikan Ganesha, yang dipresentasikan dalam Mid-International Conference in Public Health 2018, secara khusus meneliti perilaku seksual laki-laki yang bekerja sebagai “kiper” di Pantai Lovina, Buleleng. Penelitian tersebut dilakukan pada 2015–2016 melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap enam informan kunci.

Bukan Sekadar “Teman Jalan”

Penelitian tersebut menemukan bahwa kebutuhan ekonomi merupakan alasan utama informan memasuki aktivitas sebagai kiper.

Dalam praktiknya, relasi dapat dimulai dari pertemanan dengan wisatawan. Laki-laki lokal dapat berperan sebagai teman jalan atau pemandu informal, kemudian hubungan berkembang menjadi hubungan seksual transaksional.

Penelitian 2018 tersebut mencatat frekuensi transaksi seksual rata-rata empat hingga lima kali dalam seminggu. Lokasi transaksi yang dilaporkan terutama hotel. Penelitian itu juga mencatat variasi imbalan berdasarkan durasi transaksi, serta adanya hubungan yang berlangsung selama wisatawan berada di Bali.

Artinya, batas antara keramahan, companionship, jasa wisata informal, hubungan romantis dan transaksi seksual dapat menjadi sangat kabur.

Di sinilah persoalan jurnalistiknya.

Ketika seseorang datang sebagai wisatawan, mengeluarkan uang untuk hotel, makanan, transportasi dan hiburan, lalu memiliki hubungan dengan warga lokal yang menerima imbalan, apakah itu murni hubungan personal?

Atau sudah menjadi bagian dari ekonomi seksual pariwisata?

Jawabannya tidak selalu hitam-putih.

Bali dan Pasar Wisatawan Asing

Skala pariwisata Bali membuat fenomena semacam ini tidak dapat dibaca secara terpisah dari ekonomi wisata.

BPS Bali mencatat 6.948.754 kunjungan wisatawan mancanegara langsung sepanjang 2025, meningkat 9,72 persen dibandingkan 2024. Australia menjadi sumber wisatawan terbesar dengan kontribusi 23,44 persen.

Angka tersebut penting.

Sebab semakin besar arus wisatawan, semakin besar pula ekosistem ekonomi yang tumbuh di sekelilingnya—mulai dari hotel, restoran, transportasi, hiburan, perdagangan, hingga berbagai bentuk jasa informal.

Dan ekonomi seksual dapat tumbuh di ruang yang sama.

Kajian lain mengenai pekerja seks laki-laki di Bali juga menunjukkan bahwa laki-laki lokal dapat berinteraksi dengan wisatawan asing dalam berbagai bentuk relasi, termasuk hubungan yang dibungkus sebagai pertemanan, pendampingan atau pekerjaan informal.

Dari Lovina sampai “Kuta Cowboys”

Fenomena pekerja seks laki-laki di Bali bukan sesuatu yang baru.

Literatur mengenai Bali telah lama mengenal istilah “Kuta Cowboys” untuk menyebut laki-laki lokal yang menjadi pekerja seks bagi wisatawan perempuan asing.

Namun istilah “kiper” dalam penelitian Lovina mempunyai konteks sosial tersendiri.

Karena itu, tidak tepat jika seluruh laki-laki Bali yang dekat dengan wisatawan asing langsung diberi label pekerja seks.

Jurnalisme harus membedakan:

wisatawan dengan pasangan lokal ≠ pekerja seks.

pemandu wisata ≠ kiper.

pertemanan ≠ transaksi seksual.

Yang menjadi pekerja seks adalah ketika terdapat pertukaran jasa seksual dengan imbalan tertentu.

Uang Cepat, Status Sosial dan Maskulinitas

Penelitian di Lovina menemukan bahwa motif ekonomi bukan satu-satunya aspek yang muncul.

Ada dimensi sosial dan psikologis.

Dalam kajian tersebut, keberadaan banyak pasangan dan transaksi dapat dipandang sebagian informan sebagai sumber kebanggaan.

Fenomena itu menarik karena memperlihatkan bagaimana maskulinitas, uang, pariwisata dan relasi kuasa dapat saling bertemu.

Wisatawan asing datang membawa daya beli yang relatif lebih tinggi.

Laki-laki lokal kemudian berada dalam posisi yang paradoks:

secara ekonomi ia bisa berada pada posisi yang lebih lemah, tetapi melalui hubungan seksual dengan wisatawan asing ia dapat memperoleh uang, barang, jaringan sosial atau bahkan hubungan jangka panjang.

Di titik itulah muncul pertanyaan:

Apakah wisatawan asing menjadi “raja sehari”?

Atau justru laki-laki lokal merasa menjadi “raja kecil” karena memperoleh akses terhadap uang, status dan gaya hidup yang sebelumnya sulit dijangkau?

Ini bukan persoalan moral sederhana.

Ini adalah persoalan kelas sosial dan ekonomi pariwisata.

Ketika Seks Menjadi Komoditas

Penelitian Giri juga menemukan adanya transaksi jangka pendek maupun hubungan jangka panjang.

