
Asmar Hi Daud
Akademisi UNKHAIR dan Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor Ilmu Kelautan UNSRAT Manado
Hal-Sel, WARTAGLOBAL.ID – Klaim bahwa perubahan warna air laut di perairan Pulau Obi merupakan "murni fenomena alam" mendapat sorotan dari Akademisi Universitas Khairun (UNKHAIR) sekaligus mahasiswa Program Doktor Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) Manado, Asmar Hi Daud. Menurutnya, kesimpulan tersebut masih memerlukan pembuktian ilmiah yang komprehensif sebelum dapat diterima sebagai fakta.
Sorotan itu disampaikan menyusul pemberitaan yang dimuat pada 3 Agustus 2026 mengenai penjelasan Guru Besar Manajemen Kesehatan Ikan Universitas Khairun yang menyatakan perubahan warna air menjadi hijau pekat bercampur noda kecokelatan di sejumlah wilayah perairan Pulau Obi disebabkan oleh blooming fitoplankton yang dipicu fenomena alam, bukan aktivitas industri pertambangan.
Asmar menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya bukan ditujukan kepada individu maupun institusi tertentu, melainkan terhadap tingkat kepastian klaim yang telah dipublikasikan kepada masyarakat.
"Dalam sains harus dibedakan secara jelas antara dugaan, hipotesis, bukti, dan kesimpulan. Menyatakan suatu fenomena sebagai 'murni' akibat alam berarti seluruh faktor lain, termasuk aktivitas manusia, telah dieliminasi melalui pembuktian ilmiah," ujarnya.
Menurutnya, secara teoritis dugaan blooming fitoplankton memang sangat mungkin terjadi. Ledakan populasi alga dapat mengubah warna air, menimbulkan bau menyengat, bahkan menyebabkan kematian ikan akibat berkurangnya kadar oksigen terlarut. Namun, keberadaan blooming tidak otomatis menjelaskan bahwa penyebabnya sepenuhnya berasal dari proses alami.
Ia menjelaskan, pertumbuhan fitoplankton dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti suhu, cahaya, salinitas, arus laut, stratifikasi perairan, hingga ketersediaan unsur hara berupa nitrogen dan fosfor. Nutrien tersebut dapat berasal dari proses alami maupun aktivitas manusia, seperti limpasan daratan, perubahan tata guna lahan, limbah domestik, pertanian, maupun kegiatan industri.
Karena itu, menurut Asmar, pertanyaan ilmiah yang seharusnya dijawab bukan sekadar apakah terjadi blooming fitoplankton, melainkan apa pemicunya, dari mana sumber nutriannya berasal, apakah terdapat kontribusi aktivitas antropogenik, spesies plankton apa yang mendominasi, serta apakah organisme tersebut menghasilkan toksin.
Ia menilai seluruh pertanyaan tersebut hanya dapat dijawab melalui penelitian laboratorium yang memadai. Pemeriksaan harus mencakup identifikasi spesies fitoplankton, penghitungan kelimpahan sel, pengukuran klorofil-a, nitrogen, fosfat, oksigen terlarut, salinitas, pH, hingga parameter kualitas air lainnya.
Asmar juga mempertanyakan klaim adanya kenaikan suhu perairan sekitar dua derajat Celsius yang disebut dalam pemberitaan. Menurutnya, angka tersebut memerlukan penjelasan metodologis, mulai dari data pembanding, lokasi dan kedalaman pengukuran, jumlah titik sampel, frekuensi pengambilan data, hingga kalibrasi alat yang digunakan.
Demikian pula dengan penyebutan fenomena El Niño. Meski kondisi iklim regional dapat mendukung terjadinya blooming fitoplankton, keberadaan El Niño tidak serta-merta membuktikan bahwa perubahan warna air di lokasi tertentu disebabkan oleh faktor tersebut tanpa didukung data oseanografi lokal.
Asmar juga menilai argumentasi bahwa kawasan industri berada di bagian selatan, sedangkan perubahan warna dominan terjadi di utara Pulau Obi, belum cukup untuk meniadakan kemungkinan adanya keterkaitan. Menurutnya, pergerakan massa air dipengaruhi arus pasang surut, angin, gelombang, bentuk pantai, kedalaman, hingga dinamika hidrodinamika yang memerlukan kajian khusus.
Ia menambahkan, pengamatan lapangan selama beberapa hari belum cukup untuk menyimpulkan tidak adanya pencemaran karena kualitas perairan bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti kondisi cuaca maupun aktivitas operasional di sekitar kawasan.
Selain itu, Asmar menilai dugaan keberadaan senyawa seperti amonia dan hidrogen sulfida yang menyebabkan bau menyengat juga harus dibuktikan melalui analisis laboratorium, bukan hanya berdasarkan pengamatan visual maupun penciuman.
Menurutnya, investigasi yang kredibel harus melibatkan pengambilan sampel di lokasi perubahan warna, titik kematian ikan, muara sungai, kawasan sekitar industri, jalur arus potensial, hingga lokasi kontrol. Analisis juga perlu mencakup parameter fisik, kimia, biologi, sedimen, logam, citra satelit multitemporal, data hidrodinamika, serta aktivitas di kawasan sebelum fenomena terjadi.
"Sains tidak menolak hipotesis blooming fitoplankton karena itu masuk akal. Namun sains juga tidak menerima lompatan dari hipotesis menjadi kepastian tanpa data yang memadai. Sampai seluruh hasil laboratorium, identifikasi fitoplankton, analisis nutrien, pemeriksaan kontaminan, dan kajian hidrodinamika dipublikasikan secara lengkap, penyebab perubahan warna perairan Pulau Obi seharusnya tetap diposisikan sebagai pertanyaan ilmiah yang masih terbuka," tegasnya.
Ia menutup dengan menekankan bahwa kehati-hatian merupakan prinsip utama dalam ilmu pengetahuan. Menurutnya, tanggung jawab akademik menuntut setiap kesimpulan didasarkan pada bukti yang kuat, transparan, dapat diuji, dan terbuka terhadap verifikasi independen demi menjaga kepercayaan publik serta kelestarian lingkungan.
Redaksi: wan

.jpg)