
IKelangkaan bahan bakar bukan sekadar persoalan antrean di SPBU. Ketika akses transportasi terganggu, aktivitas perkuliahan, biaya hidup mahasiswa, dan efektivitas pembelajaran ikut dipertaruhkan.
DENPASAR, WartaGlobal.Id
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali perlu dilihat lebih jauh daripada sekadar persoalan distribusi energi. Dampaknya berpotensi merembet ke berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan tinggi yang sangat bergantung pada kelancaran mobilitas mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.
Ketika mahasiswa kesulitan memperoleh bensin untuk menuju kampus, pilihan mengikuti perkuliahan secara daring menjadi salah satu alternatif yang mungkin ditempuh. Namun, perubahan metode pembelajaran tersebut tidak boleh dianggap sebagai solusi tunggal yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan.
Pendidikan tidak boleh menjadi korban dari terganggunya distribusi energi.
Bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari kampus, khususnya mereka yang mengandalkan sepeda motor sebagai sarana transportasi utama, kelangkaan BBM dapat menimbulkan persoalan berlapis: waktu tempuh yang tidak menentu, antrean panjang, tambahan biaya transportasi, hingga risiko terlambat mengikuti perkuliahan.
Situasi ini semakin berat bagi mahasiswa perantau dan kelompok dengan keterbatasan ekonomi. Mereka harus mempertimbangkan bukan hanya biaya bahan bakar, tetapi juga biaya makan, tempat tinggal, koneksi internet, serta kebutuhan akademik lainnya.
Daring: Solusi Adaptif, Bukan Pengganti Permanen
Perkuliahan daring dapat menjadi pilihan darurat ketika mobilitas menuju kampus mengalami hambatan. Dengan dukungan platform digital, dosen dapat menyampaikan materi, mengadakan diskusi, memberikan tugas, dan melakukan evaluasi pembelajaran tanpa mengharuskan mahasiswa hadir secara fisik.
Namun, efektivitas pembelajaran daring tidak otomatis setara dalam setiap mata kuliah dan kondisi mahasiswa.
Praktikum laboratorium, praktik klinis, kegiatan studio, pendidikan vokasi, serta pembelajaran yang membutuhkan peralatan khusus tetap memerlukan pengaturan tersendiri. Di sisi lain, tidak semua mahasiswa memiliki jaringan internet stabil, perangkat memadai, atau lingkungan rumah yang mendukung proses belajar.
Karena itu, keputusan mengalihkan perkuliahan ke sistem daring harus didasarkan pada evaluasi kondisi lapangan, karakteristik mata kuliah, kesiapan teknologi, dan kebutuhan mahasiswa.
Perguruan tinggi perlu memastikan bahwa kebijakan tersebut tidak mengurangi mutu pembelajaran ataupun menambah kesenjangan akses pendidikan.
Efek Berantai terhadap Kehidupan Mahasiswa
Dampak kelangkaan BBM dapat menjalar ke sejumlah aspek pendidikan dan ekonomi masyarakat.
Pertama, kehadiran dan ketepatan waktu perkuliahan berpotensi terganggu apabila mahasiswa tidak dapat memperkirakan waktu memperoleh bahan bakar maupun waktu perjalanan menuju kampus.
Kedua, biaya pendidikan tidak langsung dapat meningkat akibat antrean, perjalanan tambahan, atau kebutuhan membeli akses internet untuk mengikuti kelas daring.
Ketiga, produktivitas dosen dan kampus dapat terdampak apabila jadwal perkuliahan, kegiatan akademik, dan layanan administrasi harus disesuaikan secara mendadak.
Keempat, aktivitas ekonomi di sekitar kampus seperti usaha makanan, transportasi, tempat fotokopi, dan penyewaan tempat tinggal mahasiswa dapat ikut merasakan perubahan pola aktivitas.
Meski demikian, besarnya dampak tersebut harus dibuktikan melalui data kehadiran mahasiswa, kebijakan resmi kampus, survei biaya transportasi, dan keterangan pihak terkait. Tidak tepat menyimpulkan seluruh perguruan tinggi di Bali telah beralih ke pembelajaran daring tanpa verifikasi.
.jpg)