Dalam sejumlah kasus yang diwawancarai, hubungan dengan wisatawan asing tidak berhenti pada satu transaksi. Ada kontrak atau hubungan yang berlangsung selama wisatawan berada di Bali.

Bahkan penelitian tersebut mencatat adanya kemungkinan hubungan berlanjut setelah wisatawan kembali ke negaranya.

Di sinilah istilah “gigolo” atau “kiper” menjadi tidak sesederhana transaksi uang sekali pakai.

Ada unsur romansa, ekonomi, fantasi, status sosial dan ketergantungan yang dapat bercampur menjadi satu.

Kajian mengenai pekerja seks laki-laki di Bali bahkan menunjukkan adanya pekerja yang berharap memperoleh klien jangka panjang yang dapat memberikan dukungan finansial atau gaya hidup.

Tetapi Ada Harga yang Tidak Kelihatan

Di balik uang dan gaya hidup, terdapat persoalan kesehatan masyarakat.

Dinas Kesehatan Provinsi Bali mencatat bahwa secara kumulatif sejak 1987 hingga September 2024 terdapat 31.361 kasus HIV/AIDS, terdiri dari 19.589 kasus HIV dan 11.772 kasus AIDS. Laki-laki tercatat 20.044 kasus dan perempuan 11.317 kasus.

Buleleng sendiri tercatat sebagai salah satu wilayah dengan jumlah kasus kumulatif terbesar di Bali, yakni 3.863 kasus hingga September 2024.

Namun angka tersebut tidak boleh secara serampangan dikaitkan seluruhnya dengan pekerja seks atau wisatawan asing.

Itulah pentingnya data.

HIV bukan identitas kelompok tertentu.

HIV adalah persoalan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan perilaku berisiko, akses tes, pengobatan, pencegahan dan jaringan penularan.

Dinas Kesehatan Bali sendiri menargetkan pengendalian epidemi melalui konsep Three Zero: nol infeksi baru, nol kematian terkait AIDS dan nol diskriminasi.

Penelitian Lama, Persoalan Belum Mati

Nama Nengah Bawa Atmadja memang muncul dalam literatur akademik mengenai fenomena “kiper” dan “wanita kiper” di Bali. Sebuah tulisan mengenai sejarah kajian sosial budaya di Bali menyebut bahwa fenomena “dakocan” dan “wanita kipper” pernah menjadi bahan penelitian para akademisi Pendidikan Sejarah Undiksha, termasuk Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja dan Prof. Dr. Luh Putu Sendratari.

Namun, WartaGlobal belum menemukan sumber primer yang dapat memverifikasi secara independen judul persis “Kiper di Pantai Lovina: Studi Sosial Budaya tentang Pria Penyedia Pelayanan Seksual di Buleleng Bali” sebagai karya Atmadja tahun 1988.

Karena itu, atribusi tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai fakta final tanpa dokumen asli.

Yang dapat diverifikasi adalah penelitian Undiksha mengenai “kiper” di Lovina yang dilakukan pada 2015–2016 dan dipublikasikan dalam konferensi kesehatan masyarakat pada 2018.

Pertanyaan Besarnya: Siapa yang Sebenarnya Menjual Apa?

Bali menjual banyak hal kepada dunia:

pantai.

budaya.

spiritualitas.

keramahan.

pengalaman.

dan gaya hidup.

Tetapi ketika tubuh manusia masuk ke dalam mekanisme transaksi pariwisata, persoalannya menjadi jauh lebih kompleks.

Karena yang dipertukarkan bukan hanya uang dengan jasa.

Ada tubuh, perhatian, fantasi, status, kebutuhan ekonomi dan relasi kuasa.

Maka jangan buru-buru menyebut fenomena “kiper” sebagai sekadar perilaku menyimpang.

Pertanyaan yang lebih tajam justru:

Mengapa sebagian orang melihat tubuhnya sebagai modal ekonomi?

Mengapa wisatawan asing dipandang memiliki daya beli dan status lebih tinggi?

Mengapa seks dapat menjadi jalan pintas menuju uang dan gaya hidup?

Dan yang paling penting:

Apakah industri pariwisata Bali hanya menjual keindahan pulau, atau diam-diam juga menciptakan pasar bagi komodifikasi manusia?

Bali tidak perlu menutup-nutupi fenomena tersebut.

Tetapi Bali juga tidak boleh menggeneralisasi seluruh wisatawan asing, seluruh laki-laki lokal, ataupun seluruh pekerja pariwisata.

Sebab pekerjaan jurnalistik bukan menghakimi.

Tugas pers adalah membongkar apa yang disembunyikan, menguji apa yang diklaim, dan memaksa data berbicara.

Dan dalam kasus “kiper”, datanya mengatakan satu hal:

fenomena itu nyata secara akademik—tetapi skalanya hari ini masih membutuhkan penelitian lapangan baru yang lebih besar, transparan dan terukur.

WARTAGLOBAL MEMBIDIK.

Bukan tubuhnya.

Tetapi sistem sosial-ekonomi yang membuat tubuh manusia dapat berubah menjadi komoditas pariwisata.

Memuat konten...