FFU WartaGlobal Bidik KEJI! 9 PEREMPUAN MAYORITAS DI BAWAH UMUR DIBAWA PAKSA KELOMPOK BERSENJATA DI JILA — SATU IBU DITEMBAK, SATU DIBUANG KE JURANG - Warta Global Indonesia

Mobile Menu

IKLAN GAMBAR

Dirgahayu RI

ADS

Memuat berita...

More News

logoblog

FFU WartaGlobal Bidik KEJI! 9 PEREMPUAN MAYORITAS DI BAWAH UMUR DIBAWA PAKSA KELOMPOK BERSENJATA DI JILA — SATU IBU DITEMBAK, SATU DIBUANG KE JURANG

Thursday, August 20, 2026


PotoKetika perempuan sipil dan anak-anak menjadi sasaran kekerasan serta dibawa secara paksa, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya keamanan pos aparat. Yang dipertaruhkan adalah keselamatan manusia.

Mimika, Papua Tengah — WartaGlobal.Id

Kemerdekaan seharusnya berarti rakyat bebas dari rasa takut. Namun di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia justru diwarnai darah, penembakan dan dugaan penyanderaan warga sipil.

Pada Senin, 17 Agustus 2026, terjadi penyerangan terhadap pos TNI di Jila. Dalam insiden tersebut, Pratu Rizki Kurniawan, anggota Yonif 133/Yudha Sakti, gugur setelah terkena tembakan. Dua prajurit lainnya dilaporkan mengalami luka. Serangan disebut terjadi dari tiga arah sekitar pukul 08.12 WIT.

Namun tragedi tidak berhenti pada kontak senjata.

Setelah kelompok bersenjata mundur, warga melaporkan adanya perempuan yang dibawa secara paksa. Dandim 1710/Mimika Letkol Inf Jozanda menyebut terdapat sembilan perempuan yang dibawa paksa, termasuk anak-anak yang masih duduk di kelas III, IV dan VI SD, perempuan berusia 18 tahun, serta seorang remaja 17 tahun yang dilaporkan sedang hamil muda.

Yang lebih mengerikan: seorang ibu ditembak

Menurut keterangan Dandim , dua ibu berusaha mencegah anak-anak mereka dibawa paksa.

Salah satunya, Neregingget Magai (48), dilaporkan ditembak hingga meninggal dunia.

Seorang ibu lainnya, Inkolung Aim, dilaporkan didorong atau dibuang ke jurang hingga mengalami patah kaki dan kemudian menjalani perawatan di Jila.

Inilah titik yang tidak boleh dianggap sebagai sekadar "insiden keamanan".

Ketika perempuan sipil dan anak-anak menjadi sasaran kekerasan serta dibawa secara paksa, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya keamanan pos aparat. Yang dipertaruhkan adalah keselamatan manusia.

9 perempuan: mayoritas masih anak-anak

Informasi yang disampaikan aparat menyebut sembilan perempuan yang dibawa paksa antara lain:

  • Nemerina Wamang (17), dilaporkan sedang hamil muda;
  • Alin Mesawarol, siswi kelas VI SD;
  • Nopi Aim, siswi kelas IV SD;
  • Opinte Meswaro, siswi kelas III SD;
  • Yonita Senawatme (18);
  • Meria Nibilingame (15);
  • Wena Katagame (18);
  • Ilimin Onawame (18);
  • Miante Nibilingame (13).

Daftar dan kondisi masing-masing korban tetap harus diverifikasi kembali oleh aparat serta keluarga korban karena situasi di Jila masih menyulitkan komunikasi dan akses. ANTARA melaporkan Kapolres Mimika AKBP Alfredo Agustinus Rumbiak membenarkan informasi mengenai sembilan perempuan yang dibawa paksa dan menyebut sebagian besar korban berusia 13–17 tahun. Salah seorang dilaporkan sedang hamil.

FFU WartaGlobal memberi catatan keras: jangan kaburkan korban sipil

Ada kecenderungan berbahaya dalam pemberitaan konflik Papua: angka korban berhenti sebagai statistik.

Satu prajurit gugur menjadi angka.

Satu ibu ditembak menjadi angka.

Satu perempuan dilempar ke jurang menjadi angka.

Sembilan perempuan dibawa paksa menjadi angka.

Padahal di balik angka tersebut ada manusia. Ada ibu. Ada anak sekolah. Ada keluarga yang sekarang menunggu tanpa kepastian.

Karena itu, kasus Jila harus dilihat bukan hanya dari perspektif "OPM menyerang TNI", tetapi juga dari pertanyaan yang lebih mendasar:

Siapa yang melindungi warga sipil ketika kelompok bersenjata datang membawa senjata?

Ada persoalan penting dalam atribusi pelaku

FFU WartaGlobal juga mencatat satu hal yang tidak boleh dilewati media.

