Ketika Agama Dijadikan Modus: Literasi Kritis Menjadi Benteng dari Pembodohan Publik - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

IKLAN GAMBAR

ADS

Memuat berita...

More News

logoblog

Ketika Agama Dijadikan Modus: Literasi Kritis Menjadi Benteng dari Pembodohan Publik

Sunday, October 4, 2026


Poto Istimewa 

JAKARTA, WartaGlobal.Id — Agama seharusnya menjadi jalan menuju kebenaran, keadilan, akhlak dan kemaslahatan. Namun ketika simbol kesucian, doktrin keagamaan dan sentimen umat dipakai sebagai alat memperoleh keuntungan materi maupun kekuasaan, yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar uang atau kepentingan politik, melainkan kejernihan akal sehat masyarakat.

Fenomena yang kerap disebut sebagai komodifikasi agama kembali menjadi perhatian. Persoalannya bukan pada agama, melainkan pada praktik ketika agama dijadikan kemasan untuk kepentingan tertentu, sementara umat didorong untuk menerima klaim tanpa ruang bertanya, memeriksa dan menguji kebenarannya.

Peneliti Sosial Keagamaan dari Pustake Academica, Marzilis, menilai salah satu persoalan serius muncul ketika seseorang atau kelompok mengklaim memiliki otoritas tunggal atas tafsir keagamaan dan kemudian menjadikan klaim tersebut sebagai alat mengendalikan pengikut.

“Ketika dogma atau tafsir tunggal diposisikan sebagai sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan, di situlah pembodohan massal dimulai.”

Pernyataan tersebut disampaikan Marzilis dalam peluncuran draf karya ilmiahnya di Jakarta.

Menurutnya, fanatisme yang kehilangan kemampuan berpikir kritis berpotensi membuat seseorang sulit membedakan antara iman, tafsir manusia, kepentingan kelompok dan kepentingan pribadi.

Di sinilah literasi kritis menjadi penting.

Sebab beragama secara sungguh-sungguh tidak identik dengan mematikan akal. Sebaliknya, keyakinan dan akal sehat semestinya berjalan beriringan. Klaim keagamaan tetap perlu ditempatkan secara proporsional: mana ajaran yang bersumber dari teks suci, mana tafsir ulama, mana pendapat individu, dan mana kepentingan manusia yang dibungkus dengan bahasa agama.

TIGA CELAH YANG KERAP DIEKSPLOITASI

Kajian sosio-teologis yang dipaparkan Marzilis mengidentifikasi setidaknya tiga ruang yang dapat dimanfaatkan dalam praktik manipulatif berkedok agama.

Pertama, eksploitasi emosi.

Narasi tentang keselamatan instan, ancaman spiritual, ketakutan terhadap kelompok lain atau janji kehidupan yang serba mudah dapat membuat seseorang mengambil keputusan berdasarkan emosi sebelum melakukan verifikasi.

Kedua, pelembagaan doktrin yang kaku.

Ketika sebuah lingkungan sosial sengaja ditutup dari dialog, kritik dan pengetahuan yang berbeda, ketergantungan terhadap figur atau kelompok tertentu dapat semakin kuat.

Ketiga, krisis identitas dan kondisi sosial.

Kesulitan ekonomi, keresahan moral, ketidakpastian sosial maupun kegelisahan mencari makna hidup dapat menjadi celah bagi munculnya tawaran solusi yang tampak religius, tetapi belum tentu memiliki dasar yang kuat.

JANGAN SAKRALKAN MANUSIA

Paradoksnya sederhana: agama mengajarkan manusia untuk tunduk kepada Tuhan, tetapi manipulasi agama dapat membuat manusia justru tunduk secara mutlak kepada manusia.

Di titik inilah masyarakat perlu berhati-hati.

Tokoh agama boleh dihormati. Ulama boleh dimuliakan. Guru agama layak didengar. Tetapi penghormatan tidak berarti memberikan cek kosong kepada siapa pun untuk berbicara atas nama Tuhan.

Sebab manusia tetap manusia.

Ia dapat benar, dapat keliru, dapat memiliki pengetahuan, tetapi juga dapat memiliki kepentingan.

Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri bertanya: Apa sumbernya? Apa konteksnya? Apa dasar tafsirnya? Siapa yang diuntungkan? Apakah informasi tersebut dapat diverifikasi?

Pertanyaan semacam itu bukan bentuk perlawanan terhadap agama. Justru dapat menjadi bentuk tanggung jawab dalam menjaga agama agar tidak diperalat oleh kepentingan manusia.

RELIGIUS TIDAK BERARTI ANTI-KRITIK

Literasi kritis juga tidak boleh dipahami sebagai ajakan untuk mencurigai semua tokoh agama atau merelatifkan seluruh ajaran agama.

Yang diperlukan adalah kemampuan membedakan antara kesucian agama dan tindakan manusia yang mengatasnamakan agama.

Agama berbicara tentang kejujuran, keadilan, kasih sayang, tanggung jawab dan kemaslahatan. Karena itu, ukuran sederhana terhadap sebuah gerakan keagamaan bukan semata-mata seberapa sering ia menggunakan simbol Tuhan, tetapi juga seberapa jauh nilai moral yang dikhotbahkannya diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Jika sebuah ajaran berbicara tentang kejujuran tetapi praktiknya penuh kebohongan, berbicara tentang keadilan tetapi membenarkan kesewenang-wenangan, atau berbicara tentang persaudaraan tetapi terus memproduksi kebencian, publik berhak bertanya.

Bertanya bukan berarti menghina agama.

Bertanya adalah bagian dari menjaga akal sehat.

Pada akhirnya, agama tidak membutuhkan manipulasi untuk menjadi mulia. Yang membutuhkan manipulasi justru manusia yang ingin menjadikan agama sebagai kendaraan kepentingan.

Karena itu, penguatan pendidikan agama harus berjalan bersama dengan pendidikan nalar, literasi informasi, kemampuan verifikasi dan keterbukaan terhadap dialog.

Iman memberi arah. Akal membantu membaca jalan. Akhlak menjadi pembuktiannya.

Dan ketika agama benar-benar ditempatkan sebagai jalan menuju Tuhan, maka umat tidak seharusnya dibentuk menjadi manusia yang takut berpikir, melainkan manusia yang berani mencari kebenaran dengan iman, ilmu dan tanggung jawab.

WartaGlobal.Id — Agama jangan dijadikan dagangan. Kesucian jangan dijadikan kendaraan kepentingan. Dan umat jangan dibiarkan menjadi objek pembodohan atas nama Tuhan.

Memuat konten...