
Poto Istimewa,netti
Jakarta – WartaGlobal
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut bahwa "ilmu ekonomi jangan dianggap ilmu dewa" memantik perhatian luas. Di saat yang hampir bersamaan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru terkoreksi sekitar 1,75 persen, memunculkan beragam spekulasi di kalangan pelaku pasar mengenai sentimen yang sedang berkembang.
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa ekonomi pada dasarnya merupakan ilmu yang sederhana dan harus berpihak pada kepentingan rakyat, bukan sekadar teori yang hanya dipahami segelintir kalangan. Pesan tersebut menekankan pentingnya pengelolaan kekayaan negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat.
Namun, pasar modal memiliki logika yang berbeda. Investor tidak hanya mencermati pidato politik, tetapi juga membaca arah kebijakan fiskal, moneter, stabilitas regulasi, hingga prospek pertumbuhan ekonomi. Karena itu, mengaitkan penurunan IHSG semata-mata dengan satu pernyataan Presiden merupakan kesimpulan yang belum dapat dibuktikan.
Analis pasar umumnya menilai pergerakan IHSG dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan global. Sentimen suku bunga, arus modal asing, harga komoditas, nilai tukar rupiah, hingga aksi ambil untung investor dapat menjadi penyebab yang jauh lebih dominan dibandingkan satu pidato politik.
Meski demikian, momentum ini menunjukkan satu fakta penting: setiap pernyataan kepala negara mengenai ekonomi kini mendapat perhatian luar biasa dari pelaku pasar. Komunikasi pemerintah menjadi bagian dari sentimen yang mampu memengaruhi ekspektasi investor, meski bukan selalu menjadi penyebab utama pergerakan indeks.
Bagi pemerintah, tantangan berikutnya bukan sekadar menyampaikan narasi optimistis, tetapi memastikan bahwa pesan tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan yang konsisten, terukur, dan mampu meningkatkan kepercayaan dunia usaha. Pasar modal pada akhirnya lebih percaya kepada kepastian kebijakan daripada retorika.
Penurunan IHSG sebesar 1,75 persen pada hari yang sama patut dicermati sebagai sinyal kehati-hatian pasar. Namun, hingga saat ini belum terdapat bukti empiris yang menyatakan bahwa koreksi tersebut terjadi secara langsung akibat pidato Presiden Prabowo. Korelasi waktu tidak selalu berarti hubungan sebab-akibat.*Netti

.jpg)