Sejumlah pemberitaan menyebut pelaku sebagai OPM atau kelompok bersenjata yang terkait OPM. Namun Dandim 1710/Mimika Letkol Inf Jozanda menyatakan identitas kelompok yang membawa sembilan perempuan tersebut masih diselidiki. Ia bahkan menyebut kelompok itu diduga kelompok baru karena bahasa yang digunakan berbeda dengan masyarakat setempat.

Karena itu, secara jurnalistik, penyebutan "kelompok bersenjata yang diduga terkait OPM" lebih aman sampai aparat memastikan identitas kelompok dan rantai komandonya.

Ini bukan untuk melemahkan kecaman.

Justru sebaliknya.

Tuduhan yang serius harus berdiri di atas fakta yang serius.

Pertanyaan besar untuk aparat

Aparat menyatakan telah melakukan pengejaran terhadap kelompok yang membawa paksa sembilan perempuan tersebut. Situasi Jila dilaporkan berangsur kondusif, tetapi akses transportasi menuju wilayah itu masih menghadapi kendala.

FFU WartaGlobal menilai ada sedikitnya lima pertanyaan yang harus dijawab secara terbuka:

Pertama, bagaimana kelompok bersenjata dapat menyerang pos dari beberapa arah pada wilayah yang sedang berada dalam pengamanan?

Kedua, bagaimana sembilan warga perempuan dapat dibawa keluar dari permukiman setelah kontak senjata?

Ketiga, bagaimana sistem perlindungan terhadap anak-anak dan perempuan sipil di wilayah konflik berjalan?

Keempat, apa langkah konkret pemerintah untuk memastikan sembilan korban ditemukan dalam keadaan selamat?

Kelima, siapa yang bertanggung jawab apabila ditemukan bukti bahwa warga sipil sengaja dijadikan sandera atau alat tawar dalam konflik bersenjata?

Pertanyaan tersebut bukan untuk menyudutkan aparat.

Justru karena negara memiliki kewajiban melindungi warga sipil, maka negara harus ditagih jawabannya.

Kekerasan terhadap sipil bukan perjuangan

Apapun klaim politik kelompok bersenjata, membawa paksa anak-anak dan perempuan sipil, menembak warga yang berusaha melindungi keluarganya, atau melempar seseorang ke jurang tidak dapat dibenarkan sebagai tindakan yang manusiawi.

Perjuangan politik tidak memperoleh legitimasi dari darah anak-anak.

Identitas politik tidak menghapus kemanusiaan.

Dan senjata tidak pernah memberikan hak kepada siapa pun untuk menjadikan warga sipil sebagai sandera.

Jika seluruh laporan tersebut terbukti melalui penyelidikan, maka persoalannya bukan lagi sekadar "siapa menang dalam kontak tembak".

Persoalannya adalah:

apakah hukum masih mampu melindungi rakyat yang tidak membawa senjata?

Kemerdekaan macam apa jika anak-anak masih disandera?

Indonesia baru saja memperingati 81 tahun kemerdekaan.

Di banyak tempat, Merah Putih berkibar.

Namun di Jila, keluarga korban justru menunggu kabar anak-anak mereka yang dibawa paksa.

Kontras ini terlalu pahit untuk ditutup dengan seremoni.

Kemerdekaan bukan hanya kemampuan mengibarkan bendera. Kemerdekaan harus berarti seorang ibu dapat melindungi anaknya tanpa ditembak, seorang anak dapat bersekolah tanpa diculik, dan warga sipil dapat tidur tanpa takut kelompok bersenjata datang membawa senjata.

@FFU WartaGlobal mendesak pemerintah, TNI-Polri dan seluruh pihak yang memiliki akses di wilayah tersebut untuk memprioritaskan keselamatan sembilan perempuan, terutama korban yang masih anak-anak, serta memastikan proses pencarian dilakukan dengan memperhatikan keselamatan warga sipil.

Publik juga berhak mendapatkan informasi perkembangan operasi penyelamatan secara terukur—tanpa membuka informasi taktis yang dapat membahayakan korban maupun personel.

Sebab satu hal harus menjadi garis merah:

ANAK-ANAK DAN WARGA SIPIL BUKAN PAHLAWAN PERANG. MEREKA BUKAN SANDERA POLITIK. MEREKA MANUSIA YANG WAJIB DILINDUNGI.

FFU WartaGlobal Bidik — ketika kekerasan menyasar rakyat, pers tidak boleh hanya menghitung korban. Pers harus bertanya: siapa yang melindungi mereka?.*Netti

Sumber riset:  

keterangan Kapolres Mimika AKBP Alfredo Agustinus Rumbiak;

 keterangan Dandim 1710/Mimika Letkol Inf Jozanda; 

laporan mengenai serangan terhadap Pos Jila; 

serta pemberitaan Media mengenai gugurnya Pratu Rizki Kurniawan.

Memuat konten...